Berita » Peneliti Balitkabi menjadi Narasumber Pada Bimtek Peningkatan Kapasitas Penyuluh Gorontalo

Bimtek Peningkatan Kapasitas Penyuluh

Bimtek Peningkatan Kapasitas Penyuluh

Dalam rangka mendukung pengembangan pertanian di Indonesia, BPTP Balitbangtan Gorontalo mengadakan “Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Penyuluh Daerah”. Bimtek dengan tema “Semangat, Penuh Karya dan Inspiratif, Menuju Penyuluh Hebat” tersebut melibatkan para penyuluh pertanian se-Kabupaten Gorontalo. Bimtek dilakukan secara virtual, 7 April 2021.

Kegiatan Bimtek menghadirkan empat narasumber yang berasal dari Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Penyuluh Pusat BBP2TP Bogor, peneliti Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Didik Sucahyono, S.P., MP.), dan peneliti BPTP Gorontalo. Kolaborasi antara BPTP, Dinas Pertanian Daerah, dan Balai Penelitian ini diharapkan dapat lebih mengefektifkan penderasan kemajuan teknologi inovasi ke penyuluh, yang akhirnya bisa diadopsi oleh petani.

Didik Sucahyono menyampaikan materi berjudul Teknologi Budidaya Kedelai Spesifik Lokasi. Pada kesempatan tersebut dijelaskan secara rinci tentang teknologi budidaya, mulai dari persiapan tanam, tanam, pemeliharaan, hingga panen dan pasca panen kedelai di masing-masing lokasi spesifik, seperti lahan sawah, lahan kering, lahan kering masam, dan lahan pasang surut.

Fenomena bahwa Balitbangtan telah berhasil merakit varietas-varietas unggul yang secara produktivitas, ukuran biji, dan kandungan protein lebih unggul dibanding kedelai impor. Sebagai contoh varietas Detam 1, kedelai hitam ini selain ukuran bijinya sama dengan kedelai impor, juga mempunyai kandungan protein lebih tinggi (sekitar 47%) dibanding kedelai impor (sekitar 33%). Varietas Dega 1, kedelai berumur genjah (71 hari) dengan ukuran biji jumbo (23 g/100 biji), jauh lebih besar dibanding kedelai impor yang hanya berukuran rata-rata 15 g/100 biji, juga mempunyai kandungan protein yang tinggi (sekitar 37%). Varietas Devon 1, selain ukuran bijinya yang sebanding dengan kedelai impor dan kandungan protein yang tergolong tinggi (sekitar 34%), juga mempunyai kandungan isoflavon jauh di atas rata-rata kedelai pada umumnya. Ketersediaan varietas-varietas lokal yang lebih unggul dibanding kedelai impor tersebut merupakan angin segar yang memberi harapan tercapainya swasembada kedelai. Keunggulan kedelai lokal yang disertai dengan teknologi budidaya spesifik lokasi, dan ditunjang harga yang memadai, diharapkan dapat menggugah petani Indonesia yang selama ini masih tergiur dengan komoditas lain.

 

DS