Berita » Mengembangkan Penelitian Lebih Inovatif dan Produktif

rispro

Tagline Balitbangtan “Science.Innovation.Networks”harus diimplementasikan dan berada di lapang. Penguatan networking tidak hanya di ranah kemitraan di luar negeri, tetapi juga di dalam negeri. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang berada di bawah Kementerian Keuangan meluncurkan bantuan dana RISPRO (Riset Inovatif Produktif). Arahan Kepala Balitbangtan pada Raker 5–7 Desember 2013, RISPRO merupakan ajang implementasi tagline yang harus dimanfaatkan oleh peneliti Balitbangtan. Tindaklanjutnya dilakukan pembahasan awal di BPATP Bogor, 27 Januari 2014, dihadiri oleh Profesor Riset dan kepala UK/UPT Balitbangtan. Kepala Balitkabi (Dr. Didik Harnowo) dan Muchlish Adie (inventor varietas kedelai hitam) diundang dan hadir pada pertemuan tersebut. Bantuan Dana Riset Inovatif Produktif (RISPRO) diberikan untuk Kelompok Periset yang ingin mengkomersialisasikan dan/atau mengimplementasikan hasil riset sebelumnya yang telah teruji layak secara teknologi. Dengan kata lain, riset-riset yang mendapat Bantuan Dana RISPRO adalah riset yang telah terbukti secara teknologi (proven technology) dan siap memasuki tahap scaling up menuju komersialisasi/implementasi. Oleh karenanya, persyaratan penting dari Bantuan Dana RISPRO adalah kemitraan. RISPRO terdiri dari empat fokus yaitu (1) Bidang Pangan dengan prioritas pada pertanian pangan, perikanan, dan peternakan, (2) Bidang Energi dengan prioritas pada batu bara, minyak, gas, emas, bauksit, tembaga, serta energi baru dan terbarukan, (3) Bidang Tata Kelola dengan prioritas pada tata kelola keuangan dan akuntansi, organisasi dan sumber daya manusia, akuntabilitas publik, dan upaya pemberantasan korupsi, dan (4) Pembangunan ekonomi berwawasan lingkungan (eco-growth).

Pengusulan RISPRO dikoordinaskan oleh Balitbangtan melalui BPATP dan penyiapan proposalnya akan dimentoring oleh Profesor Riset. Sementara disepakati 6 usulan proposal dari Balitsereal, Balitkabi, Balitnaik, Balittanah, Balithi dan BB Pascapanen. Balitkabi mengusulkan Pengembangan kedelai hitam Detam1 untuk bahan baku industri kecap di Probolinggo. Konsep tersebut diawali oleh penelitian yang dilakukan oleh peneliti teknologi pangan Balitkabi yaitu Ir. Erliana Ginting M.Sc yang melakukan uji kelayakan kedelai hitam untuk bahan baku kecap di perusahaan kecap di Probolinggo, dan penelitian tersebut direspon posiitif oleh perusahaan kecap. Hanya masalahnya, di mana mendapatkan bahan baku kedelai hitam Detam 1 yang terbukti mampu menghasilkan kecap berkelas premium. Permasalahan tersebut selanjutnya diurai untuk dipecahkan dengan rencana usulan penelitian melalui RISPRO.

MM/AW