Berita » Merancang Dukungan Balitkabi dalam KRPL Pacitan

Kepala Balitkabi (paling kanan) berdiskusi dengan berbagai pihak: Pengrajin (kedua dari kiri dan kedua dari kanan), Sekretaris Desa (belakang) dan Teknisi BPTP (tengah, baju garis-garis)

Kepala Balitkabi (paling kanan) berdiskusi dengan berbagai pihak: Pengrajin (kedua dari kiri dan kedua dari kanan), Sekretaris Desa (belakang) dan Teknisi BPTP (tengah, baju garis-garis)

Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) mulai diimplementasikan di Dusun Jelok, Desa Kayen, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Dusun seluas 57 hektar dan dihuni oleh 156 KK ini sudah sebulan lalu mulai menggeliat menyambut penerapan KRPL. “Semua orang bekerja menata pekarangan masing-masing” kata pak Misradi Kepala Dusun Jelok yang memangku wilayah yang dijadikan Kawasan RPL. “Rumah Pangan Lestari berarti kan cukup pangan dan … lestari cukupnya …. ” yang lain menimpali dengan fasih. Komentar itu terungkap saat kunjungan Kepala Balitkabi ke lokasi 11 Februari lalu. Memang, Dusun Jelok ditetapkan sebagai kawasan Rumah Pangan Lestari, dan pada tahap awal diimplementasikan pada kawasan 16 hektar yang terdiri atas 9 hektar lahan pekarangan dan 7 hektar lahan sawah, serta melibatkan 36 KK.

Kepala Balitkabi, Dr. Moch. Muchlish Adie, menyempatkan diri untuk melihat lokasi dan berbincang dengan berbagai pihak untuk memperoleh gambaran lapangan dan kebutuhan teknologi. “Gambaran ini penting untuk merancang dukungan apa yang dapat diberikan oleh Balitkabi terhadap program KRPL ini”, tutur Pak Muchlish. Di lokasi, Dr. Muchlis selain berkoordinasi dengan Kepala Desa dan Sekdes, juga berbincang dengan PPL, pengrajin produk kedelai dan keripik ubi, dan tentu saja warga pemilik lahan sawah dan pekarangan. Warga Kawasan sangat terbuka terhadap inovasi, seperti yang dikatakan Mashuri, Kepala Desa Kayen: “Kami berterima kasih telah didampingi teknisi-teknisi dari Malang (Balitkabi), Bandung (Balitsa), Sukamandi (BBPadi), dan terutama pak Supriyanto, juga Bapak-bapak dari Jakarta. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakannya”. Supriyanto yang dimaksud adalah teknisi BPTP Jatim yang sudah tiga minggu didetasir di lokasi. Tenaga teknis dari Balai-balai komoditas termasuk Balitkabi, Balitsa, dan Balitjestro memang sudah berada di lokasi untuk mendampingi. Dari kunjungan ini diketahui bahwa warga kawasan sangat berminat untuk mengetahui teknologi-teknologi seperti: (i) varietas unggul ubi jalar orange dan ungu, (ii) varietas unggul kedelai yang sesuai untuk susu dan tempe, dan (iii) teknologi pengolahan bahan pangan lokal, khususnya ubi jalar dan bahan pangan yang selama ini kurang bernilai, seperti suweg dan garut. Oleh karena itu, selain menggalakkan penanaman ubi-ubian potensial (ganyong, talas, mbothe, garut, dll), Balitkabi juga telah menanam ubi jalar ungu dan oranye, walaupun di lahan terbatas (pekarangan). Diharapkan dari pertanaman ini nantinya dapat diperoleh bibit untuk dikembangkan di lahan sawah pada Musim Kemarau nanti. Warga juga sepakat bahwa pelatihan teknologi pengolahan pangan akan dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2011.

Lahan kurang produktif yang segera akan dimanfaatkan untuk ditanami ubi-ubian potensial (suweg, talas, dll)

Lahan kurang produktif yang segera akan dimanfaatkan untuk ditanami ubi-ubian potensial (suweg, talas, dll)

 
Kepala Balitkabi (paling kanan) berdiskusi dengan berbagai pihak: Pengrajin (kedua dari kiri dan kedua dari kanan), Sekretaris Desa (belakang) dan Teknisi BPTP (tengah, baju garis-garis)

Kepala Balitkabi (paling kanan) berdiskusi dengan berbagai pihak: Pengrajin (kedua dari kiri dan kedua dari kanan), Sekretaris Desa (belakang) dan Teknisi BPTP (tengah, baju garis-garis)

Merancang Dukungan Balitkabi dalam KRPL Pacitan

Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) mulai diimplementasikan di Dusun Jelok, Desa Kayen, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Dusun seluas 57 hektar dan dihuni oleh 156 KK ini sudah sebulan lalu mulai menggeliat menyambut penerapan KRPL. “Semua orang bekerja menata pekarangan masing-masing” kata pak Misradi Kepala Dusun Jelok yang memangku wilayah yang dijadikan Kawasan RPL. “Rumah Pangan Lestari berarti kan cukup pangan dan … lestari cukupnya …. ” yang lain menimpali dengan fasih. Komentar itu terungkap saat kunjungan Kepala Balitkabi ke lokasi 11 Februari lalu. Memang, Dusun Jelok ditetapkan sebagai kawasan Rumah Pangan Lestari, dan pada tahap awal diimplementasikan pada kawasan 16 hektar yang terdiri atas 9 hektar lahan pekarangan dan 7 hektar lahan sawah, serta melibatkan 36 KK.

