Berita ยป Peluang Pupuk Hayati Pelarut Fosfat

Keragaan tanaman kedelai varietas Anjasmoro perlakuan kontrol atau tanpa inokulasi dan tanpa pupuk P (1), diinokulasi bakteri pelarut P tanpa pupuk P (2) dan dipupuk 200 kg SP36/ha (5).

Penggunaan pupuk hayati pelarut fosfat (P) seperti bakteri dari genus Baccilus dan Pseudomonas terbukti dapat memobilisasi P dari bentuk tak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman. Demikian juga kombinasi penggunaan inokulan Rhizobium sebagai pengikat N dan bakteri pelarut P menghasilkan efek sinergis yang bermanfaat bagi tanaman.

Keragaan tanaman kedelai varietas Anjasmoro perlakuan kontrol atau tanpa inokulasi dan tanpa pupuk P (1), diinokulasi bakteri pelarut P tanpa pupuk P (2)  dan dipupuk 200 kg SP36/ha (5).

Kajian peneliti Balitkabi, Dra. Suryantini, di lahan masam (pH 5,5) Kabupaten Serang pada tahun 2012, menunjukkan bahwa aplikasi inokulan bakteri pelarut P yang mengandung Pseudomonas dan Bacillus sp, memperlihatkan penutupan kanopi kedelai varietas Anjasmoro yang lebih cepat dan warna daun juga terlihat lebih hijau. Di samping itu, juga mampu meningkatkan laju pertumbuhan tanaman yang dicerminkan oleh rata-rata tinggi tanaman. Penggunaan inokulan pelarut P dapat meningkatkan rata-rata tinggi tanaman yang setara dengan penggunaan pupuk SP-36 sebanyak 200 kg/ha.

Peluang positif tidak hanya tercerminkan pada pertumbuhan tanaman kedelai, tetapi juga pada perolehan hasil biji kedelai. Inokulasi bakteri pelarut P di lahan masam mampu memberikan hasil biji kedelai hingga 2,06 t/ha dan dan peningkatannya cenderung lebih tinggi (2,20 t/ha) bila dikombinasi dengan pemupukan 100 kg SP36/ha. Kajian awal ini membuktikan bahwa secara teknis bakteri pelarut P layak digunakan sebagai pupuk hayati untuk kedelai di lahan masam, walaupun dari segi kelayakan ekonomis masih perlu dikaji. Satu lagi inovasi harapan untuk mendongkrak produksi kedelai di lahan masam yang memang tersebar cukup luas di negara tercinta ini.

MMA