Berita » NTB Mandiri Benih Kedelai, Upaya Awal untuk Pertanian Bio-Industri

Sistem pertanian bioindustri berkelanjutan modern sesuai dengan Strategi Induk Pembangunan Pertaninan (SIPP) 2013-2045, adalah suatu sistem pertanian yang kembali ke alam, mengupayakan optimalisasi panen energy matahari untuk dimanfaatkan sebagai food , feed , fiber dan energy tanpa limbah (zero waste) sehingga ramah lingkungan.

Produksi benih kedelai di Nusa Tenggara Barat (NTB) sangat berpotensi dikembangkan sebagai building block model pertanian bioindustri pedesaan. NTB termasuk salah satu sentra produksi kedelai nomor tiga di Indonesia dengan luas panen rata-rata lima tahun terakhir 78.589 ha tiap tahun, dan rata-rata produktivitas 1,15 ton/ha, menghasilkan produksi rata-rata 90.288 ton/th. Salah satu kendala dalam peningkatan produksi kedelai adalah ketersediaan benih. Untuk mengatasi kelangkaan benih kedelai perlu dibangun model kemandirian benih di NTB melalui revitalisasi konsep Jalur Benih Antar Lapang dan Antar Musim (JABALSIM). Konsep ini sebenarnya sudah berjalan turun temurun, petani/penangkar sudah biasa mengerjakannya dan dapat memenuhi kebutuhan benih sesuai selera petani, namun pelaksanaannya perlu disempurnakan. Model JABALSIM benih kedelai di Bima, NTB dimungkinkan karena mempunyai agroekologi lahan kering dan lahan sawah. Kondisi lahan kering di di Desa Nggembe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima hanya cocok untuk pertanaman kedelai, sangat sesuai untuk penyediaan benih untuk ditanam di lahan sawah. Kemandirian benih melalui JABALSIM diharapkan akan menjamin ketersediaan benih, kesesuaian varietas, dan kualitas benih, karena diusahakan oleh kelompok tani sendiri. Proses produksi benih kedelai diupayakan dengan sistem budidaya ramah lingkungan. Hasil utama berupa biji kedelai untuk benih, brangkasan kedelai dapat dipakai sebagai pakan ternak dan rhizobium yang ditinggalakan sebagai penyubur lahan. Di samping itu nilai jual biji kedelai sebagai benih lebih mahal dan secara ekonomi menguntungkan. Kondisi yang seperti ini sangat potensial untuk membangun penangkaran benih kedelai dengan konsep pertanian bioindustri pedesaan. Untuk mencapai peningkatan produksi dan distribusi benih perlu revitalisasi kebijakan perbenihan: a) tingkatkan peran penangkar dan kelembagaan perbenihan, b) pengaturan tata niaga benih yang berpihak kepada penangkar, c) bantuan sarana dan prasarana untuk produksi benih, d) pembinaan penangkar, e) peningkatan peran BUMN sebagai mitra penangkar, e) dukungan penyediaan permodalan oleh perbankkan, dan f) optimalisasi dukungan pemerintah daerah melalui peningkatan sapras dan infrastruktur.

Hamparan pertanaman kedelai di lahan kering MH 2013/2014 seluas 470 ha di Kecamatan Bolo siap dipanen untuk benih di musim kemarau
di lahan sawah. Panen raya produksi benih dasar kedelai di Desa Nggembe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima oleh Bupati Bima

Prof Marwoto/AW