Berita » Menyongsong Mandiri Benih Kedelai di Sulut

Konon, petani Sulawesi Utara (Sulut) antusias menanam kedelai pada awal dilepasnya varietas Orba hingga Wilis. Perjalanan waktu, kedua varietas tersebut terserang berat penyakit krupuk, istilah petani, karena daunnya menyerupai kerupuk (virus daun), akibatnya kedelai berangsur-angsur tidak dibudidayakan.

Tiga tahun terakhir, melalui berbagai program pengembangan kedelai dari Dinas Pertanian Provinsi Sulut dan BPTP Sulut, beberapa lokasi mulai menanam kedelai kembali. Termasuk, pada tahun 2015, BPTP Sulut melakukan kegiatan Mandiri Benih dan produksi benih kedelai dari UPBS BPTP Sulut.

Prof. Marwoto dan Muchlish Adie (Balitkabi), 26–29 Juli 2015, melakukan pendampingan terhadap kegiatan Upsus dan Mandiri Benih kedelai yang dilakukan oleh BPTP Sulut.Pendampingan diawali lewat diskusi dengan Kepala BPTP Sulut beserta penanggung jawab kegiatan (Ir. Yenny Tamburia MS), terutama yang menyangkut kemajuan kegiatan dan rencana tindak lanjut.

Pada kesempatan tersebut diserahkan tiga publikasi kedelai (teknologi produksi akabi, hama penyakit, dan deskripsi varietas kedelai) dari Balitkabi masing-masing sebanyak 150 buku. Menurut Kepala BPTP Sumut, program GP PTT kedelai seluas 24.000 ha.

Benih masih didatangkan dari luar Sulut, harapan mengatasi ketersediaan benih kedelai adalah memperkuat Mandiri Benih kedelai. Peneliti BPTP aktif mendampingi kegiatan Dinas Pertanian, sebagai narasumber, dan BPTP juga aktif melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis, termasuk yang akan dilakukan 28 Juli 2015.

Penyerahan publikasi Balitkabi kepada Kepala BPTP Sumut dan diskusi dengan Ketua Kelompok Tani Kembang Sari.Kegiatan Mandiri Benih kedelai seluas 2 ha, 1 ha merupakan proses produksi benih dan 1 ha lainnya untuk penanaman 10 varietas kedelai asal Balitkabi.

Menurut Ketua kelompok tani (Ketut) pola tanam di lahan sawah adalah padi (tanam Agustus–September) – palawija (tanam Januari) – padi (tanam April). Proses produksi benih menggunakan varietas Anjasmoro dilakukan di Desa Werdhi Agung, Dumoga Tengah, Bolmong. Penamaan dilakukan pada 7 Mei 2015, dan keragaan tanaman Anjasmoro cukup bagus.

Tinggi tanaman di atas 60 cm, jumlah polong 45–65/tanaman, dan hama penyakit relatif rendah. Dengan performa yang demikian maka varietas Anjasmoro mampu berproduksi di atas 2 t/ha. Sedangkan penanaman 10 varietas kedelai seluas 1 ha akan ditanam sekitar Agustus/September setelah hujan turun.

Tenaga kerja memang menjadi masalah, karena berkompetisi dengan cengkeh, yang diandaikan ongkos di sawah Rp100.000/hari, upah memetik cengkeh berpeluang mendapatkan 50 liter @ Rp 5.000/hari.

Menurut Ibu Yenny, hasil benih dari kegiatan Mandiri Benih akan ditangkarkan pada lokasi lain, mengikuti pola jabalsim, sehingga secara bertahap pemenuhan benih di Sulut dapat disediakan secara mandiri, tidak mendatangkan dari luar Sulut.

28-7-15a

Observasi kegiatan Mandiri Benih kedelai dari BPTP Sumut.

Observasi kegiatan Mandiri Benih kedelai dari BPTP Sumut.

MMA/AW