Berita ┬╗ Peneliti Balitkabi Terlibat Kegiatan Pemantauan APM di KPH Nganjuk dan KPH Saradan

Amri Amanah, S.P., M.Sc. melakukan observasi lapang tanaman porang

Amri Amanah, S.P., M.Sc. melakukan observasi lapang tanaman porang

Perusahaan Umum Kehutanan Negara atau biasa disingkat menjadi Perum Perhutani, mencanangkan program Agroforestry Porang Mandiri (APM) yang bertujuan mengoptimalkan produktivitas lahan hutan dengan budidaya porang untuk meningkatkan pendapatan perusahaan. Target pengembangan porang berlokasi di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Nganjuk, Kabupaten Nganjuk dan KPH Saradan, Kabupaten Madiun. Target luasan pengembangan yaitu 618 ha pada tahun 2024. Saat sudah tertanam seluas 100 ha di dua lokasi KPH tersebut.

Kondisi pertumbuhan tanaman porang dari bahan tanam umbi

Kondisi pertumbuhan tanaman porang dari bahan tanam umbi

Pada tanggal 23-24 Maret 2022, Tim Divisi Pengelolaan Perhutanan Sosial beserta peneliti Balitkabi, Amri Amanah, S.P., M.Sc., melakukan pemantauan kegiatan APM yang telah dilaksanakan penanaman pada bulan November 2021. Pemantauan dilakukan dengan melakukan kunjungan lapang ke KPH Nganjuk dan KPH Saradan yang menggunakan tiga jenis bahan tanam yang berbeda, yakni tunas adventif, bulbil, dan umbi. Hasil pemantauan lapang terlihat bahwa sebagian besar bahan tanam dari tunas adventif sudah mengalami ripah, disusul bahan tanam bulbil dan umbi. Beberapa faktor pembatas yang dijumpai di lapang adalah drainase yang buruk, sehingga umbi cenderung busuk. Selain itu, terpantau juga kondisi intensitas cahaya matahari yang terlalu rendah dan terlalu tinggi. Dari aspek tanah, juga teridentifikasi gejala kahat hara Kalium, diduga karena terfiksasi oleh mineral liat karena jenis tanah didominasi fraksi clay. Belum optimalnya saluran drainase, akibat curah hujan yang tinggi, juga ikut serta menjadi penyebab  kurang optimalnya penyerapan pupuk oleh tanaman.

Sampling umbi porang yang telah membusuk sebagian (kiri), dan kondisi tanaman yang diduga kahat hara K (kanan)

Sampling umbi porang yang telah membusuk sebagian (kiri), dan kondisi tanaman yang diduga kahat hara K (kanan)

Sebagai bahan evaluasi, musim depan perlu ada perbaikan drainase dengan membuat guludan serta pengurangan batu untuk mengoptimalkan pertumbuhan umbi. Selain itu, pada lahan dengan intensitas cahaya matahari rendah akan dilakukan pengurangan populasi pohon secara acak.

AA