Berita » Peneliti Balitkabi Menjadi Narasumber Webinar Propaktani: Koro Pedang Komoditi Potensial

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan kembali menghadirkan bimbingan teknis (bimtek), sosialisasi, dan pelatihan dalam bentuk webinar “Propaktani”. Empat dari 12 topik yang diangkat adalah komoditas pangan lokal, meliputi kacang dan umbi potensial (underutilized crop). Webinar “Propaktani” yang diselenggarakan tanggal 5 Oktober 2021 bertopik “Koro Pedang Komoditas Potensial”. Ir. Trustinah, M.P., Peneliti Ahli Utama Balitkabi menjadi salah satu narasumber.

Dr. Ir. Suwandi, M.Si., Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan

Dr. Ir. Suwandi, M.Si., Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan

Webinar dihadiri lebih dari 254 peserta, berasal dari Direktorat Jenderal Aneka Kacang dan Umbi, Dinas Pertanian, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Balai Penyuluhan Pertanian dan penyuluh dari berbagai daerah, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, serta akademisi dari berbagai wilayah di Indonesia yang bergabung mengikuti melalui link zoom dan kanal youtube Propaktani.

Antusiasme masyarakat ini disebabkan karena koro pedang merupakan tanaman potensial yang dapat beradaptasi di lahan kering, dibudidayakan secara tumpangsari, dan memiliki potensi hasil yang tinggi.

Dr. Ir. Suwandi, M.Si., Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, menyampaikan ketersediaan benih varietas unggul dan paket teknologi budi daya sangat dibutuhkan dalam pengembangan koro pedang selanjutnya. Kolaborasi insan iptek sangat diperlukan untuk memenuhi hal tersebut.

Haryadi T. Laksono, M.Si. selaku Kepala Dinas Pertanian Situbondo menyampaikan koro pedang telah dibudidayakan oleh petani di 8 kecamatan di Kabupaten Situbondo seluas 100 hektar, dengan persentase luas tanam terbesar terletak di Kecamatan Arjasa (75 ha).

Ir. Trustinah, M.P. menyampaikan topik “Budidaya Koro Pedang” dalam webinar Propaktani

Ir. Trustinah, M.P. menyampaikan topik “Budidaya Koro Pedang” dalam webinar Propaktani

Ir. Trustinah, M.P. menyampaikan topik “Budidaya Koro Pedang”, yaitu mulai penyiapan lahan hingga panen. Koro pedang dapat dibudidayakan di lahan kering pada akhir musim penghujan dengan harapan kebutuhan air pada fase perkecambahan dapat terpenuhi. Pemeliharaan tanaman hingga panen juga relatif mudah.

Panen pertama koro pedang tipe tegak (Canavalia ensiformis (L.)) dapat dilakukan pada umur 5 bulan, sedangkan koro pedang tipe menjalar (Canavalia gladiata (Jacq.)) dapat dipanen mulai umur 7 bulan.

Prof. Agnes Murdiati (Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM) dan Prof. Achmad Subagio (Akademisi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Jember) memaparkan topik yang memperkaya informasi mengenai nutrisi dan zat anti gizi pada biji koro pedang, serta strategi pengolahan hasil panen koro pedang agar dapat dikonsumsi.

“Zat anti gizi umum dijumpai pada tanaman aneka kacang, tetapi dapat diatasi dengan teknik pengolahan yang tepat. Bahkan zat anti gizi tersebut dapat memiliki nilai fungsional lain untuk kesehatan” ujar Achmad Subagio.

Para narasumber pada webinar Propaktani

Para narasumber pada webinar Propaktani

Sesi terakhir dari webinar ini adalah sharing session singkat bersama Arnawi, Ketua Kelompok Tani “Pasti Jaya” Desa Jatisari. Arnawi menyampaikan bahwa semangat petani koro berbanding lurus dengan adanya jaminan kepastian harga, dan harapannya hal ini menjadi perhatian pemerintah.

PHP/TR