Berita » Merintis Pengembangan Kedelai Hitam di Tanah Air Varietas Jayawijaya

kedelai-di-madiun

Di Kecamatan Pilangkenceng, yang terletak di sisi timur Kabupaten Madiun sejauh mata memandang, terhampar tanaman kedelai yang pertumbuhannya hampir serempak. Barangkali tidak banyak yang tahu, bahwa salah satu varietas unggul kedelai nasional di Indonesia berasal dari varietas lokal Madiun. Varietas lokal tersebut dikodekan oleh Balitkabi menjadi MLG 2675, dimurnikan, lalu dilepaslah menjadi varietas Jayawijaya dengan SK Mentan nomor 107/Kpts/TP.240/3/91pada tahun 1991. Melihat kenyataan ini, tidak berlebihan kalau Kabupaten Madiun juga menjadi pemasok kedelai nasional.

 

Begitu memasuki Desa Sumbergadu hingga desa Sumberbanteng, saat observasi pada  14 Agustus 2012, Prof. Marwoto, M. Anwari MS, dan pemulia kedelai (Muchlish Adie) langsung dihadapkan pada hamparan tanaman kedelai yang baru berumur antara 30–40 hari, tumbuh subur. Dulunya petani menggunakan varietas kedelai lokal. Juga pernah dicoba varietas lain yang oleh petani dinamakan Surya namun kelemahannya polong mudah pecah. Surya pun tidak berkembang.  Sejak empat tahun lalu, salah satu perusahaan kecap mengembangkan varietas kedelai hitam Mallika di Madiun

Pada tahun 2008 Badan Litbang Pertanian melepas dua varietas kedelai hitam namanya Detam 1 dan Detam 2. Kelebihan utama keduanya adalah kandungan proteinnya yang sangat tinggi, hingga 45%.  Mengingat potensi permintaan kedelai hitam cukup besar dan mendukung diseminasi kedelai hitam Badan Litbang dan Kementerian Pertanian, maka awal Juli 2012, Balitkabi merintis pengembangan budidaya kedelai hitam di Desa Sumberbanteng Kecamatan Pilangkenceng Madiun, pada hamparan seluas 4.5 ha. Keragaan kedelai hitam Detam 1 dan Detam 2 cukup menjanjikan produktivitasnya.

Petani pun ternyata merespons positif. Bahkan Pak Sirep, Ketua Kelompok Tani Kedung Rejeki, memperkirakan hasil kedelai Detam 2 dapat mencapai 1.70 t/ha pada luasan 0.75 ha, lebih tinggi dibanding hasil Mallika yang diperkirakan hanya mencapai 1.30 t untuk luasan 0,75 ha. Menurut Pak Yatno, Lurah Kedungbanteng, saat ini luas tanaman kedelai di desanya sekitar 60 ha, kendalanya adalah kecukupan air. Sebagian petani mengatasinya dengan membuat sumur. Kedalaman sumurnya bahkan ada yang lebih dari 130 m.  Kemarau panjang mulai dirasakan saat ini, banyak sumur yang airnya mulai berkurang.  Ketika dipancing dengan pertanyaan mengapa tidak beralih ke jagung, Pak Lurah menjawab akan tetap menanam kedelai karena biayanya sedikit dan keuntungannya lumayan.

Agar petani dan pengguna lainnya dapat melihat sendiri keragaan dan potensi hasil kedelai hitam Detam 1 dan Detam 2, juga dapat membanding sendiri dengan varietas kedelai hitam yang lain, pada akhir September 2012 akan dilakukan temu lapang. Dengan cara demikian, inovasi teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, akan segera sampai ke pengguna. Semoga berhasil.

Pak Sirep: “Detam 2 hasilnya tinggi”


Keragaan Detam 2 di Sumberbanteng (kiri) dan hamparan kedelai di Sumbergadu (kanan).

 

Diskusi di hamparan kedelai.