Berita » Pemuliaan Ubi Kayu dan Pentingnya Kualitas Bibit untuk Produksi Tinggi

Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementerian Pertanian RI, menyelenggarakan Webinar Singkong Berseri selama bulan Juli hingga Agustus 2021. Pada tanggal 10 Juli 2021, dilaksanakan webinar dengan topik “Pemilihan Bibit dan Pemuliaan Tanaman Singkong”. Acara webinar ini diikuti oleh sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan mulai peneliti, dosen, mahasiswa, penyuluh, pengusaha, petani, dan penggiat singkong lainnya.

Webinar menghadirkan tiga narasumber yaitu Dr. Dra. N. Sri Hartati, M.Si. (peneliti singkong Puslit Bioteknologi LIPI), Dr. Sc. Agr. Agung Karuniawan (dosen Faperta Unpad), dan Prof. Dr. Ir. Sholihin, M.Sc. (pemulia singkong Balitkabi). Acara webinar dipandu oleh Ir. Achmad Rachman M.Sc. Ph.D yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif MSI.

Upaya pemuliaan ubi kayu dalam menghasilkan varietas unggul yang dilakukan di Indonesia sudah cukup maju. Dari beberapa lembaga riset yang menangani komoditas ubi kayu dapat disarikan bahwa penelitian untuk menghasilkan varietas ubi kayu menggunakan metode konvensional maupun bioteknologi, sebagian besar fokus pada produktivitas dan kandungan pati ubi kayu yang tinggi. Pati ubi kayu menjadi fokus perbaikan varietas, karena memiliki varian produk turunan yang sangat banyak dan sangat dibutukan dalam kehidupan manusia.

Sasaran penelitian ubi kayu di beberapa lembaga riset (sumber: Kurniawan 2021)

Sasaran penelitian ubi kayu di beberapa lembaga riset (sumber: Kurniawan 2021)

Pengembangan varietas unggul ubi kayu sangat tergantung kepada ketersediaan dan kualitas bibit. Menurut Hartati, produksi ubi kayu optimal dapat dicapai dengan kualitas bibit yang baik. Kualitas bibit ditentukan oleh varietas, umur tanaman induk, cara dan lama penyimpanan bibit, bagian batang, ukuran batang, panjang stek, jumlah buku per stek, cara pemotongan, dan sudut pemotongan. Agung menambahkan bahwa untuk menghasilkan bibit dengan kualitas yang baik diperlukan: lahan subur dengan irigasi cukup dan bebas penyakit, tanam tepat waktu, pemeliharaan optimal, panen sesuai kebutuhan, jarak tanam normal atau rapat, dan dilakukan roguing untuk membuang tipe simpang. Yang tidak kalah penting terkait bibit ubi kayu menurut Sholihin adalah transportasi bibit, karena bibit ubi kayu memiliki volume yang besar dan mudah turun daya tumbuhnya.

Sholihin mengusulkan strategi pemecahan permasalahan yang dihadapi terkait bibit ubi kayu, yaitu perlu dibentuk sistem pembibitan berbasis komunitas kelompok tani dengan pendampingan dari BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih), sehingga terbentuk produsen benih binaan. Balitkabi atau lembaga penghasil varietas ubi kayu lain berfungsi sebagai pemasok benih sumber.

singong1 singkong1
Materi webinar narsum dari Balitkabi (kiri) dan sebagian peserta webinar (kanan)

KN