Berita » One Day No Rice, Why Not?

dsc_8363

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Paser Propinsi Kalimantan Timur H. Amininsyah Har, SP. MP. bersama Ir. H. Syamsudin Noor, Msi. (Sekretaris Dinas), Ir. H. Winardi, MP. (Kepala Bidang Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan) dan Heru Yulianto,SP (Kepala Seksi Konsumsi dan Pengembangan Pangan Lokal) berkunjung ke Balitkabi pada tanggal 7 Oktober 2019. Kunjungan diterima langsung oleh Bapak Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi didampingi 15 orang peneliti dari kelti ekofisiologi, plasmanutfah dan pemuliaan tanaman, proteksi, serta sosial ekonomi.

Dalam sambutannya Yuliantoro menyatakan Balitkabi merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan yang memiliki mandat melakukan penelitian untuk komoditas aneka kacang dan umbi. “Kami merasa sangat bangga mendapat kunjungan ini dan semoga kami dapat memberikan informasi sesuai dengan tujuan Bapak hadir di sini,” kata Yuliantoro, dilanjutkan dengan memperkenalkan satu per satu peneliti yang hadir.

dsc_8313

Amininsyah menyampaikan tujuan datang ke Balitkabi adalah ingin meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan wawasan dalam hal budi daya, teknologi produksi dan pengolahan hasil tanaman aneka umbi terutama ubi jalar, ganyong, garut, dan porang sebagai sumber pangan alternatif. “Di Tana Paser, pemenuhan kebutuhan pangan terutama beras hanya mampu sekitar 80-85%, sehingga perlu diupayakan sumber pangan alternatif non beras,” kata A Amininsyah. Dengan adanya wacana pemindahan ibukota Negara ke Kalimantan Timur, maka upaya peningkatan produksi pangan harus dilakukan, salah satunya adalah dengan meningkatkan produksi pangan non beras.

Di Tana Paser saat ini banyak berkembang ubi jalar lokal dengan produktivitas masih rendah yaitu sekitar 10 t/ha. Nilai jual ubi jalar cukup tinggi yaitu sekitar Rp4.000,00 hingga Rp6.000,00 per kilogram. Namun budi daya ubi jalar menemui kendala di lapang yaitu banyak terserang hama boleng, sehingga menyebabkan harga jatuh. Lebih lanjut Amininsyah menceritakan bahwa budi daya ubi jalar dilakukan di lahan kering setelah panen padi ladang. Komoditas lain yang biasa ditanam setelah padi lading adalah kedelai dan jagung.

Pemerintah Kab. Tana Paser juga telah mencanangkan program “one day no rice” yaitu setiap hari Sabtu. Hal tersebut dilakukan juga dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. “Saya sangat mengharapkan ada varietas ubi jalar yang cocok untuk dikembangkan di Tana Paser,” kata Amininsyah. Setelah menyimak paparan ubi jalar oleh pemulia ubi jalar Dr. Febria, Amininsyah menyatakan sangat tertarik dengan ubi jalar Antin 1, Antin 2, dan Antin 3.

Dalam kesempatan diskusi, Prof. Dr. Didik Harnowo mengutarakan bahwa program menggerakkan diversifikasi pangan sangatlah tepat. Untuk mengatasi kendala hama boleng, dapat dipilih varietas yang tahan. “Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan diseminasi varietas di Tana Paser,” kata Didik. Ditambahkan oleh Ir. Abdullah Taufiq, M.S., yang merasa optimis ada varietas unggul ubi jalar Balitkabi yang cocok di Tana Paser, berdasarkan pengalaman saat menangani PENAS di Kalimantan Timur tahun 2011. Dari sisi proteksi tanaman Dr. Yusmani Prayogo menambahkan, di samping varietas tahan, untuk mencegah serangan hama boleh bisa dilakukan dengan meninggikan guludan atau menggunakan mulsa.

Untuk meningkatkan nilai tambah komoditas ubi jalar maupun umbi lainnya, Ir. Erliana Ginting, M.Sc. menyampaikan perlu mencari cara paling ekonomis untuk membuat olahan dan dapat memanfaatkan UMKM untuk mengembangkannya. Ir. Fachrur Rozi, M.S. melihat dari sisi sosial ekonomi, ubi jalar sangat prospektif untuk meningkatkan daya saing dan meningkatkan pendapatan petani. Berdasarkan analisis usaha tani, nilai B/C rasio budi daya ubi jalar sekitar 2 – 3, sehingga layak untuk diusahakan.

dsc_8403

Dari aspek pengolahan produk dikemukakan oleh Dr. Joko Susilo Utomo, banyak produk olahan ubi jalar yang dapat meningkatkan citra ubi jalar. Saat ini ubi jalar bukan lagi komoditas inferior, namun sudah naik kelas menjadi makanan sajian di hotel. “Masalah terbesar di bidang pangan bukan pada teknologi, namun bagaimana caranya mengubah pola pikir masyarakat untuk konsumsi non beras dan penggeraknya adalah pemerintah, agar berhasil,” tambah Dr. Muchlis Adie.

Di akhir pertemuan Amminsyah mengatakan bahwa hasil diskusi di Balitkabi ini akan disampaikan ke pemerintah daerah untuk segera ditindaklanjuti. Yuliantoro juga menyampaikan dengan berbagai teknologi inovasi Balitbangtan diharapkan akan semakin meningkatkan daya tarik masyarakat mengkonsumsi aneka umbi sehingga ke depan aneka umbi bukan menjadi pangan inferior lagi tetapi merupakan pangan masa depan yang dapat menggerakkan ekonomi bangsa. Kepala Balitkabi juga menyerahkan berbagai publikasi yang diharapkan dapat menjadi acuan untuk meningkatkan produktivitas aneka umbi di Kab.Paser, disertai harapan semoga ke depan dapat dilakukan kerjasama pengembangan ubi jalar maupun aneka umbi lainnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kab. Paser beserta rombongan juga melihat secara langsung visitor plot ubi jalar, ubi kayu dan koleksi umbi potensial lainnya dan dilanjutkan ke laboratorium teknologi pangan. Beberapa varietas unggul aneka umbi yang dibawa dari Balitkabi diharapkan dapat beradaptasi dan berkembang di Kabupaten Paser.

KN/ FCI