Berita » Peneliti Harus Kuasai Pertanian Secara Holistik

kabadan_1_inzet

Badan litbang yang perannya telah dinilai baik oleh Kementerian Pertanian tidak boleh kehilangan momen, stagnan, dan berhenti berinovasi. Untuk itu seluruh peneliti di Badan Litbang Pertanian harus kuasai pertanian holistik, pahami aspek yang lebih luas mencakup teknis, sosial-ekonomi, bahkan budaya, serta perubahan lingkungan termasuk dinamika politik. Ada dua indikator keberhasilan penelitian yang harus dipenuhi peneliti lingkup litbang pertanian yakni science recoqnition dan impact recoqnition. Demikian inti arahan Dr Haryono, Kepala Badan Litbang Pertanian pada pembukaan Seminar Nasional Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, di Balitkabi, Malang, Selasa (15/11). Hingga saat ini, peran hasil-hasil penelitian Badan Litbang telah dinilai baik. Ini berkat kerja keras para peneliti yang, walaupun fasilitas dan anggaran terbatas, mampu menghasilkan karya dan sumbangan yang siknifikan pada pembangunan pertanian di negeri kita. Namun karena tantangan dan lingkungannya berubah, maka para peneliti diminta bekerja lebih keras, dinamis, cerdik, tapi dengan wawasan dan pemahaman yang lebih luas. Karena itu, peneliti tidak boleh kehilangan momen, stagnan, tidak boleh berhenti berinovasi. Peneliti harus memahami pertanian sebagai pertanian secara holistik. Apa yang diperlukan pertanian holistik? ”Bekerja lebih dinamis, cepat tapi efisien. Boleh melintas pagar masuk ke arena pengembangan atau diseminasi hingga mampu memberikan penyuluhan sekali pun”. Dua arena tujuan lompat pagar peneliti yang dicontohkan Ka Badan yaitu swasembada kedelai dan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). ”Swasembada kedelai harus dikejar. Peneliti bisa bekerjasama dengan Perhutani dalam mengembangan kedelai di lahan hutan” kata Ka Badan. Untuk itu diperlukan strategi dan pendekatan, lalu aksi bersama Perhutani. ”KRPL harus dijadikan model untuk ketahanan pangan keluarga di Indonesia. KRPL yang berbasis sumberdaya lokal harus dikembangkan secara lebih luas di seluruh provinsi”. Tentang kualitas hasil penelitian peneliti litbang pertanian, Ka Badan tidak khawatir, karena menurut data Kementerian Ristek, indeks citation tulisan peneliti Badan Litbang Pertanian sangat inggi. Tulisan peneliti Litbang Pertanian lebih banyak dikutip oleh peneliti luar. ”Jika peneliti Badan Litbang Pertanian mau menulis di jurnal, dan fokus sepenuhnya, tulisan tersebut disitir oleh peneliti lainnya, terutama di Asia”, tutur Dr Haryono. Dalam kaitannya dengan tugas litbang pertanian, ada dua indikator kesuksesan yang harus dicapai oleh para peneliti Badan Litbang, yaitu: (1) science recoqnition dan (2) impact recoqnition. Hasil penelitian harus berkualitas secara akademik, kadar ilmiahnya dapat dipertanggjawabkan. Jika menghasilkan varietas harus berkualitas dan unggul. Bagi peneliti yang kekuatannya di bidang sains dipersilakan meneliti secara mendalam bidang ilmu yang ditekuni. ”Karena hal itu sangat diperlukan untuk pondasi keilmuan dalam penelitian” urai Ka Badan. Sedangkan indikator kedua adalah hasil penelitian Badan Litbang harus memiliki dampak ekonomi dan dikenal luas di Indonesia, bahkan di luar negeri. ”Silakan, para peneliti memilih, yang penting semua memberi kontribusi nyata pada pembangunan pertanian” tutur Pak Haryono.

Serahkan benih kedelai

Dampak Luas Hasil Penelitian Seminar membahas tiga makalah kebijakan, 90 makalah hasil penelitian yang disampaikan secara oral (24 makalah), dan poster (65). Seminar dihadiri oleh 175 peserta dari seluruh Indonesia, terdiri dari dosen dan mahasiswa, Dinas Pertanian, Perusahaan pemasok sarana produksi pertanian, peneliti dari Balit, BPTP, dan UPT lingkup Badan Litbang Pertanian. Di samping itu hadir pula Kepala Puslitbangtan, Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, yang juga membawakan makalah, serta Kepala Pustaka dan Penyebaran Hasil Penelitian Pertanian. Sebelum memberikan pengarahan Ka Badan menyerahkan secara simbolik benih kedelai sebanyak masing-masing 1 ton kepada BPTP Jawa tengah dan BPTP Jawa Timur, dan BPTP Bali sebanyak 500 kg. Pada kesempatan selanjutnya Ka Badan menyaksikan penandatangangan MOU antara Balitkabi dengan CV Saprotan Utama (Semarang) untuk penelitian Formulasi Sarana Produksi pada Tanaman Pangan. Dalam kaitannya dengan aneka kacang dan umbi, beliau menyatakan bahwa setelah padi, komoditas kacang-kacangan dan umbian memegang peran penting. Peneliti tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian harus menambah inovasinya untuk menjawab tantangan ke depan. ”Peran kacang dan umbi sangat penting saat ini. Di masa depan akan lebih penting lagi” ungkap Ka Badan. Beberapa hasil penelitian kacang dan umbi yang diseminarkan harus dipilih, dikaji, dan dirumuskan untuk dijadikan sesuatu yang bisa bisa diterapkan di lapang dan memberikan dampak yang luas untuk pembangunan pertanian. Jika makalah per makalah tidak ada artinya. ”Di samping indeks publikasi, yang harus dicapai adalah dampak yang lebih luas”, pungkas Dr Haryono.

Win