Berita » Peneliti Balitkabi menjadi Narasumber Webinar Komoditas Koro Pedang

Koro pedang merupakan komoditas kacang yang jarang diketahui dan dibudidayakan di Indonesia, padahal memiliki potensi manfaat dan dapat diolah menjadi aneka pangan. Beberapa daerah di Indonesia telah memanfaatkan koro pedang sebagai pangan, contohnya sayur dari polong muda serta keripik, dan kudapan bertabur kelapa parut dari biji. Petani daerah Wonogiri (Jawa Tengah) pun telah membudidayakan koro pedang secara turun temurun.

Narasumber dari Balitkabi, Pratanti Haksiwi Putri, S.Si.

Narasumber dari Balitkabi, Pratanti Haksiwi Putri, S.Si.

Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) kembali diundang menjadi narasumber dalam webinar yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bertajuk, “Prospek Pengembangan Benih dan Produk Koro Pedang dalam Mendukung Ketersediaan Pangan Lokal”.

Materi bimtek berjudul karakterisasi plasma nutfah koro pedang yang dibawakan oleh peneliti dari Balitkabi Pratanti Haksiwi Putri, S.Si.

Materi bimtek berjudul karakterisasi plasma nutfah koro pedang yang dibawakan oleh peneliti dari Balitkabi Pratanti Haksiwi Putri, S.Si.

Koro pedang merupakan salah satu komoditas mandat Balitkabi. Pratanti Haksiwi Putri, S.Si., peneliti Balitkabi memaparkan tentang karakter plasma nutfah koro pedang dari beberapa daerah, yaitu Wonogiri (Jawa Tengah), Gunung Kidul dan Kulon Progo (DIY), serta Probolinggo (Jawa Timur). “Rata-rata hasil koro pedang dari empat daerah tersebut dapat mencapai 3-4 ton per hektar”, ujar Pratanti pada webinar yang disiarkan oleh kanal youtube Propaktani TV pada Selasa, 11 Januari 2022.

Salah satu isi pemaparan materi oleh peneliti Balitkabi yaitu karakterisasi koro pedang putih

Salah satu isi pemaparan materi oleh peneliti Balitkabi yaitu karakterisasi koro pedang putih

Dr. Ir. Heni Purnamawati, M.Sc. Agr. dari Institut Pertanian Bogor, menambahkan bahwa tanaman koro pedang relatif mudah dibudidayakan. Kemampuan beradaptasi di lahan kering merupakan salah satu keunggulan koro pedang.

Koro pedang juga dapat diolah menjadi tempe, tetapi masih terasa “prengus”-nya. “Tantangan berikutnya adalah metode pengolahan yang tepat jika ingin menjadikan koro pedang sebagai bahan baku tempe”, pungkas Heni dalam paparannya.

Salah satu isi materi narasumber Dr. Ir. Heni Purnamawati, M.Sc. Agr. yaitu potensi koro pedang sebagai bahan baku tempe

Salah satu isi materi narasumber Dr. Ir. Heni Purnamawati, M.Sc. Agr. yaitu potensi koro pedang sebagai bahan baku tempe

Bimtek daring propaktani 279 yang mengangkat tema prospek pengembangan perbenihan dan produk koro pedang

Bimtek daring propaktani 279 yang mengangkat tema prospek pengembangan perbenihan dan produk koro pedang

Peserta webinar mencapai 220 peserta, berasal dari berbagai kalangan mulai dari petani, akademisi, dan praktisi pertanian. Beberapa petani turut aktif angkat bicara dalam webinar tersebut.

Bapak Siman  yang dihadirkan oleh Dinas Pertanian Wonogiri, menyampaikan bahwa harga koro pedang konsumsi dari Wonogiri pernah menembus Rp 12.000,- tetapi saat ini terjun bebas menjadi Rp 3.000,-.

Kepastian harga dan pasar menjadi tantangan pengembangan koro pedang dari sisi hilir.

Kolaborasi sangat diperlukan dalam  pengembangan koro pedang mulai dari hulu hingga hilir. “Varietas unggul koro pedang nasional belum ada hingga saat ini, sehingga petani menggunakan koro pedang lokal”, ujar Pratanti.

Penyediaan benih dan pasar menjadi pekerjaan rumah bersama. “Analisis usaha tani koro pedang sangat  perlu dilakukan selain penyediaan benih.

Selanjutnya, kita dapat melakukan pengembangan koro pedang dengan pendekatan kawasan dan penguatan korporasi”, imbuh Kepala BPTP DIY, Dr. Soeharsono, S.Pt., M.Si.

Webinar ditutup dengan ”clossing statement” dari seluruh narasumber. Semua sepakat bahwa diversifikasi pangan dari sumber pangan lokal perlu dilakukan.

Sesi diskusi singkat pada akhir pemaparan materi oleh moderator webinar Catur Setiawan, S.TP., M.Si. (kiri) dan narasumber Pratanti Haksiwi Putri, S.Si. (kanan)

Sesi diskusi singkat pada akhir pemaparan materi oleh moderator webinar Catur Setiawan, S.TP., M.Si. (kiri) dan narasumber Pratanti Haksiwi Putri, S.Si. (kanan)

Narasumber dan petani berharap semangat ini tidak berhenti pada webinar kali ini, dan ada diskusi lebih lanjut mewujudkan hal tersebut. “Koro pedang bukan pesaing kedelai, koro pedang hanya ingin mendampingi kedelai”, ujar Bapak Kusno sebagai salah satu petani koro pedang di Gunung Kidul DIY.

PHP/AN