Berita » Pendampingan dan Bimbingan Teknis Mandiri Benih di NTB

Permasalahan substantif yang dihadapi dalam percepatan pencapaian swasembada kedelai antara lain:

  1. Alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian,
  2. Rusaknya infrastruktur/jaringan irigasi,
  3. Semakin berkurang dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian,
  4. Masih tingginya susut hasil,
  5. Belum terpenuhi kebutuhan pupuk dan benih sesuai rekomendasi spesifik lokasi, dan
  6. Lemahnya permodalan petani.

Berdasarkan permasalahan tersebut, dalam upaya peningkatan produksi pertanian untuk mendukung swasembada kedelai dan Program Jaring Pengaman Sosial, perlu dilakukan upaya-upaya khusus dan teroboson-terobosan kebijakan. Upaya peningkatan produksi kedelai dilakukan melalui peningkatan areal dan peningkatan produksi.

Upaya peningkatan produksi kedelai menuju swasembada diperlukan penyediaan benih yang cukup memadai dan harus dirancang sejak awal dari program upaya peningkatan produksi kedelai. Benih memiliki peran strategis sebagai sarana pembawa teknologi baru berupa keunggulan yang dimiliki varietas dengan berbagai spesifikasi keunggulan yakni:

  1. Daya hasil tinggi,
  2. Ketahanan terhadap hama dan penyakit yang mendukung sistem pola tanam dan program pengendalian hama terpadu,
  3. Umur genjah untuk meningkatkan indeks pertanaman, dan
  4. Keunggulan hasil panen sehingga sesuai dengan selera konsumen.

Model Desa Berdaulat Benih perlu dibangun berdasarkan Model Sistem Perbenihan Berbasis Masyarakat yang alur produksi dan distribusi benihnya disesuaikan dengan Sistem Perbenihan Nasional sebagai upaya pembinaan penangkar lokal untuk meningkatkan mutu dan ketersediaan benih untuk satu kawasan pengembangan pertanian.

Berdaulat Benih dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan benih di kawasan pengembangan secara mandiri. Untuk itu, BPTP Nusa Tenggara Barat bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) merancang Model Mandiri Benih kedelai di Kabupaten Bima dan Kabupaten Lombok Barat.

Di Kabupaten Lombok Barat, tepatnya di Desa Sesela, Kecamatan Gunungsari, telah ditanam calon benih yang terdiri dari 3 varietas pilihan petani yakni Anjasmoro, Burangrang, dan Wilis, seluas 1,25 ha untuk produksi benih pokok, yang kondisi saat ini sebagian pertanaman memasuki fase generatif atau menjelang panen dan sebagian lainnya telah di panen.

Bimbingan Teknis (Bimtek) dilakukan dengan tujuan agar panen dan prosesing benih dapat dilakukan sesuai dengan teknik prosesing pengolahan benih kedelai. Hasil binaan penangkaran benih kedelai hingga saat ini, di Gunungsari tersedia benih sebar sebanyak 6 ton dari ke tiga varietas tersebut (Anjasmoro, Burangrang dan Wilis).

Bimbingan teknis untuk produksi benih pokok dilakukan pada tanggal 5–6 Oktober 2015 di Desa Sesela, Gunungsari, Lombok Barat. Hadir dalam Bimtek sekitar 50 orang yang terdiri dari calon penangkar, petani dan kelompok tani Desa Sesela, Penyuluh, Kepala Desa, Babinsa, Bimaspol.

Sebagai nara sumber dalam Bimtek dari BPTP Dr. Awaludin dan dari Balitkabi Prof. Dr. Marwoto dan Dr. Novita Nugrahaeni. Permasalahan utama di Kabupaten Lombok Barat adalah alih fungsi lahan yang berkembang dengan pesat dan sampai saat ini di Desa Sesela tinggal 102 ha lahan sawah dan jaringan irigasi yang sudah tidak berfungsi dengan baik akibat sedimentasi, demikian kata Bapak Asmuni selaku Kepala Desa Sesela.

Sedang permasalahan umum yang terjadi di Lombok Barat hampir sama dengan permasalahan pengembangan kedelai pada umumnya yaitu: harga kedelai yang rendah, jaminan pasar kedelai yang tidak menentu, demikian kata Mantri Pertanian Gunungsari.

Pembukaan Bimtek oleh Kepala Desa dan pemateri panen serta prosesing benih kedelai Prof. Dr. Marwoto dari Balitkabi didampingi Dr. Awaludin dari BPTP NTB.

Pembukaan Bimtek oleh Kepala Desa dan pemateri panen serta prosesing benih kedelai Prof. Dr. Marwoto dari Balitkabi didampingi Dr. Awaludin dari BPTP NTB.

Peserta Bimtek dan keragaan pertanaman kedelai di Lombok Barat.

Peserta Bimtek dan keragaan pertanaman kedelai di Lombok Barat.

Karena kondisi pertanaman yang telah memasuki fase pemasakan biji dan bahkan sebagian telah dipanen, maka materi utama yang disampaikan oleh Prof. Dr. Marwoto dan Dr. Novita Nugrahaeni adalah masalah panen dan prosesing benih kedelai. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan diskusi antara Tim Balitkabi dengan Plt Kepala BPTP NTB dan staf tentang potensi dan masalah pengembangan NTB sebagai sentra perbenihan kedelai nasional.

Marwoto/NN