Berita » Penghasil Gethuk Goreng Kab. Banyumas Jajaki Kerjasama dengan Balitkabi

Siapa tidak kenal gethuk goreng dan tempe mendoan? Demikian disampaikan Drs. Purwadi Santoso, M.Si selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Banyumas saat kunjungannya ke Balitkabi pada 20 Oktober 2020. Bersama rombongan yang terdiri dari Ir. Widarso (Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Pemkab Banyumas), Drs. Eka Budi S, M.M (Kepala Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan), Widiyarto, S.P. (Kasi Pertanian), Iin (Kasi Hortikultura), Asri Budiati, S.E (Kasubbag Umum), dan Rini Fitiadin, S.Pd (Kasubbag TU UPT Balai Benih Pertanian) diterima oleh Plh. Kepala yang juga Kasie Jaslit B.S. Koentjoro, S.P., M.Kom. Hadir menyambut tim Ka. Banyumas beberapa peneliti yaitu Dr. Rudi Iswanto, Prof. Arief Harsono, Ir. Trustinah, M. S., Dr. Kartika N dan Dr. Runik Dyah P.

Dua makanan khas Banyumas yang berbahan baku ubi kayu dan kedelai menjadi penunjuk jalan kunjungan tim Pemda Banyumas ke Balitkabi. Menurut Purwadi, tujuan dari kunjungan ini adalah untuk mengenal budi daya aneka kacang dan umbi serta menjalin kerjasama untuk pengembangan komoditas aneka kacang dan umbi di Kabupaten Banyumas. Pengenalan VUB, teknologi budi daya, produk hasil olahan aneka kacang dan umbi, dengan tujuan utama pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Banyumas.

Disampaikan Purwadi, secara agroekologi kabupaten Banyumas memiliki sumberdaya lahan sawah maupun lahan kering. Sektor pertanian potensial dikembangkan di Banyumas yang saat ini difokuskan pada produktivitas dan kesejahteraan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan selaku pihak yang berwenang di Kabupaten Banyumas ingin menggali potensi selain padi, yakni dari komoditas palawija. Apalagi diketahui jika untuk memenuhi kebutuhan pembuatan gethuk goreng Banyumas mendatangkan ubi kayu dari daerah lain. Pihak Pemda Kab. Banyumas sangat antusias untuk memperoleh benih unggul ubi kayu yang cocok sebagai bahan pembuat gethuk goreng. Ubi kayu dengan kadar pati tinggi juga potensial dikembangkan di sana, karena di kab.Banyumas banyak produsen tapioka dengan bahan baku dari luar Banyumas.

Demikian pula dengan olahan ‘tempe mendoan’ yang saat ini menggunakan kedelai impor. Kecenderungan pengrajin tempe menyukai kedelai impor, sehingga terdapat peluang apabila di Banyumas dikembangkan kedelai dengan ukuran biji besar, sehingga nilai jual dapat bersaing dengan kedelai impor. Komoditas palawija yang juga akan digarap oleh Pemda Banyumas adalah kacang tanah. Saat ini petani mempergunakan benih kacang tanah dengan varietas yang tidak jelas. Disampaikan Purwadi, pihaknya akan mencoba mengenalkan kepada petani beberapa VUB kacang tanah, agar dapat berkembang di sana.

Mewakili Balitkabi, B.S. Kuncoro menyambut baik ajakan Pemda Banyumas melakukan kerjasama diseminasi maupun penelitian komoditas aneka kacang dan umbi (akabi) di wilayah kab. Banyumas. Diperkenalkan beberapa varietas akabi dari Balitkabi yang berpotensi untuk dikembangkan di kab. Banyumas antara lain : Kedelai Dega 1 dengan keunggulan berbiji besar dan nilai protein lebih tinggi daripada kedelai impor, kacang tanah Hypoma, kacang hijau Vima dengan keunggulan panen serempak, ubi kayu Vati dengan kadar pati tinggi dan ubi jalar Antin yang memiliki kadar antosianin tinggi.

Diskusi dan sharing pengalaman komoditas akabi ditutup dengan berkeliling melihat proses produksi benih sumber di UPBS Balitkabi. Benih VUB kedelai berbiji besar dan kacang hijau Vima produksi UPBS Balitkabi akan diuji coba di Kab. Banyumas, menyusul akan dipesan juga VUB kacang tanah. Semoga Kab. Banyumas sukses mengembangkan aneka kacang dan umbi menggunakan VUB Balitbangtan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

getuk geuk2
getuk3 getuk4
Suasana diskusi dan tukar pengalaman komoditas akabi tim dari kab. Banyumas dengan Balitkabi.

AA