Berita » Peningkatan Daya Saing Kedelai dengan Pengolahan Kedelai

Farm Field Day pengembangan kedelai di desa Mejuwet, Kec.Sumberrejo Kab.Bojonegoro.

Farm Field Day pengembangan kedelai di desa Mejuwet, Kec.Sumberrejo Kab.Bojonegoro.

Temu Lapang Petani Pengembangan Kedelai Kelompok Tani “Tani Raharjo 1” Desa Mejuwet, Kec. Sumberrejo Kab. Bojonegoro telah diselenggarakan pada 18 September 2019. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang evaluasi program kedelai di Jawa Timur oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur. “Dengan dilaksanakan Temu Lapang Petani pengembangan kedelai di Bojonegoro diharapkan dapat mempertemukan bagian hulu dengan hilir komoditas kedelai,” kata Kusworo Kasi Akabi dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. Jawa Timur.

Kusworo menyampaikan bahwa program pengembangan kedelai melalui Distan Prov. Jatim yang telah memberikan bantuan benih kedelai sebanyak 100 kg, pupuk Phonska 500 kg dan pupuk organik sebanyak dua (2) ton kepada kelompok tani “Tani Raharjo 1 “ Desa Mejuwet, Kec. Sumberrejo, Kab. Bojonegoro. Bantuan benih dan pupuk kali ini dimaksudkan menjadi pancingan bagi petani untuk mengusahakan kedelai secara mandiri lebih luas lagi, karena peluang pemasaran terbuka luas.

Kepala Desa Mejuwet Iswahyudi menyatakan kegembiraan sekaligus rasa terima kasih kepada pemerintah melalui Distan Prov. Jatim yang telah memberikan bantuan benih dan pupuk kepada kelompok tani “Tani Raharjo 1”, serta berharap pemerintah dapat mengusahakan harga pembelian kedelai pada petani secara wajar. Karena selama ini petani kedelai setiap tahun hanya memperbarui uang hasil penjualan kedelai, karena harga dari tahun ke tahun dengan nomimal hampir sama sekitar Rp. 5.000,00-6.000,00 per kg bahkan lebih rendah lagi. Iswahyudi berharap petani dapat meningkatkan pendapatan dari bertanam kedelai.

Peninjauan lapang dimulai dengan melihat demfarm kedelai yang diikuti sekitar 30 peserta dari petani kooperator, PPL setempat, serta perangkat desa. Area demfarm yang terletak sekitar 100 m dari panggung FFD terlihat hamparan kedelai mulai pengisian hingga pemasakan polong. Varietas Anjasmoro menampilkan keragaan yang cukup baik, meskipun terjadi kekeringan, tanaman tidak mendapatkan tambahan pengairan mulai panen hingga saat ini. Pola tanam padi-padi-kedelai tetap dipertahankan petani di Kecamatan Sumberrejo. Menurut Pak Slamet Ketua Kelompok Tani “Tani Raharjo 1”, petani biasa memperoleh kedelai saat panen sekitar 35 kg per 1 kg benih yang ditanam. Asumsi per ha menggunakan benih 50-60 kg maka akan diperoleh hasil biji kedelai 1,75 – 2,10 t/ha.

Teknologi budi daya yang diterapkan petani seperti penggunaan jarak tanam sesuai jarak tanam padi, cara tanam dengan tugal, penggunaan pupuk Phonska serta upaya preventif pengendalian hama dan penyakit. Penggunaan benih bersertifikat belum diterapkan petani, karena kesulitan memperoleh benih bersertifikat. Petani membeli benih kedelai di pasar sehingga kemurnian varietas sangat rendah, campuran Wilis, Lokon, dan Anjasmoro serta lokal. Kondisi tanaman cukup baik, meskipun terjadi kekeringan, sehingga tanaman tumbuh kurang optimal, tetapi pada beberapa petak yang lebih rendah mempunyai ketersediaan air tanah yang cukup tinggi, tanaman tumbuh lebih baik. Polong bernas dan memasuki fase pemasakan, diperkirakan dalam waktu tidak lebih sepuluh hari lagi tanaman akan dipanen.