Kepala Balitkabi, Dr. Moch. Muchlish Adie, menyempatkan diri untuk melihat lokasi dan berbincang dengan berbagai pihak untuk memperoleh gambaran lapangan dan kebutuhan teknologi. “Gambaran ini penting untuk merancang dukungan apa yang dapat diberikan oleh Balitkabi terhadap program KRPL ini”, tutur Pak Muchlish. Di lokasi, Dr. Muchlis selain berko
ordinasi dengan Kepala Desa dan Sekdes, juga berbincang dengan PPL, pengrajin produk kedelai dan keripik ubi, dan tentu saja warga pemilik lahan sawah dan pekarangan. Warga Kawasan sangat terbuka terhadap inovasi, seperti yang dikatakan Mashuri, Kepala Desa Kayen: “Kami berterima kasih telah didampingi teknisi-teknisi dari Malang (Balitkabi), Bandung (Balitsa), Sukamandi (BBPadi), dan terutama pak Supriyanto, juga Bapak-bapak dari Jakarta. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakannya”. Supriyanto yang dimaksud adalah teknisi BPTP Jatim yang sudah tiga minggu didetasir di lokasi. Tenaga teknis dari Balai-balai komoditas termasuk Balitkabi, Balitsa, dan Balitjestro memang sudah berada di lokasi untuk mendampingi.

Dari kunjungan ini diketahui bahwa warga kawasan sangat berminat untuk mengetahui teknologi-teknologi seperti: (i) varietas unggul ubi jalar orange dan ungu, (ii) varietas unggul kedelai yang sesuai untuk susu dan tempe, dan (iii) teknologi pengolahan bahan pangan lokal, khususnya ubi jalar dan bahan pangan yang selama ini kuran

Merancang Dukungan Balitkabi dalam KRPL Pacitan

 

Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) mulai diimplementasikan di Dusun Jelok, Desa Kayen, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Dusun seluas 57 hektar dan dihuni oleh 156 KK ini sudah sebulan lalu mulai menggeliat menyambut penerapan KRPL. “Semua orang bekerja menata pekarangan masing-masing” kata pak Misradi Kepala Dusun Jelok yang memangku wilayah yang dijadikan Kawasan RPL. “Rumah Pangan Lestari berarti kan cukup pangan dan … lestari cukupnya …. ” yang lain menimpali dengan fasih. Komentar itu terungkap saat kunjungan Kepala Balitkabi ke lokasi 11 Februari lalu. Memang, Dusun Jelok ditetapkan sebagai kawasan Rumah Pangan Lestari, dan pada tahap awal diimplementasikan pada kawasan 16 hektar yang terdiri atas 9 hektar lahan pekarangan dan 7 hektar lahan sawah, serta melibatkan 36 KK.

Kepala Balitkabi, Dr. Moch. Muchlish Adie, menyempatkan diri untuk melihat lokasi dan berbincang dengan berbagai pihak untuk memperoleh gambaran lapangan dan kebutuhan teknologi. “Gambaran ini penting untuk merancang dukungan apa yang dapat diberikan oleh Balitkabi terhadap program KRPL ini”, tutur Pak Muchlish. Di lokasi, Dr. Muchlis selain berkoordinasi dengan Kepala Desa dan Sekdes, juga berbincang dengan PPL, pengrajin produk kedelai dan keripik ubi, dan tentu saja warga pemilik lahan sawah dan pekarangan. Warga Kawasan sangat terbuka terhadap inovasi, seperti yang dikatakan Mashuri, Kepala Desa Kayen: “Kami berterima kasih telah didampingi teknisi-teknisi dari Malang (Balitkabi), Bandung (Balitsa), Sukamandi (BBPadi), dan terutama pak Supriyanto, juga Bapak-bapak dari Jakarta. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakannya”. Supriyanto yang dimaksud adalah teknisi BPTP Jatim yang sudah tiga minggu didetasir di lokasi. Tenaga teknis dari Balai-balai komoditas termasuk Balitkabi, Balitsa, dan Balitjestro memang sudah berada di lokasi untuk mendampingi.

Dari kunjungan ini diketahui bahwa warga kawasan sangat berminat untuk mengetahui teknologi-teknologi seperti: (i) varietas unggul ubi jalar orange dan ungu, (ii) varietas unggul kedelai yang sesuai untuk susu dan tempe, dan (iii) teknologi pengolahan bahan pangan lokal, khususnya ubi jalar dan bahan pangan yang selama ini kurang bernilai, seperti suweg dan garut. Oleh karena itu, selain menggalakkan penanaman ubi-ubian potensial (ganyong, talas, mbothe, garut, dll), Balitkabi juga telah menanam ubi jalar ungu dan oranye, walaupun di lahan terbatas (pekarangan). Diharapkan dari pertanaman ini nantinya dapat diperoleh bibit untuk dikembangkan di lahan sawah pada Musim Kemarau nanti. Warga juga sepakat bahwa pelatihan teknologi pengolahan pangan akan dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2011.

g bernilai, seperti suweg dan garut. Oleh karena itu, selain menggalakkan penanaman ubi-ubian potensial (ganyong, talas, mbothe, garut, dll), Balitkabi juga telah menanam ubi jalar ungu dan oranye, walaupun di lahan terbatas (pekarangan). Diharapkan dari pertanaman ini nantinya dapat diperoleh bibit untuk dikembangkan di lahan sawah pada Musim Kemarau nanti. Warga juga sepakat bahwa pelatihan teknologi pengolahan pangan akan dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2011.