Berita » Peneliti Balitkabi menjadi Narasumber dalam Bimtek Strategi Pengelolaan Hama dan Penyakit Ubi Kayu

Flyer Bimbingan Teknis ProPakTani episode 71

Flyer Bimbingan Teknis ProPakTani episode 71

Indonesia termasuk empat negara besar produsen ubi kayu di dunia, sehingga produksi ubi kayu saat ini terus ditingkatkan melalui berbagai teknologi inovasi.

Tidak hanya itu, berbagai kendala dalam proses budi daya juga menjadi salah satu perhatian, salah satunya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) ubi kayu.

Dalam Bimbingan Teknis yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan pada Senin, 21 Februari 2022 mengangkat Tema “Strategi Pengelolaan Hama dan Penyakit Ubi Kayu”.

Partisipan yang hadir berjumlah 512 orang di kanal zoom, dan dihadiri oleh Ditjen Tanaman Pangan Dr. Ir. Suwandi M.Si. Dalam arahannya, Suwandi menyampaikan bahwa singkong memiliki banyak manfaat dari bagian-bagian tanamannya, tidak hanya umbi, sehingga pengembangan singkong menjadi perhatian saat ini.

Di era pandemi saat ini, ekspor produk singkong dan olahannya meningkat pesat. “Terus tingkatkan produksi dan hilirisasinya”, tegas Suwandi. Dalam bimtek ini, harapannya peserta dapat aktif mengikuti, agar dapat diterapkan dan dipraktekkan di masyarakat.

Sambutan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Dr. Ir. Suwandi M.Si.

Sambutan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Dr. Ir. Suwandi M.Si.

Bimbingan teknis ini dinarasumberi oleh Peneliti Ahli Utama dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) bidang proteksi tanaman, yaitu Ir. Sumartini, M.S. dan Dr. Yusmani Prayogo, S.P., M.Si. Kedua narasumber masing-masing menyampaikan materi terkait strategi pengelolaan penyakit pada ubi kayu dan strategi pengelolaan hama pada ubi kayu.

Sumartini menyampaikan terkait penyakit terbawa tanah dan penyakit yang menginfeksi bagian tanaman di atas permukaan tanah. Penyakit tular tanah umumnya disebabkan oleh cendawan Fusarium spp, Bottrydiplodia spp, Sclerotium spp, dan Phytopthora spp., sedangkan penyakit yang menginfeksi bagian tanaman di atas permukaan tanah, yakni antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides), Bercak coklat (Cescosporidium henningsii), hawar daun bakteri (Xanthomonas campestris pv manihotis), hawar daun blaur (Cercospora viscosae), penyakit Bercak putih (Phaeoramularia manihotis).

Pengendalian penyakit pada ubi kayu, yakni dengan pemilihan lokasi yang bebas patogen, penggunaan varietas tahan, kultur teknis dengan menjaga jarak tanam, pengaturan drainase dan guludan, penggunaan agens hayati seperti Trichoderma spp, dan penggunaan pestisida nabati dari ekstrak rimpang seperti jahe dan lengkuas, dan pestisida kimia.

Yusmani menjelaskan terkait ubi kayu, kandungan nutrisi dan manfaat, hama utama ubi kayu, bioekologi, dan pengendaliannya. Adapun beberapa hama utama yang dijelaskan adalah Tetranychus urticae Koch, Phenacocus sp, Aonidomytilus albus Watson, Aleurodiscus disperses, Bemisia tabaci Genn, Anomala cuprea / Holotrichia parallela, Captotermes spp, Locusta migratoria / Valanga spp, Erinnyis ello L, dan Spodoptera litura. Juga dijelaskan terkait pengendalian dengan Biopestisida  yang telah dihasilkan oleh Balitkabi Badan Litbang Pertanian diantaranya Bebas, Bio-Lec, dan Trichol, yang dapat diaplikasikan melalui perlakuan stek dan penambahan ZPT.

Narasumber Bimbingan Teknis ProPakTani episode 71, Ir. Sumartini, M.S. (kiri) dan Dr. Yusmani Prayogo, S.P., M.Si. (kanan).

Narasumber Bimbingan Teknis ProPakTani episode 71, Ir. Sumartini, M.S. (kiri) dan Dr. Yusmani Prayogo, S.P., M.Si. (kanan).

Bimtek diwarnai dengan diskusi aktif dari para peserta. Semoga teknologi dan inovasi Badan Litbang Pertanian, khususnya terkait pengelolaan OPT komoditas aneka kacang dan umbi, semakin banyak diterima petani dan memberikan manfaat.

EU