Berita » Peneliti Jangan Hanya Berorientasi pada Poin dan Koin

Pengarusutamaan (mainstreaming) iptek sudah harus menjadi keutamaan di Negara kita, jika kita tidak ingin menjadi bangsa yang tertinggal. Kementerian Riset dan Teknologi memperkuat iptek di Indonesia melalui program Insentif Riset SINas (Sistem inovasi nasional). Animo peneliti untuk terlibat dalam program SINas cukup tinggi. Pada tahun 2013 dilaporkan sejumlah 2150 proposal disampaikan ke SINas dan yang disetujui hanya sebanyak 308 proposal penelitian. Peneliti Balitkabi, Apri Sulistyo, Ratri Tri Hapsari dan Muchliah Adie, mendapatkan pendanaan program SINas 2013 untuk kegiatan penelitian Penguatan sistem perbenihan kedelai di Sulawesi berbasis pedesaan. Indikator kemajuan iptek adalah inovasi dan kesiapan teknologi. Fakta menunjukkan bahwa inovasi tumbuh dengan baik, artinya riset telah banyak dilakukan, namun tidak banyak hasil riset yang berujung pada produk industri. Untuk mendekatkan dan mendorong komunikasi antara peneliti, serta antarpeneliti dengan pengguna hasil riset, Kementerian Riset dan Teknologi, 7–8 Nopember 2013 di Jakarta, menyelenggarakan Seminar Insentif Riset SINas 2013 dengan tema Membangun Sinergi Riset Nasional untuk Kemandirian Teknologi. Seminar dibuka secara resmi oleh Menteri Riset dan Teknologi, Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta, dihadiri sekitar 800 peserta berasal dari peneliti peserta Insentif Riset SINas 2013 dan pengguna hasil riset. Dua peneliti Balitkabi yakni Apri Sulistyo dan Muchlish Adie hadir pada seminar tersebut.
Pembukaan Seminar oleh Menristek, peserta dan pemakalah dari Balitkabi Menristek menyampaikan bahwa berdasarkan World Economic Forum 2013, daya saing Indonesia berada pada posisi ke-38 dari 148 negara, naik dibandingkan pada posisi tahun 2012 diperingkat 50 dari 144 negara. Indonesia masih tergolong pada kelompok Negara yang ekonominya mengandalkan efisiensi (efficiency driven) bukan innovation driven. Fakta lain juga menunjukkan bahwa dari sisi kesiapan teknologi, posisi Indonesia naik dari posisi tahun 2012 85 menjadi peringkat 75 pada tahun 2013, demikian juga posisi inovasinya meningkat dari peringkat 39 pada 2012 menjadi peringkat 33 pada tahun 2013. Belum sinkronnya antara posisi kesiapan teknologi (peringkat 38) dan inovasi (peringkat 75) mengindikasikan bahwa ada arus atau sistem yang tidak berkesinambungan pada aspek industrialisasi hasil litbang atau adopsi teknologi oleh pengguna. Di sinilah diperlukan penguatan pilar inovasi dan kesiapan teknologi melalu pendidikan serta pengembangan iptek dan inovasi. Menristek mengharapkan agar peneliti sudah saatnya harus mengubah orientasi penelitiannya. Penelitian bukan ditujukan hanya untuk menjawab keingintahuan, hanya berorientasikan pada pengamanan jabatan peneliti berupa cum atau poin, apalagi hanya untuk kepentingan peningkatan pendapatan atau koin. Orientasi riset adalah pada kebutuhan pengguna dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Peneliti Balitkabi (Apri Sulistyo, Ratri Tri Hapsari, Muchlish Adie) menyampaikan makalah tentang Preferensi Petani dalam Memilih Varietas Kedelai di Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan. Dari beberapa varietas kedelai yang diuji, preferensi petani tertuju kepada varietas Grobogan, Gema, dan Argomulyo, dengan pertimbangan pada umur masaknya yang tergolong genjah. Namun dari sisi produktivitas, varietas Gema mampu berproduksi tertinggi sehingga saat ini petani terus mengembangkan varietas Gema. Varietas Gema merupakan hasil Badan Litbang Pertanian dilepas tahun 2011 dengan umur masak 73 hari.MMA/AW