Berita » Peneliti Harus Secepat Wartawan

ilmiah_1

Peneliti harus bisa menulis cepat. Oleh karena itu perlu berguru pada wartawan! Wartawan hanya butuh waktu sebentar untuk menulis. Sekarang mencari berita besok sudah terbit di media masa. Demikian inti sambutan Dr Muchlish Adie, Kepala balitkabi, saat menutup secara resmi Pelatihan Aplikasi Perancangan Percobaan dan Metode Penulisan Ilmiah, Selasa (20/12), di Aula Balitkabi. Dengan penambahan materi ilmu statistik dan teknik penulisan ini diharapkan peneliti yunior Balitkabi mampu menulis secara cepat. “Sehingga hasil-hasil penelitian cepat dikomunikasikan”, lanjut Pak Muchlish.

Tugas peneliti tidak hanya meneliti, namun juga menulis, khususnya tulisan ilmiah. Untuk meningkatkan kemampuan meneliti dan menulis itulah, Tim SDM Balitkabi, yang dimotori Prof Subandi, menyelenggarakan pelatihan ini. Selain mendapat tambahan ilmu statistik dan teknik penulisan, 60 peserta pelatihan juga ditawari menulis populer hasil penelitian di Malang Post.

Benar Dulu Lalu Ditulis

Selain bidang disiplin keilmuannya seperti ekofisiologi, agronomi, ilmu tanah, hama-penyakit tanaman, atau mekanisasi dan pascapanen, peneliti juga harus menguasai ilmu statistika dan penulisan. “Tanpa penguasaan statistika, kesimpulan penelitian bisa melenceng, salah arah, bahkan menyesatkan” tutur Prof. Heni Pramoedyo dengan gaya khas dan mimik yang menyenangkan. Karena gaya beliau itulah peserta tak segan bertanya seputar metodologi penelitian. Padahal, biasanya statistika merupakan momok bagi kebanyakan orang. “Jadi memang sebagai landasan pengambilan kesimpulan statistika meski dikuasai oleh adik-adik peneliti ini” urai Pengajar Statistika Univ Brawijaya ini.

Dengan gaya khas Prof Heni Parmudyo memberi paparan tentang statistik

Setelah penelitian disimpulkan dengan benar, maka kewajiban peneliti selanjutnya adalah mengomunikasikanya secara tertulis. Kenapa? Karena tanpa dikomunikasikan, hasil penelitian akan miskin manfaat, tidak dapat dimanfaatkan orang lain, dan hanya diketahui oleh diri sendiri. Oleh karena itu keahlian menulis juga harus melekat pada peneliti.

Banyak jurnal yang bisa dimasuki peneliti untuk mempublikasikan tulisannya. “Semakin tinggi nilai dan gengsi jurnal tersebut semakin ketat persyaratannya” kata Dr. Setyawan Sakti, nara sumber penulisan ilmiah dari Fakultas MIPA Unibraw. “Jurnal terbitan El-Shevier, misalnya, mematok persyaratan sangat ketat. Tulisan yang diterbitkan di situ, nilainya tinggi, citra penulis dan lembaganya terangkat. ”Bahkan bisa menjadi jembatan membangun relasi internasional”, lanjut Dr. Sakti. Namun, karena yang mengirimkan tulisan semakin banyak jumlahnya, maka kompetisinya ketat. “Karena itu penulis yunior harus berlatih dan berlatih, cermat, dan mengikuti panduan dari masing-masing jurnal”.

Dr Sakti menjelaskan dan memotivasi peneliti yunior Balitkabi untuk giat menulis

Menulis Artikel itu Mudah

Masalah aktual itu ada di mana-mana, semuanya dapat ditulis. Tidak perlu berpikiran tulisan jelek. Segera mulai menulis. Balitkabi adalah sumber data yang tiada pernah habis untuk ditulis”. “Mulailah menulis!”, tegas Husnun N Djuraid, nara sumber dari Malang Post. Menulis dulu, selesaikan dulu, baru dibaca kembali untuk mengecek salah cetak, salah makna, dan perbaikan lainnya. Saat memeriksa itulah tulisan yang sudah “jadi” diperbaiki. Rumus  menulis berita itu sejak dulu hingga kini tetap 5W + H (what, who, when, where, why dan how)” tutur Pak Husnun yang juga Pimpinan Redaksi Malang Post. Sambil menjelaskan kunci menulis berita. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Membaca mendatangkan banyak manfaat, pengetahuan, ilmu, bahkan motivasi untuk menulis. Namun segera menulis yang ada di angan-angan. Jangan takut salah.

Pimred Malang Post, Husnun Juraid menyerahkan hadiah kepada ibu Ekmi

Sebagai latihan, 60 peserta diminta menuliskan lead berita tentang Pelatihan Menulis Populer pada pelatihan ini. Sebagian besar peserta membuat, dan diminta membacakannya. ”Ternyata Anda bisa!” komentar Pak Husnun, sambil menyerahkan hadiah buku tulisan beliau tentang menulis di koran kepada Ibu Ekmi, yang tulisannya lead-nya paling mengena. ”Nah, silakan mengirim tulisan, akan kami muat di Malang Post”, tutur Pak Husnun mengakhiri. Para peneliti, tulisan Anda ditunggu Malang Post!

Mita, Sagit, dan Win