Berita » Pak Tarsum, Produsen Benih Kedelai Andalan di Tanah Laut

Suasana diskusi di kediaman Pak Tarsum.

Suasana diskusi di kediaman Pak Tarsum.

Bermodal kejelian melihat peluang pasar benih, Pak Tarsum kini telah menjadi produsen benih kedelai bersertifikat andalan Dinas Pertanian Kabupaten Tanah Laut maupun Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan. Hal tersebut diungkapkan oleh Pak Tarsum saat berdiskusi dengan Prof. Dr. Didik Harnowo dan Ir. F. Rozi, M.S. (Peneliti Balitkabi) di rumahnya, Desa Kunyit, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut, Kalsel, 29 Maret 2018.

“Sebelum tahun 2007, saya sering diundang mengikuti kegiatan pertemuan di Dinas Pertanian Kabupaten maupun Provinsi, bahkan telah beberapa kali difasilitasi mengikuti acara Penas (Pekan Petani dan Nelayan Andalan Nasional)”, kata Pak Tarsum. Akhirnya Pak Tarsum berkesimpulan bahwa benih bermutu adalah komoditas yang banyak diperlukan oleh masyarakat, khususnya petani. Ia mengamati bahwa hampir setiap tahun benih bersertifikat didatangkan dari luar wilayah Tanah Laut maupun Provinsi Kalsel. “Dari situlah akhirnya saya berpikir, kenapa di Tanah Laut tidak diproduksi sendiri benih kedelai bersertifikat?”, kata Pak Tarsum.

Dengan niat dan tekad yang kuat sambil terus belajar dan belajar, serta bimbingan dan pendampingan dari BPSB, Dinas Pertanian, dan Balitbangtan (dalam hal ini BPTP Kalsel), akhirnya kini Pak Tarsum boleh dianggap sukses menjadi produsen benih kedelai bersertifikat yang diperhitungkan di wilayahnya. Menurutnya, varietas yang pertama kali diproduksi benihnya adalah Anjasmoro, yakni pada tahun 2007 dengan produktivitas 2,8 t/ha. Setelah sekitar 10 tahun kemudian, Varietas Dena 1 mulai diproduksi benihnya pada tahun 2017 dengan produktivitas 2,3–2,5 t/ha, disusul Varietas Grobogan mulai diproduksi pada tahun 2018 ini. Para petani di wilayah ini mulai menyukai Dena 1 karena produktivitasnya cukup tinggi, ruas batang pendek, dan ukuran biji besar.

Di Tanah Laut, produksi benih kedelai dapat dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada April−Juni dan Juli−September. Produksi benih pada April−Juni adalah yang paling besar (sekitar 65%), sedangkan sekitar 35% sisanya adalah pada bulan Juli−September. Selama bulan Juli−September, produksi benih kedelai umumnya dilakukan secara tumpangsari dengan jagung. Benih kedelai yang diproduksi adalah kelas BP (Benih Pokok), dengan benih sumber berasal dari Balitkabi maupun dari BPTP Kalsel. Pak Tarsum mampu memproduksi benih kedelai 50−60 ton per tahun. Harga benih kedelai yang diproduksi Pak Tarsum berkisar antara Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Ada juga produsen benih kedelai lain di Kabupaten Kota Baru, dengan kapasitas produksi sekitar 50 ton per tahun.

Contoh label benih kedelai kelas Benih Pokok.

Contoh label benih kedelai kelas Benih Pokok.

Menurut penuturannya, Pak Tarsum tidak mengalami kesulitan dalam menjual/memasarkan benihnya. Di Kalsel ada perusahaan cukup besar, yakni PT Turima yang siap menampung dan menyalurkan lebih lanjut benih kedelai bersertifikat. Selain itu juga ada PT Pertani yang siap menampung hasil benih kedelai dari wilayah ini. Selain keduanya, menurutnya, BPTP Kalsel dan masyarakat setempat adalah juga pengguna benih kedelai bersertifikat yang diproduksinya. Pak Tarsum bahkan pernah juga menjual benih kedelai bersertifikat ke provinsi lain, yakni ke Kalimantan Tengah.

Sistem produksi benih kedelai di Tanah Laut dilakukan sebagai berikut, sebagai Ketua Gapoktan sekaligus sebagai Ketua Gapokar (Gabungan Kelompok Tani Penangkar Benih), Pak Tarsum menyediakan/menyuplai benih sumber kedelai ke sekitar 30 orang petani anggotanya dan pengajuan sertifikasi benih adalah atas nama Gapokar. Di sini, contoh calon benih yang diambil oleh BPSB untuk Uji Laboratorium adalah berasal dari setiap petani anggota. Menurut Pak Tarsum, selama ini sistem ini berjalan cukup lancar.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, sasaran luas tanam kedelai di Tanah Laut pada tahun 2018 tidak berbeda jauh dengan sasaran tahun 2017, yakni sekitar 9.000 ha. Atas dasar luasan tersebut, maka kebutuhan benih kedelai bersertifikat sekitar 450 ton (asumsi kebutuhan benih kedelai adalah 50 kg per hektar), sedangkan kemampuan penyediaan secara mandiri hanya sekitar 60 ton. Meskipun produsen benih kedelai di wilayah sendiri (Kabupaten Tanah Laut) belum mampu menyediakan benih bersertifikat secara mandiri untuk wilayahnya, namun Pak Tarsum dengan jiwa enterpreneurship yang dimilikinya perlu diapresiasi. Semoga dalam waktu dekat akan ada/lahir Pak Tarsum–Pak Tarsum berikutnya guna tercapainya swasembada benih kedelai di Tanah Laut untuk mendukung percepatan swasembada kedelai nasional.

DH