Berita » Partisipasi Balitkabi pada Workshop Kedelai di Palembang

palembang

Dalam rangka peningkatan produksi kedelai di Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Selatan bekerja sama dengan Direktorat Tanaman Aneka Kacang dan Umbi tanggal 18−20 Mei 2019 menyelenggarakan Workshop Penerapan Teknologi Budidaya Kedelai di Palembang. Workshop diikuti oleh 40 peserta terdiri atas: Kepala Seksi, Penyuluh dan perwakilan Kelompok Tani dari 14 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan. Pada kesempatan tersebut, Balitkabi diwakili oleh Prof. Dr. Arief Harsono, menyampaikan Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Pasang Surut, dan memandu praktek budidaya kedelai di lapangan, khususnya dalam penerapan alat tanam kedelai yang dirancang Dinas Pertanian setempat.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Arief Harsono menyampaikan bahwa untuk mendukung tercapainya kedaulatan pangan, peran lahan sub-optimal termasuk lahan pasang surut ke depan akan semakin strategis, seiring dengan terus berlangsungnya alih fungsi lahan pertanian ke sektor non pertanian. Kedelai dapat dibudidayakan pada lahan pasang surut tipe B, C dan D. Kendala pada lahan pasang surut tipe B yang utama adalah jenuh air dan kandungan pirit tinggi yang menyebabkan tanah menjadi sangat masam. Di lahan pasang surut tipe C dan D, umumnya tidak ada masalah dengan kejenuhan air. Namun di ketiga jenis lahan tersebut umumnya miskin hara N, P, K, Ca, dan Mg, pH kurang dari lima, kejenuhan Al lebih dari 20%, dan miskin biota tanah yang berperan sebagai penyubur tanah. Keberhasilan budidaya kedelai di lahan pasang surut sangat ditentukan oleh penggunaan varietas yang adaptif, amelioran tanah berupa dolomit dan pupuk kandang, serta pemberian pupuk NPK yang cukup. Penggunaan pupuk hayati Rhizobium sebagai penambat N dan bakteri pelarut P atau Mikorhiza sebagai penambang hara P yang efektif, juga dapat menghemat kebutuhan pupuk N dan P lebih dari 50% dari dosis pupuk NP rekomendasi. Khusus untuk lahan pasang surut tipe B, untuk menghindari naiknya pirit dari lapisan tanah yang lebih dalam, dapat diterapkan teknik Budidaya Jenuh Air pada sekitar 20 cm di bawah lapisan olah. Penerapan teknik budidaya tersebut pada berbagai lokasi di lahan pasang surut, telah teruji mampu memberikan hasil kedelai 2,0 hingga 3,0 t/ha dengan efisien.

Untuk mengatasi semakin langkanya tenaga kerja untuk bertanam kedelai, diperkenalkan alat tanam kedelai menggunakan hand traktor berkapasitas 6 baris. Namun pada alat tersebut masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki agar kinerjanya lebih baik. Diantaranya adalah, jarak tanam antar barisan tanaman agar dapat diatur sesuai jarak tanam yang diinginkan, konsistensi jatuhnya benih, dan perlu ditambahkannya alat penebar dan penutup pupuk.


Budidaya kedelai pada lahan pasang surut Tipe B dengan teknologi jenuh air (Gambar kiri),
dan budidaya kedelai pada lahan pangsang surut tipe C diantara tanaman kelapa sawit (Gambar kanan).


Alat tanam kedelai rakitan Dinas Pertanian dan Hortikultura Provinsi
Sumatera Selatan diperkenalkan pada peserta workshop.

AH