Berita » Minat Petani Menanam Kedelai di Tabanan Turun

tabanan

Harga jual yang tidak menarik, menggeser Kabupaten Tabanan yang semula pernah menjadi sentra kedelai di Bali, lambat laun luas areal kedelainya menurun. Penelusuran ke beberapa desa di Kecamatan Kediri Tabanan, 21 – 22 Maret 2014, masih dijumpai petani yang berminat menanam kedelai, khususnya di Desa Kaba-kaba, yang areal kedelainya pada musim tanam Maret – Juni (MK I) 2014 sekitar 179 ha. Benih kedelai masih menjadi persoalan bagi petani. Benih kedelai diperoleh dari pengrajin tempe di Kediri, yang mendapatkan biji kedelai asal Banyuwangi. Observasi lapang, daya tumbuh benih yang diperoleh dari pengrajin tempe di atas 80%. Hal ini dapat dimaklumi karena musim panen kedelai di Banyuwangi adalah pada bulan Februari dari pertanaman kedelai di lahan kering. Tentu vigor benih masih tinggi, walaupun asal usul varietasnya belum diketahui secara jelas. Terdapat dua varietas yang dominan dibudidayakan di Banyuwangi yaitu Baluran dan Anjasmoro, dan beberapa varietas lokal.

Keragaan pertanaman kedelai di Desa Kaba-kaba Kediri TabananPemupukan telah diadopsi dan diaplikasikan oleh petani penanam kedelai. Seluruh petani menanam kedelai secara sebar. Terbatasnya dan mahalnya tenaga kerja memang menjadi pertimbangan logis bagi petani untuk menanam kedelai secara sebar. Tenaga kerja umumnya didatangkan dari luar Bali dengan kisaran ongkos per hari antara Rp 80.000–85.000/hari. Hasil penelitian yang dilakukan selama ini, penanaman kedelai secara sebar akan meningkatkan kebutuhan benih hingga 70 – 80 kg/ha, lebih tinggi dari anjuran kebutuhan benih 40–50 kg/ha dengan cara tanam tugal. Yang perlu ditindaklanjuti adalah memberikan pemahaman kepada petani melakukan penanaman sebar kedelai secara merata, sehingga kebutuhan benih tidak terlalu banyak dan tanaman menyebar merata dalam satu hamparan.

MMA/EY