Berita » Peneliti Balitkabi Ikuti Pelatihan Prevention and Control of Mycotoxins in Food and Feedstuff

eryy_2

Untuk memperluas wawasan dan pemahaman dalam hal mikotoksin dan cara pencegahannya, salah seorang peneliti Balitkabi, Eriyanto Yusnawan, PhD mengikuti the third regional training course in prevention and control of mycotoxins in food and feedstuff. Acara digelar di SEAMEO-Biotrop Bogor pada tanggal 17-22 Juni 2013. Kegiatan ini merupakan kegiatan kedua yang ia ikuti, yang pertama adalah pada tahun 2004 pada kegiatan the first regional training course pada kegiatan serupa. Peserta berasal dari beberapa negara asia, yaitu Brunei Darussalam (2 peserta), Cambodia (1 peserta), Malaysia (1 peserta), Singapore (1 peserta), Thailand (2 peserta), Vietnam (2 peserta), dan Indonesia (17 peserta). Acara dibuka resmi oleh direktur SEAMEO-Biotrop dan diikuti dengan laporan panitia penyelenggara yang disampaikan langsung oleh training course coordinator, Prof. Dr. Okky Setyawati Dharmaputra. Materi disampaikan dalam bentuk kuliah dan praktikum dan bahasa pengantar menggunakan bahasa Inggris. Beberapa narasumber merupakan scientists berkelas dunia dan mendalami mikotoksin, salah satunya adalah Dr. Hans P. van Egmond dari RIKILT-Institute of Food Safety Wageningen, The Netherlands. “Saya banyak membaca dan menyitasi tulisan Beliau untuk bahan penulisan karya ilmiah, tetapi baru kali ini dapat bertatap muka dan berdiskusi langsung, sungguh merupakan kesempatan langka” tutur Eriyanto. Pada kesempatan tersubut, Dr. Hans P. van Egmond menyampaikan materi dengan tema Mycotoxins: a continuous concern pada sesi pertama hari pertama sebelum waktu beristirahat. Tidak hanya itu saja, beliau juga menyampaikan materi tentang Risk assessment and worldwide regulations for mycotoxins dan Sampling, sample preparation and isolation of mycotoxins. Secara garis besar, Dr. Hans menyampaikan bahwa saat ini beberapa negara telah menetapkan ambang batas cemaran mikotoksin pada produk pertanian dan olahannya. Oleh karena itu, komoditas pertanian yang diperdagangkan harus mengandung cemaran mikotoksin dibawah ambang batas yang telah ditetapkan supaya bisa diterima oleh suatu negara pembeli. Hal ini diberlakukan untuk melindungi konsumen akan bahaya mikotoksin. Nara sumber lain yang menjadi pembicara adalah Prof. Dr. Okky Setyawati Dharmaputra. Beliau menyampaikan materi kuliah dengan tema: (1) Spoilage fungi in food and feedstuff, their prevention and control, (2) Fungal isolation, enumeration, and identification, (3) Aspergillus flavus infection and aflatoxin contamination in peanuts at various stages of the delivery chains in Wonogiri regency, Central Java, Indonesia. Selain itu materi tentang Overview of food mycotoxin problem in Southeast Asia disampaikan oleh Dr. Roy A. Sparringa, MAppSc. Materi biologi molekuler mengenai identifikasi jamur penghasil mikotoksin disampaikan oleh Dr. Utut Wisyastuti. Praktikum dilaksanakan setelah penyampaian materi selesai.

Dr. Hans P. van Egmond dari RIKILT-Institute of Food Safety Wageningen sedang mempresentasikan materi training (kiri) dan praktikum yang dilaksanakan selama training (kanan).

Tidak kalah menariknya, pihak swasta diberi kesempatan untuk mempresentasikan materi yang berhubungan dengan mikotoksin. PT Garudafood Putra Putri Jaya melalui videonya menjelaskan bagaimana meminimalkan kontaminasi aflatoksin pada produk kacang tanahnya, mulai dari penerimaan bahan baku hingga finishing. PT Angler memaparkan Method development and quality assurance of mycotoxin analysis. Materi disampaikan oleh Dr. Suwidji Wongso. PT Vicam mempraktekkan Determination of fumonisin in maize using quantitative strip methods/Vertu. Perwakilan PT Agilent menjelaskan Determination of aflatoxin and fumonisin using HPLC method. Training diakhiri dengan membahas rencana kedepan yang bisa dilakukan oleh masing-masing institusi peserta training dan kemungkinan menjalin networking.

Eriyanto/AW