Berita ยป Pemanfaatan Produk Rekayasa Genetik di Indonesia

Pertumbuhan jumlah penduduk, penyempitan dan konversi lahan pertanian, perubahan iklim global menjadi masalah penting yang memengaruhi ketersediaan pangan bagi bangsa Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengoptimalkan lahan yang tersedia agar tanaman yang dibudidayakan dapat berproduksi maksimal. Salah satu upaya yang saat ini sedang diupayakan Pemerintah Indonesia adalah pengaturan tanaman hasil rekayasa genetik. Meskipun diiringi dengan perdebatan pro dan kontra, Pemerintah Indonesia akhirnya mengijinkan pemanfaatan produk hasil rekayasa genetik (PRG) dengan syarat produk tersebut benar benar aman untuk pangan, pakan, lingkungan, dan kesehatan manusia. Juga tidak mengancam keanekaragaman hayati yang ada di sekitarnya berdasarkan hasil pengujian yang sahih dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Produk hasil rekayasa genetik yang sedang diajukan kepada pemerintah untuk diuji di Indonesia adalah komoditas tanaman jagung dari Monsanto. Komoditas tersebut memiliki keunggulan tahan terhadap herbisida glifosat dan tahan penggerek busuk batang. Varietas ini disisipi dengan gen tahan glifosat dan gen bakteri turingiensis. Sebelum dikembangkan, jagung diuji oleh Kementerian Pertanian cq Badan Litbang Pertanian. Badan litbang kemudian menunjuk peneliti Balitkabi sebagai tim penguji yang diketuai oleh Dr Yusmani Prayogo. Pengujian akan dilakukan di Medan, Bogor, Malang, dan Makasar pada bulan November 2013 hingga Februari 2014. Sebelum dilakukan pengujian, Monsanto dan Balitkabi mengadakan seminar untuk membahas dan mensosialisasikan produk hasil rekayasa genetik yang akan dikembangkan di Indonesia. Workshop dilaksanakan pada Senin (18/11) di aula Balitkabi, dihadiri peserta dari BPTP Jawa Timur, Balittas, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Malang, dan Balitkabi. Nara sumber didatangkan dari Institut Pertanian Bogor (Ir. Arief Daryanto, DipAgEc, MEc, Ph.D), Kementerian Lingkungan Hidup (Sugeng Harmono), Peneliti Balitkabi Dr Yusmani Prayogo), dan Monsanto (Redi Fajar Kurniawan). Pihak Monsanto menyampaikan keunggulan produk rekayasa genetik, peneliti IPB menyampaikan tinjauan dari sisi ekonomi dan sosial budaya, staf ahli Kementerian Lingkungan Hidup menyampaikan pengaturan perijinan PRG, dan peneliti Balitkabi menyampaikan tata cara pengujian PRG di lapang. Hasil seminar menyatakan bahwa hasil penelitian sebelumnya menunjukkan PRG memiliki keunggulan dalam ketahanan terhadap herbisida dan penggerek busuk batang, masih tergolong aman terhadap lingkungan baik biota dalam tanah maupun atas tanah. Studi kasus di Filipina sebagai negara yang telah mengadopsi PRG lebih awal juga menghasilkan peningkatan produksi sangat signifikan, menurunkan biaya operasional budidaya, menurunkan kebutuhan tenaga kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sutrisno/AW