Berita » Partisipasi Peneliti Balitkabi dalam “Mungbean Improvement Workshop” di Thailand

Seluruh peserta mungbean improvement workshop

Seluruh peserta mungbean improvement workshop

Dua peneliti Balitkabi, Dian Adi Anggraeni Elisabeth, STP.,M.Agr.Sc. dan Ratri Tri Hapsari, S.P., M.Si. berpartisipasi dalam regional workshop yang diorganisir oleh World Vegetable Center (WorldVeg) bekerjasama dengan Kasetsart University dengan tema “Enhancing farmers’ access to improved mungbean varieties and good agricultural practices in Southeast Asia” pada 23−4 April 2019 di Kamphaeng Saen, Thailand.

World Vegetable Center (WorldVeg) atau dahulu dikenal dengan AVRDC merupakan organisasi non profit yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan tanaman sayuran. Berdiri sejak tahun 1971, Worldveg berkantor pusat di Taiwan dan memiliki beberapa kantor perwakilan di Asia dan Afrika. Komoditas legume yang menjadi portofolio dari Worldveg saat ini adalah kacang hijau dan kedelai sayur (edamame).

Mungbean improvement workshop diikuti oleh peneliti dari instansi pemerintah, universitas, pihak swasta serta lembaga internasional seperti FAO dan Syngenta Foundation for Sustainable Agriculture. Perwakilan dari tujuh negara Asia, yaitu Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Indonesia, Filipina, dan China mempresentasikan kondisi terkini mengenai produksi, plasma nutfah dan program pemuliaan kacang hijau di masing-masing negara, termasuk pemasaran, potensi pemanfaatan, serta kendala dan peluang dalam produksi dan pemasaran kacang hijau. Selain Balitkabi, peserta workshop dari Indonesia lainnya adalah PT. EWINDO yang telah melisensi varietas kacang hijau VIMA 1 pada 2018.

Peneliti Balitkabi menyampaikan dua materi, yaitu (1) Current status of mungbean utilization and potential market in Indonesia yang disampaikan oleh Dian Adi Anggraeni Elisabeth, dan (2) Status of mungbean improvement in Indonesia yang disampaikan oleh Ratri Tri Hapsari. Dalam presentasinya, Dian menyampaikan tentang kondisi konsumsi pangan di Indonesia, produksi kacang hijau, pemanfaatan dan potensi pemasaran kacang hijau, kendala dalam produksi dan pengembangan pasar kacang hijau, serta peluang kerjasama R & D antara Badan Litbang Pertanian dengan Worldveg. Secara garis besar dipaparkan bahwa kacang hijau bersama kedelai dan kacang tanah adalah aneka jenis kacang utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia, sumber protein tinggi dengan harga terjangkau sehingga sesuai dengan program pemerintah dalam mengatasi masalah stunting di Indonesia.

Produsen utama kacang hijau di Indonesia adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan. Setiap daerah tersebut mempunyai preferensi yang berbeda terhadap varietas kacang hijau. Demikian pula setiap varietas kacang hijau mempunyai karakteristik fisik dan kimia yang mempengaruhi pemanfaatannya untuk industri pangan. Tren konsumsi pangan masyarakat yang telah banyak beralih ke pangan dan minuman olahan menyebabkan penurunan rata-rata konsumsi langsung kacang hijau masyarakat Indonesia dari 0,37 kg/kapita/tahun pada 2008 menjadi 0,14 kg/kapita/tahun. Saat ini pengguna terbesar kacang hijau adalah industri (56%), baik pangan maupun non-pangan. Ratri dalam presentasinya menyampaikan potensi kacang hijau dari aspek budi daya, preferensi konsumen, prioritas pemuliaan kacang hijau dan kegiatan penelitian yang sedang berjalan, plasma nutfah kacang hijau, varietas yang telah dirilis beserta keunggulannya, kendala dalam pemuliaan kacang hijau, serta distribusi benih kacang hijau di Indonesia.

Beberapa isu penting yang dijadikan prioritas penelitian dalam program pemuliaan kacang hijau di beberapa negara Asia Tenggara dan China adalah produksi tinggi (2,0−2,5 t/ha), umur genjah dan masak serempak (synchronous maturity), ketahanan terhadap cekaman biotik (Cercospora, Powdery mildew, Thrips, Maruca, MYMD), toleran terhadap cekaman abiotik (salinitas, tanah masam, genangan) dan peningkatan kualitas biji (ketahanan terhadap hama gudang, tinggi kandungan pati dan asam folat, serta biji yang mudah lunak jika dimasak).

Dalam kegiatan workshop juga dilakukan kunjungan ke demplot galur kacang hijau dari WorldVeg, Kasetsart University, dan Chai Nat Research Center. Di akhir acara, disepakati untuk membangun jaringan International Mungbean Improvement Network (IMIN) yang telah terbentuk dengan dana dari proyek ACIAR meliputi Australia, Bangladesh, Myanmar, dan India. Keanggotaan IMIN akan diperluas untuk mencakup semua negara yang hadir dalam workshop tersebut.

Kunjungan lapang ke demplot galur kacang hijau di Kasetsart University

Kunjungan lapang ke demplot galur kacang hijau di Kasetsart University

RTH/DAAE