Berita » Peneliti Perempuan Balitkabi Siap Menerima Tongkat Estafet Kepemimpinan

whatsapp-image-2019-04-08-at-12-04-37

Ide spontan Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi untuk bertatap muka dengan peneliti perempuan Balitkabi muncul Senin pagi setelah kegiatan rutin Apel Pegawai tanggal 8 April 2019. Seluruh peneliti dan calon peneliti perempuan Balitkabi yang berjumlah 31 orang memenuhi undangan Kepala Balitkabi di Aula Balitkabi dalam acara “Sambung Rasa Peneliti Prempuan”. Acara ini dihadiri Kasubbag TU Langgeng Sutrisno, S.P., Ketua Program Andy Wijanarko, Kasi Jaslit B.S. Koentjoro, dan Kasi Yantek Dr. Rudi Iswanto. “Saya ingin mendengar suara peneliti perempuan di Balai ini untuk mewarnai program-program riset dan diseminasi inotek akabi kekinian, “ kata Yuliantoro di awal acara.

Di Balitkabi, peneliti perempuan berjumlah 31 orang atau 59% dari total peneliti, bahkan ke depan jumlahnya akan semakin banyak karena banyak peneliti laki-laki yang memasuki purna tugas. Kaum hawa yang merupakan ASN dengan jabatan fungsional peneliti mempunyai hak, serta tugas dan tanggung jawab yang sama dengan ASN peneliti laki-laki. Dari segi jumlah hingga saat ini peneliti perempuan Balitkabi lebih banyak dibandingkan peneliti laki-laki. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa suatu saat akan lebih banyak lagi peneliti perempuan Balitkabi harus memegang pucuk pimpinan. Saat ini peneliti perempuan mulai memimpin : penjab kegiatan penelitian, penjab kegiatan diseminasi, laboratorium, bahkan ke depan bisa menjadi koordinator kebun percobaan, pejabat struktural eselon IV, bahkan tidak menutup kemungkinan hingga tampuk pimpinan UK/UKT. Hal ini harus dipersiapkan sejak dini, peneliti-peneliti muda perempuan perlu menata hati, menyiapkan strategi, membangun mental, meningkatkan penguasaan iptek terkini, penguasaan bahasa asing, juga tak kalah penting mempelajari ilmu-ilmu manajemen guna menerima tongkat estafet meneruskan perjuangan membesarkan Balitkabi.

Tantangan Balitbangtan ke depan akan semakin berat, wacana pembentukan Dewan Riset Nasional harus disikapi dengan bijak dan menyiapkan strategi. Kompetitor-kompetitor dalam dan di luar Balibangtan semakin banyak, sehingga mau tidak mau Balitkabi juga harus menyiapkan diri berkompetisi untuk memperoleh dana penelitian, menghasilkan inotek sekaligus mendiseminasikan inotek tersebut. Yuliantoro menyampaikan bahwa ke depan koordinator kebun Penelitian (sekarang IP2TP) harus peneliti, meskipun demikian tidak menutup kemungkinan dimandatkan kepada teknisi litkayasa jika mampu berkompetisi. Saat ini telah dimulai dengan cara mempersiapkan peran pengganti perbagian mulai dari pelayanan teknik, jasa penelitian, kesekretariat, ketatausahaan, dan kelompok peneliti.

Dr.Andy Wijanarko selaku Koordinator Program menambahkan bahwa peneliti perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban yang sama karena besar tunjangan dan gaji yang diperoleh sama. Diingatkan bagi peneliti muda yang akan menerima tugas belajar sekolah untuk memilih perguruan tinggi berkompeten sesuai bidang ilmu yang dibutuhkan saat ini dan masa mendatang. Dr. Rudi Iswanto selaku Kasi Yantek mengharapkan peneliti harus jujur, disiplin, peduli dengan lingkungan, dan kolega, serta senantiasa melakukan pekerjaan dengan ikhlas,cerdas, kerja keras, dan tuntas. Tidak ketinggalan Kasi Jaslit B.S. Koentjoro, M. Kom. mengibaratkan peneliti perempuan sebagai angin dan air yang semilir menyejukkan namun bisa mengerikan seperti badai. Peneliti perempuan diharapkan dapat menderaskan diseminasi inotek Balitkabi dimanapun dan dalam kesempatan apapun karena tanggung jawab membesarkan Balitkabi terletak di pundak semua ASN Balitkabi.

Peneliti-peneliti perempuan Balitkabi pun angkat suara. “Disiplin waktu, menggunakan waktu secara efektif dan efisien, mampu membedakan urusan pekerjaan dan rumah, menentukan target dan berusaha mencapai target, perlu kita upayakan sekuat tenaga,” kata peneliti senior Dr. Titik Sundari. Peneliti senior Dr. A.A. Rahmianna berbagi pengalaman untuk membesarkan hati peneliti muda, untuk tidak takut meninggalkan keluarga menuntut ilmu di luar negeri. “Jauhnya jarak tidak menjadi masalah dengan keyakinan dan tekad kuat mewujudkan impian, tentunya dengan dukungan dan komitmen dari pasangan maupun keluarga,” kata Anna, sapaan akrab Dr. Rahmianna. Pengalaman di negara asing menjadi sangat berharga dengan mengambil hal-hal yang baik. Kuncinya pada pengaturan waktu, bekerja cepat, dan berkonsentrasi penuh baik di kantor maupun ketika di rumah.

Dr. Novita Nugrahaeni juga menyampaikan pengalaman berharga, bagaimana mengatur dan mengendalikan keluarga di saat harus menjalankan peran ganda sebagai ASN peneliti, menjadi ibu sekaligus bapak ketika di rumah karena lokasi pekerjaan yang berjauhan dengan suami. Tidak mengeluh tetapi berupaya keras mengatasi masalah apapun baik di kantor maupun di rumah. Pengalaman lain juga disampaikan peneliti muda yaitu Herdina Pratiwi, S.P., M.P. “Saya bangga menjadi perempuan, menjadi ibu sekaligus berprofesi sebagai peneliti yang harus selalu membuka diri untuk menerima hal-hal yang baru,” kata Herdina.
“Saya mempunyai cita-cita membentuk semacam Pusat Study Peneliti Perempuan yang memegang peran penting dalam diversifikasi pangan, dukungan terhadap program penelitian, meneruskan program OPAL dan stunting serta program-program lainnya,” kata Yuliantoro. Harapan saya, Pusat Study Peneliti Perempuan siap menghadirkan dan siap menerima tantangan dari luar. Sambung rasa ditutup oleh Kasubbag TU Langgeng Sutrisno, S.P. dengan arahan bahwa sambung rasa ini adalah bagian dari upaya menuju Balitkabi yang lebih baik.

RDP