Berita ยป Peneliti Balitkabi Ikuti FGD Modelling Diversifikasi Pangan

a-erlifocus-2

Dalam rangka pengembangan aplikasi system modelling untuk penyusunan kebijakan diversifikasi pangan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) menyelenggarakan Focus Group Discussion di Aula BPATP Bogor, 4 Februari 2013. Diskusi ini merupakan pertemuan yang pertama di luar lingkup peneliti BB Pascapanen dan BPAT yang bertanggungjawab untuk menyusun model tersebut. Diskusi dibuka dan dipandu oleh Dr. Agung Hendriadi, M.Eng. selaku Kepala BPATP, dan dihadiri oleh 16 orang peserta, peneliti dari BB Pascapanen, PSE-KP, BPATP dan Balitkabi (Ir. Erliana Ginting MSc). Peneliti dari BPATP, Bapak Agus Sumantri memaparkan latar belakang penyusunan kebijiakan tersebut berdasarkan pengertian diversifikasi pangan yang tertuang dalam UU Pangan No. 18/2012, yakni peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi, dan berimbang yang berbasis pada potensi sumber daya lokal. Indikator keberhasilan diversifikasi pangan adalah Angka Kecukupan Energi (AKE) yang nilainya 1853 Kkal untuk tahun 2012 dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebesar 75,5. Relatif rendahnya skor PPH tersebut berkaitan dengan masih tingginya konsumsi beras yang menurut data Susenas 2012 mencapai 97,63 kg/kapita/tahun dengan proporsi sekitar 60% terhadap AKE. Ditargetkan, skor PPH meningkat menjadi 93,3 pada tahun 2014 dan mencapai maksimal (100) pada tahun 2020 dengan AKE 2150 Kkal. Untuk mencapai target PPH tersebut, konsumsi beras harus diturunkan 1,5% per kapita/tahun melalui diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal.

Dr. Agung Hendriadi MEng, Kepala BPATP Bogor memanduFocus Group Discussion on Food Diversification melalui pendekatan system modeling.

Untuk pencapaian peningkatan AKE dan skor PPH tersebut, perlu dilakukan gerakan masif diversifikasi pangan melalui kebijakan yang disusun berdasarkan analisis sistem dinamik (modelling) yang secara sequence/berurutan terdiri atas tiga main model, yakni (1) Ketersediaan pangan yang antara lain dipengaruhi oleh bahan baku, kelembagaan, kebijakan, kemitraan/industri dan teknologi pengolahan; (2) Akses pangan yang dipengaruhi oleh distribusi, daya beli, dan penyebaran informasi; dan (3) Konsumsi pangan yang dipengaruhi oleh kesadaran dan preferensi konsumsi, citra pangan, daya saing, mutu dan keamanan pangan. Berdasarkan main model tersebut disusun causal loop diagram yang terdiri dari sejumlah faktor penentu yang dapat berdampak positif maupun negatif terhadap main model. Untuk itu diperlukan informasi yang bersifat kuantitiatif atau yang dapat dikuantitatifkan agar dapat menyusun model tersebut. Salah satu di antaranya adalah existing AKE untuk menghitung AKE dan skor PPH hasil simulasi percepatan diversifikasi pangan. Selanjutnya dilakukan analisis sensitivitas untuk menentukan faktor mana yang paling berpengaruh terhadap percepatan diversifikasi pangan, sehingga dapat disarankan kebijakan strategis untuk mendukung keberhasilan program tersebut. Namun saran yang bersifat operasional harus divalidasi dan diverifikasi terlebih dahulu sebelum ditetapkan menjadi suatu kebijakan. Banyak masukan yang diberikan oleh peserta diskusi untuk memperbaiki model tersebut dan faktor-faktor penentu keberhasilan diversifikasi pangan. Pada pertemuan selanjutnya, diharapkan model tersebut sudah lebih lengkap dan dapat didiskusikan dengan peserta yang cakupannya lebih luas, seperti peneliti dari BB Mektan dan Puslit Hortikultura serta institusi terkait lainnya. Secara simultan dengan perbaikan model tersebut, pengumpulan data-data pendukung sudah dapat mulai dilakukan.

Sebagian pesertaFocus Group Discussion on Food Diversification.

Contoh analisis sistem dinamik (modelling) untuk menyusun kebijakan diversifikasi pangan.

EG/AW