Berita » Peneliti Balitkabi Berpartisipasi pada APEC Food Security Training and Workshop

Permasalahan utama dalam mewujudkan ketahanan pangan di negara-negara berkembang pada umumnya adalah dikarenakan pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaannya. Permintaan yang meningkat tersebut sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya beli masyarakat dan perubahan selera.

Ketidakseimbangan pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan kapasitas produksi nasional tersebut mengakibatkan adanya kecenderungan meningkatnya penyediaan pangan nasional yang berasal dari impor. Ketergantungan terhadap pangan impor ini terkait dengan upaya mewujudkan stabilitas penyediaan pangan nasional.

Dalam rangka untuk mengatasi permasalahan ketahanan pangan dan membangun platform negara-negara anggota APEC dalam masalah ketahanan pangan, diadakan APEC Food Security Training and Workshop yang dilaksanakan di Beijing, Cina, pada tanggal 7‒9 September 2015.

Kegiatan ini disponsori oleh Cina-APEC Cooperation Fund dari Departemen Keuangan negara Cina bekerja sama dengan Agricultural Information and Institute dari Chinese Academy of Agricultural Science sebagai penyelenggara kegiatan.

Training dan workshop bertujuan membangun kapasitas peneliti muda dari negara-negara APEC untuk berkomunikasi, berbagi informasi, dan mendiskusikan metode penilaian, kebijakan, dan evaluasi dampak proyek keamanan pangan dan gizi melalui penelitian yang dilakukan maupun gagasan-gagasan baru yang dimunculkan dalam mewujudkan ketahanan pangan di masing-masing negara.

Peneliti dari Balitkabi, Rahmi Yulifianti, S.TP., berkesempatan untuk mengikuti kegiatan training dan workshop tersebut mewakili peserta dari Indonesia bersama dengan sekitar 40 peserta yang terdiri dari para peneliti dan dosen dari negara-negara anggota APEC yaitu Australia, Peru, Amerika Serikat, Cote d’Ivoire, Filipina, Bangladesh, Togo, Chili, Vietnam, Papua New Guinea, Iran, Peru, Nepal, dan Kyrgystan masing-masing satu orang dan beberapa peserta dari Cina terdiri dari peneliti, dosen dan mahasiswa.Beberapa topik yang disampaikan pada acara training dan workshop ini adalah: pengukuran ketahanan pangan, tingkat kehilangan dan limbah, rantai nilai makanan, ketahanan pangan dan kemiskinan.

Pembicara/narasumber merupakan tenaga ahli dari instansi pemerintah negara Cina, dosen ahli dari Perguruan Tinggi yang ada di Cina, Taiwan dan Australia, serta narasumber dari FAO. Training diberikan dalam bentuk teori di dalam ruangan, dimana satu materi dibagi dalam dua sesi, sesi pertama bentuk pemaparan selama 90 menit, dan sesi kedua diskusi dan tanya jawab selama 20 menit, sedangkan workshop dilakukan juga didalam ruangan dalam bentuk diskusi kelompok dengan topik visi ke depan mengatasi masalah ketahanan pangan di negara-negara anggota APEC.

Terdapat empat dimensi ketahanan pangan yang harus diperhatikan yaitu; ketersediaan, kecukupan, pemanfaatan, dan stabilitas. Oleh karena itu diperlukan adanya pengukuran ketahanan pangan yang bertujuan untuk mengetahui status ketahanan pangan saat ini meliputi tingkat, distribusi, fluktuasi, memperkirakan risiko saat ini dan masa depan, serta menentukan langkah-langkah kebijakan dalam masalah keamanan pangan.

Untuk mengatasi kehilangan hasil (kuantitas dan kualitas/nutrisi) dan limbah, rencana kerja yang akan dilakukan APEC tertuang dalam Project Multi-Years APEC yang dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu;

  1. Persiapan, penelitian, dan identifikasi dengan program membentuk jaringan, melaksanakan seminar peningkatan kapasitas personal yang terlibat dalam isu ketahanan pangan, mengidentifikasi isu-isu terkait,
  2. Melakukan penelitian terkait masalah pengurangan kehilangan hasil dan limbah dengan program merumuskan metodologi, menyiapkan toolkit, dan database studi kehilangan hasil;
  3. Melakukan aksi, dengan program mengadakan pertemuan tingkat tinggi untuk memfasilitasi dialog kebijakan, membuat laporan kebijakan, dan menyebarkan informasi hasil proyek melalui website.

Dalam penerapan food value chain, petani sebagai produsen seringkali dirugikan karena petani hanya bertindak sebagai price taker, bukan price maker. Oleh karena itu, terdapat faktor-faktor kesuksesan penerapan rantai nilai antara petani dan konsumen yaitu;

  1. Membentuk organisasi/lembaga bagi petani yang bersifat non politik dan tidak berpihak (penyedia layanan bagi anggotanya dan berorientasi pasar)
  2. Penyediaan layanan berkualitas (anggota merasa dihargai keanggotaannya)
  3. Bersifat sosial dan penerapan strategi perusahaan (memprioritaskan masyarakat)
  4. Membangun jaringan keanggotaan (untuk mengakses informasi dan ide-ide baru)
  5. Fokus pada inti bisnis (pertama untuk meningkatkan produktivitas, kedua untuk meningkatkan kapasitas pemasaran dan manajemen);
  6. Inovasi organisasi (kegiatan peningkatan nilai tambah yang tidak memerlukan biaya tinggi)
  7. Tidak berlaku slogan “one size fit all” (model yang diterapkan berdasarkan budaya lokal dan tingkat kebutuhan pemasaran dari anggota).
Foto bersama Narasumber, Peserta, dan Panitia.

Foto bersama Narasumber, Peserta, dan Panitia.

Penyampaian materi training di dalam ruangan.

Penyampaian materi training di dalam ruangan.

Diskusi kelompok dan walking knowledge.

Diskusi kelompok dan walking knowledge.

RY