Berita » Peneliti Balitkabi menjadi Narasumber Webinar Propaktani Episode 441

Flyer Webinar Propaktani Episode 441

Flyer Webinar Propaktani Episode 441

Mengawali hari pertama bekerja pasca Libur Nasional dan Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri, peneliti Balitkabi kembali menjadi narasumber dalam kegiatan Webinar Propaktani Episode 441 yang berlangsung secara daring melalui kanal zoom. Tema dalam webinar ini adalah “Pengelolaan Hama dan Penyakit Porang dan Talas” yang dipaparkan oleh Dr. Ir. Yusmani Prayogo, M.Si dan Dr. Alfi Inayati, S.P., M.P.  Acara diawali dengan sambutan pembuka yang disampaikan secara langsung oleh Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Dr. Ir. Suwandi, M.Si.

Mengawali sambutannya, Suwandi menyampaikan ucapan terimakasih kepada kedua narasumber dari Balitkabi. Disampaikan juga, agar lebih bijaksana dalam budidaya porang terkait penggunaan pupuk kimiawi dan pestisida sintetik, karena porang merupakan komoditas ekspor yang memiliki protokol keamanan pangan di negara tujuan. Apabila kandungan kimia yang terpapar pada chips tinggi, maka produk kita dapat ditolak oleh negara tujuan ekspor. “Komoditas talas, saat ini mulai bangkit dan banyak dikembangkan, prospek pasar bagus. Namun, pengendalian hama dan patogen tanaman masih menjadi masalah utama, sehingga perlu disimak dengan baik materi yang akan disampaikan dalam webinar hari ini”, pungkasnya.

Sambutan Pembuka dari Dirjen Tanaman Pangan Dr. Ir. Suwandi, M.Si.

Sambutan Pembuka dari Dirjen Tanaman Pangan Dr. Ir. Suwandi, M.Si.

Yusmani Prayogo sebagai narasumber pertama memaparkan terkait “Pengelolaan Hama dan Penyakit Tanaman Talas “Bentul”. Dipaparkan bahwa faktor pemicu munculnya hama dan patogen diantaranya musim tanam, keragaman waktu tanam di lapang, cuaca panas (yang memicu produksi hormon perkembangbiakan serangga, jumlah telur/keturunan hama, siklus hidup hama lebih pendek), dan resistensi akibat cekaman lingkungan. Dijelaskannya hama dan patogen pada tanaman talas diantaranya adalah kutu daun (Aphis gossypii), ulat pemakan daun (Heppotion calerino), ulat tanduk (Agrius convolvuli), serangga pengisap (Torophagus proserpina), tungau merah (Tetranychus cinnabarinus), kutu kebul (Bemisia tabaci), dan ulat grayak (Spodoptera litura). Sedangkan patogen yang menginfeksi pada tanaman talas adalah Phytophthora colosiae (penyebab penyakit hawar daun), Sclerotium rolfsii (penyebab penyakit layu/busuk pangkal, Rhizoctonia solani (penyebab penyakit busuk umbi/hawar daun), dan Fusarium sp (penyebab penyakit layu Fusarium). Adapun pengelolaan hama dan patogen yang ditawarkan, yakni dengan kultur teknis, biologis, pestisida nabati (mimba, cengkeh, tembakau, bengkuang, piretrum, tuba, kecubung, tembelekan, bawang putih dan bawang merah, sirih, sirsak, srikaya, mindi, jeringau, mahoni, dan lainnya), dan agens hayati (Trichoderma spp., Beauveria bassiana, Lecanicillium lecanii, dan Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus).

Pemaparan materi oleh Dr. Ir. Yusmani Prayogo, M.Si. (kiri) dan Dr. Alfi Inayati, S.P., M.P. (kanan)

Pemaparan materi oleh Dr. Ir. Yusmani Prayogo, M.Si. (kiri) dan Dr. Alfi Inayati, S.P., M.P. (kanan)

Alfi Inayati memaparkan materi dengan judul “OPT Porang: Antisipasi Budi Daya Intensif Porang di Luar Habitat Alaminya”. Disampaikan bahwa saat ini pengembangan budi daya porang tidak hanya dilakukan di habitat alami (di bawah naungan), namun juga di lahan terbuka, sehingga memicu masalah baru khususnya hama dan penyakit pada tanaman porang. Adapun 6 hama dan 20 patogen potensial pada tanaman porang diantaranya adalah ulat grayak (Spodoptera litura), ulat tanduk (Hippotion Celerio, Sphinx phoenix), kutu putih (Mealy bug), aphid (sebagai vektor virus), sedangkan patogen potensial adalah Sclerotium rolfsii, Sclerotium sp., Cercospora sp., Fusarium sp, Colletotrichum siamense, Pseudomonas stutzeri, Bacillus altitudinis, Seratia nematodiphila, Cedecea neteri, Rhizoctonia sp, Botrytis Cinerea, Phythium aphanidermatum,  Pectobacterium carotoforum dan P. Chrysanthemi.

Selain itu, dipaparkan juga mengenai kunci pengelolaan hama dan patogen, yakni identifikasi yang akurat dan informasi distribusi penyakit, pemahaman genetika porang, dan strategi pengendalian hama dan patogen. Pengendalian hama dan patogen porang dapat dilakukan melalui pembersihan lahan, pemilihan bahan tanam bebas patogen, jarak tanam yang tepat, pembuatan drainase, eradikasi tanaman sakit, dan aplikasi jamur antagonis (Bacillus thuringiensis, Trichoderma spp), dan penggunaan pestisida nabati. Ditekankan juga bahwa penanganan pasca panen sangat penting, diantaranya memilih waktu panen dan penanganannya yang tepat (menghindari penumpukan hasil panen), sehingga penularan patogen dari umbi yang sakit ke umbi sehat dapat diminimalisir.

Webinar yang dihadiri 360 partisipan dari berbagai kalangan ini berjalan sangat aktif, dengan diskusi dan pertanyaan yang diajukan oleh peserta yang terdiri dari penyuluh, pengusaha, peneliti, akademisi, dan praktisi di bidang pengembangan porang. Semoga ilmu dan pengalaman yang dibagikan kedua peneliti Balitkabi dapat bermanfaat bagi petani dalam pengembangan porang di Indonesia.

EU