Evaluasi program pengembangan kedelai oleh Distan Prov. Jatim, Distan Kab. Bojonegoro dan Balitkabi (kiri) serta peserta FFD pengembangan kedelai di Desa Mejuwet, Sumberrejo Bojonegoro (kanan)

Evaluasi program pengembangan kedelai oleh Distan Prov. Jatim, Distan Kab. Bojonegoro dan Balitkabi (kiri) serta peserta FFD pengembangan kedelai di Desa Mejuwet, Sumberrejo Bojonegoro (kanan)

Saat ini kebutuhan kedelai di Kab. Bojonegoro sebanyak 34.000 ton kedelai, sedangkan produksi baru mencapai 19.000 ton, terdapat kekurangan 15.000 ton kedelai. “Peluang usaha tani kedelai masih terbuka lebar, mari terus tingkatkan luas tanam dan produktivitas kedelai di Bojonegoro,” kata Zainal Fanani Kabid.Tanaman Pangan dan Hortikultura, Distan Kab. Bojonegoro. Informasi Distan Kab. Bojonegoro, total luas tanam kedelai di Bojonegoro dengan daerah sentra yaitu Kecamatan : Balen, Sumberrejo, Sukosewu, Kapas dan Dander sekitar 5.549 ha, dibandingkan tahun sebelumnya mencapai 19-21 ribu ha. Disampaikan Zainal, perlu penggalakkan penggunaan pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah. Kadar C organik tanah Bojonegoro saat ini dari beberapa lokasi di kabupaten Bojonegoro berdasarkan hasil penelitian BPTP Jatim kurang dari 1%, padahal untuk meningkatkan 1% C organik perlu penambahan 20 t/ha pupuk kandang. Sehingga diharapkan petani dapat menambahkan pupuk organik secara bertahap di lahan masing-masing.

Kelompok Tani “Tani Raharjo 1” telah menerapkan beberapa komponen teknologi budi daya kedelai secara baik, tetapi perlu perbaikan teknik budi daya kedelai. Hal ini ditambahkan oleh narasumber dari Balitkabi Runik Dyah Purwaningrahayu seperti perbaikan varietas kedelai yang sesuai dengan preferensi petani serta sesuai dengan agroekosistem setempat. Petani menginginkan varietas adaptif kekeringan dan disarankan menggunakan Dering 1, Dering 2, Dering 3, serta yang menginginkan kedelai biji besar umur pendek serta lokasi cukup air dapat dicoba Dega 1. Disarankan juga untuk menggunakan mulsa jerami agar dapat mempertahankan kelembaban tanah dan mencegah serangan lalat bibit.

Dari sisi hilir temu lapang juga menghadirkan Ibu Kristin (lengkapnya Kristianingsih) dan Bapak Gito dari LPK P4S (Lembaga Pelatihan Keterampilan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya) “Gading” sekaligus owner “Omah Menyok” dari Desa Ngraseh, Kec. Dander, Kab. Bojonegoro. Pusat pelatihan ini bergerak di bidang jasa pelatihan produk olahan pertanian terutama singkong dan kedelai.

Keluhan petani saat ini adalah jika harga jual kedelai hanya Rp. 5.000,00-6.000,00 per kg. Hal tersebut ditanggapi dengan semangat oleh Ibu Kristin. “Jangan takut tanam kedelai karena rendahnya harga jual,” lanjut Kristin. Dengan pengolahan menjadi susu kedelai akan diperoleh hasil berlipat. Disampaikan jika UD. Gading juga telah memproduksi susu kedelai hingga ratusan botol. Bahkan hasil binaanya produk UMKM telah berhasil mewujudkan kerja sama yang tertuang dalam MoU dengan Indomart-Alfamart wilayah Jawa Timur untuk memasok susu kedelai. Satu kg kedelai dapat menghasilkan 8-10 liter susu kedelai, per botol susu kedelai kemasan 500 ml dijual dengan harga Rp.7.500,00 sehingga pendapatan mencapai Rp.120.000,00-150.000,00 per kg kedelai. Jadi tidak perlu takut harga kedelai turun hingga lima ribu rupiah per kg, dengan diolah menjadi susu kedelai, peyek, krupuk kedelai, kedelai krispi akan meningkatkan daya saing produk, berujung pada peningkatan kesejahteraan petani karena meningkatnya pendapatan.

Keragaan varietas anjasmoro (kiri) dan Kasi Akabi dari Distan Prov. Jatim bapak Kusworo di antara hamparan pertanaman kedelai di Desa Mejuwet, Kec. Sumberrejo, Kab. Bojonegoro (kanan).

Keragaan varietas anjasmoro (kiri) dan Kasi Akabi dari Distan Prov. Jatim bapak Kusworo di antara hamparan pertanaman kedelai di Desa Mejuwet, Kec. Sumberrejo, Kab. Bojonegoro (kanan).

RDP