Berita ยป Penjajakan Pengembangan Benih Kedelai GMO

Arahan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Dr. Ir. Suwandi, M.Si. pada acara FGD

Arahan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Dr. Ir. Suwandi, M.Si. pada acara FGD

Benih merupakan salah satu faktor penentu produktivitas kedelai. Permasalahan penyediaan benih terus diperkuat, dan dalam rangka antisipasi pemenuhan kebutuhan benih kedelai, maka Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, melaksanakan FGD untuk membahas penjajakan pengembangan benih kedelai GMO (Genetically Modified Organisms) pada tanggal 18 April 2021, yang dilakukan secara luring (Hotel Grand Savero, Bogor) dan daring. Dr. Ir. Titik Sundari, MP. (Kepala Balitkabi), Trustinah (UPBS Balitkabi), Ayda Krisnawati (pemulia kedelai Balitkabi), dan Muchlish Adie (anggota tim Pokja Kedelai tahun 2021) mengikuti acara FGD secara daring.

Hadir pada pertemuan diantaranya adalah dari Komisi Keamanan Hayati (KKH), Staf Khusus Menteri Pertanian bidang Kebijakan Pertanian, Badan Karantina Pertanian, dan Tim Pokja Kedelai. Arahan Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, adalah terus memperkuat capaian CPCL kedelai, menata kesesuaian musim yang mengalami perubahan, dan mengawal kontrak pertanaman yang diarahkan untuk dijadikan benih kedelai pada musim berikutnya. Di luar aspek penting tersebut, Suwandi mempertanyakan dua hal yang sering menjadi pertanyaaan, yakni (1) mengapa kedelai PRG (produk rekayasa genetik) bisa diimpor, apakah bisa ditanam di Indonesia, dan (2) mempertanyakan peluang benih kedelai impor (PRG), bisa atau tidak, dan apa persyaratannya. Hal-hal tersebut yang menjadi topik bahasan untuk segera dirumuskan. Suwandi juga mengemukakan bahwa pandemi Covid-19 membawa harga kedelai menjadi mahal, namun bagaimana jika Covid-19 telah teratasi, bagaimana posisi harga kedelai dalam negeri.

PRG (GMO) diposisikan tidak hanya terkait dengan penyediaan benih dalam negeri. Keamanan pangan, pakan, dan lingkungan harus menjadi perhatian dan sudah ada regulasinya. Demikian juga benih impor harus dilakukan analisis resiko, apakah terbawa OPT lain yang akan membahayakan. Apalagi peredaran benih di Indonesia juga sudah diatur dalam suatu aturan. Peserta FGD memberikan pandangan bahwa impor benih PRG hanya menjadi alternatif jangka menengah bahkan jangka panjang. Yang lebih penting adalah mengoptimalkan penyediaan benih menggunakan VUB kedelai yang sudah ada saat ini, karena akan lebih adaptif pada lingkungan Indonesia.

AK

gmo1 gmo1
Peserta FGD yang mengikuti secara daring dan luring