Berita » Balitbangtan Kawal Peningkatan Produksi Pangan di Madagaskar

Republik Madagaskar adalah negara tropis yang mempunyai dua musim yang sama dengan Indonesia, yaitu musim kering (dingin) dimulai pada bulan Mei-Oktober, dan musim hujan (panas) diawali sekitar Oktober hingga April. Ada tiga kelompok iklim, yaitu iklim tropis khususnya daerah pantai, temperate di dataran tinggi dan sebagian beriklim gurun terutama Madagaskar bagian selatan. Luas total Madagaskar 587.040 km2, berupa daratan 581.540 km2 , dan perairan 5.500 km2. Di bagian tengah berupa bukit dengan ketinggian mulai dari 800 hingga 1.800 m dpl. Lebih dari 50% penduduknya (sekitar 22 juta) bergantung pada sektor pertanian walaupun untuk lahan pertanian yang tersedia hanya sekitar 5%. Potensi pertanian sangat luas, baik di lahan kering terutama di daerah/lereng bukit (sebagain besar), dan lahan sawah tanah hujan dan sawah berpengairan terbatas terutama dekat aliran sungai, dan waduk atau danau kecil. Musim tanam raya jatuh pada musim hujan bulan September/Oktober, meskipun sebagian kecil dapat menanam tanaman terutama padi sepanjang tahun. Pada bulan Mei 2014, dua orang peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi): Dr. Suharsono dan Dr. Heru Kuswantoro berangkat menuju Madagaskar dalam rangka mendukukung peningkatkan kerjasama bilateral antara Pemerintah RI dan Rep. Madagascar, masing-masing atas biaya Badan Litbang Pertanian dan Pusat Kerjasama Luar Negeri , Kementerian Pertanian RI. Kerjasama ini telah tertuang dalam Result of Discussion (ROD) yang dibahas oleh Kementan RI dan Minagri Madagascar, yang mencakup 4 butir, yaitu: (1) Demonstration Plot, (2) training, (3) Provision of equipment, dan (4) Dispatch of experts.

Kegiatan pengiriman peneliti (point d), dilakukan dua tahap. Dua peneliti Tim Pertama telah berangkat pada bulan Mei, sedang tahap kedua akan diberangkatkan tiga peneliti setelah masa tugas Tim Pertama berakhir pada bulan September. Tugas Tim Pertama, selain mempersiapkan untuk kegiatan Tim Kedua (Training dan Demplot) saat ini melakukan kajian introduksi budidaya kedelai setelah padi sawah dengan perbaikan teknologi budidaya dan varietas tanaman khususnya kedelai dan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian Madagascar. Kajian ini dilakukan karena potensi pemanfaatan lahan setelah panen padi sekitar bulan April, tersedia lahan sawah yang sangat luas dan dibiarkan kosong sampai menunggu musim hujan bulan Oktober. Tujuan kajian ini adalah untuk menunjukkan bahwa peluang pemanfaatan lahan sawah setelah padi untuk pertanian sangat besar sehingga dapat meningkatakan produktivitas lahan. Beberapa kendala yang dapat dikemukakan adalah musim dingin, keterbatasan air dan petani sebagian besar belum biasa dengan budidaya intensif. Dua kajian introduksi kelelai di lahan sawah setelah padi dengan perlakuan: Input rendah, Input sedang dan Input tinggi telah dilakukan dan telah ditanam di daerah luar kota ± 10 km dari Antananarivo.

Hamparan lahan sawah setelah padi yang kosong, warna hijau di latar belakang foto adalah gulma berdaun lebar Salvinia (water hyancinth) (kiri), lahan yang
diolah menunggu musim hujan (kanan).

Tanam kedelai di lahan sawah setelah padi (20 km dari Antananarivo) dibantu teknisi Malagasy. No. 4 dari kanan dan staf KBRI Madagaskar, No. 2
dari sebelah kanan.

Suharsono (dari Madagaskar)/AW