Berita » Pengelola Situs Website Balitbangtan diasah Kemampuannya di Lombok

Foto bersama peserta pelatihan pengelola website dan medsos lingkup Badan Litbang Pertanian.

Foto bersama peserta pelatihan pengelola website dan medsos lingkup Badan Litbang Pertanian.

Selama lima hari mulai 24–28 April 2018, pengelola situs website dan penggiat media sosial (medsos) lingkup Badan Litbang Pertanian diasah dan dipertajam kemampuan dan kompetensinya dalam mengelola website dan medsos oleh tim andalan dari Tempo Institute di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Acara dibuka oleh Dr. Ir. M. Saleh Mokhtar, M.P., Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB, mewakili Sekretaris Badan Litbang Pertanian (Sesba). Website adalah teknologi yang sudah sangat berkembang saat ini. Menyampaikan pesan Sesba, Dr. Saleh mengatakan bahwa website dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan informasi, komunikasi, dan publikasi atas hasil-hasil yang telah dicapai oleh Badan Litbang Pertanian. “Ibaratnya, website adalah jendela yang paling cepat untuk menyampaikan informasi dan amat penting saat ini”, kata Dr. Saleh.

Meski dalam kondisi lelah setelah menempuh perjalanan panjang menuju Lombok, pada Selasa malam tanggal 24 April 2018, peserta dengan semangat mendengarkan paparan mengenai “Fakta dan Opini” yang disampaikan oleh Muhammad Taufiqurohman. “Berita adalah penyampaian informasi berdasarkan kejadian, peristiwa, data, trend, dan temuan”, papar Taufiqurohman, wartawan senior Tempo. Sedangkan opini merupakan penyampaian informasi berdasarkan sikap dan tidak selalu berkonotasi negatif.

Rabu pagi 25 April 2018, peserta menerima materi mengenai “Teknik menulis dasar”. Sesi ini disampaikan oleh Susandijani. Susan mengatakan bahwa sebelum mulai menulis, kita harus menentukan ide, angle, dan outline. Ide bisa muncul dari mana saja, bisa dari obrolan, pikiran, fakta, atau lainnya. Sedangkan angle diperoleh dari pertanyaan dengan 5 W (who, what, when, where, why) dan 1 H (how). “Angle yang tajam akan membuat tulisan menjadi bagus dan outline diperlukan sebagai panduan dalam menuangkan tulisan”, kata Susan, mengakhiri paparannya.

Setelah coffee break, Hermien Kleden melanjutkan menyampaikan materi “Fondasi menulis”. Hermien memaparkan bagaimana cara melakukan reportase, wawancara, dan riset. Ketiga hal tersebut merupakan “alat belanja” bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat sebuah tulisan. “Unsur dari pertanyaan why usahakan diungkapkan lebih dulu”, kata Hermin.

Jika bahan-bahan tulisan telah lengkap, mulailah kita menulis. “Sebuah tulisan harus jernih dan mudah dipahami oleh siapa pun, karena media online pembacanya sangat beragam”, ungkap Dwi Setyo Irawanto, mengawali penjelasannya dengan topik “Tips menulis di media sosial”. Dalam menulis berita, sampaikanlah hal yang paling penting di awal. Ada lima kunci rahasia yang harus dikuasai dalam menulis yaitu: (1) kenali pembacanya, (2) Pahami mediumnya, (3) Kenali jenis tulisannya, (4) Pahami ukurannya, dan (5) Kuasai topiknya.

Peserta mendapatkan kesempatan praktek reportase dan wawancara ke lokasi pengembangan ayam Kampung Unggulan Badan Litbang Pertanian (ayam KUB) di Desa Aik Bukak, Kecamatan Batu Kliang Utara, Lombok Tengah, NTB. Data yang diperoleh digunakan untuk membuat tulisan berita dengan angle yang sudah ditentukan oleh masing-masing peserta dengan bimbingan tim Tempo Institute.

Pedoman media cyber dan penyampaian infomarsi dalam bentuk infografis juga menjadi topik yang disampaikan dalam pelatihan ini.

Semoga dengan pelatihan ini, para pengelola situs website Badan Litbang Pertanian semakin mahir menyampaikan informasi dalam kemasan yang menarik dan mudah dimengerti oleh pembacanya.

KN