Berita ยป Pengenalan Teknologi Baru Pengukuran Pigmen Fotosintesis

Pengukuran pigmen fotosintesis klorofil menjadi bagian penting dalam kegiatan penelitian tanaman di Balitkabi. Peneliti Balitkabi biasanya mengukur pigmen ini secara langsung tanpa destruktif menggunakan alat klorofil meter SPAD 502. Alat ini cukup mudah digunakan akan tetapi harganya relatif mahal.

Teknologi baru pengukuran klorofil dengan biaya lebih rendah diinisiasi oleh Ma Chung Research Center, Universitas Ma Chung. Teknologi ini sudah mendapat pengakuan dari Pusat Unggulan Ristek (PUI) Kemenristekdikti. Tatas H.P. Brotosudarmo Ph.D. selaku inventor teknologi pengukuran klorofil dari Ma Chung University melakukan sosialisasi di Aula Balitkabi yang dihadiri oleh seluruh peneliti pada hari selasa, 11 Oktober 2016.

Pengukuran klorofil daun tanaman menggunakan alat Low-Cost Chlorophyll Meter (LCMM) dapat dilakukan pada spesimen daun atau tanaman secara utuh. Daun atau tanaman utuh dimasukkan ke dalam alat tersebut dan diberikan penyinaran secara artifisial Red (R) dan Infrared (NIR).

Cahaya diterima oleh daun dan kemudian dipantulkan kembali ke komponen lain yang disebut TSL 250. Pengukuran cahaya yang diterima dan dipantulkan kemudian diterjemahkan melalui aplikasi komputer untuk mengukur kandungan klorofil pada semua permukaan daun bahkan dalam satu tanaman.

Pengenalan alat LCCM mendapat sambutan antusias dari peneliti. Prof. Sudaryono menanyakan apakah alat ini sudah diproduksi massal sehingga Balitkabi dapat memanfaatkan untuk mendukung kegiatan penelitian. Dr. Heru Kuswantoro menanyakan apakah alat ini dapat mendeteksi ion-ion tertentu yang terserap daun, misalnya ketika tanaman ditanam di lahan masam atau salin apakah bisa mendeteksi ion Fe, Al, atau Na dan Cl.

Ir. I Ketut Tastra M.S. menanyakan apakah dapat juga dikombinasikan dengan pengukuran kondisi temperatur atau faktor lingkungan lainnya. Tatas H.P. Brotosudarmo Ph.D. sebagai penemu alat tersebut menjawab bahwa alat tersebut belum dapat dikembangkan mendeteksi sejauh itu. Ke depan kemungkinan alat tersebut akan dikembangkan ke arah sana. Beliau juga sangat terbuka jika peneliti Balitkabi dapat berkolaborasi untuk mengembangkan alat tersebut.

18-10-16

Sutrisno