Berita ยป Pentingnya Kesesuaian antara Komoditas dengan Agroekosistem

dar

Keberhasilan pengembangan atau budidaya suatu komoditas sangat bergantung pada kondisi lingkungannya. Oleh karena itu, informasi tentang kesesuaian antara komoditas dengan setiap agroekosistem merupakan pengetahuan yang sangat penting sebagai dasar dalam mengembangkan komoditas pertanian di suatu wilayah. Kementerian Pertanian melalui BPSDLP berusaha merilis dan mengkaji informasi tentang kesesuaian tersebut. Balitkabi sebagai salah satu instansi Badan Litbang Kementerian Pertanian mendapatkan mandat untuk menyusun rekomendasi kesesuaian komoditas kedelai di berbagai agroekosistem. Penyusunan rekomendasi kedelai di Balitkabi ditugaskan kepada Prof. Dr. Sudaryono dan Dr. Andy Wijanarko sebagai peneliti bidang tanah. Konsep dasar kegiatan penelitian untuk menentukan rekomendasi kesesuaian lahan untuk pengembangan kedelai disampaikan pada seminar rutin Balitkabi.

Penelitian rekomendasi kesesuaian lahan untuk pengembangan kedelai dilakukan pada delapan agroekosistem yaitu lahan sawah irigasi, sawah tadah hujan, lahan kering non masam, lahan kering masam, lahan pasang surut tipe C dan D, lahan rawa dangkal, dan lahan tumpangsari dengan tanaman hutan dan perkebunan. Setiap lahan tersebut akan ditetapkan varietas kedelai prioritas yang harus dikembangkan. Misalnya pada lahan sawah irigasi, varietas kedelai yang utama dapat dikembangkan berturut-turut adalah Dega, Anjasmoro, Detam, Argomulyo, dan Grobogan. Pada lahan kering masam, varietas utama yang potensial dikembangkan adalah Tanggamus dan Demas, sedangkan pada lahan ternaungi berturut-turut adalah Dena 1 dan Dena 2.

Selain penetapan prioritas varietas, rekomendasi pengembangan kedelai juga dilengkapi dengan teknologi budidaya yang sesuai dengan kondisi agroekosistem. Misalnya pengembangan kedelai pada lahan sawah irigasi setelah padi tidak perlu melakukan olah tanah, sedangkan pada lahan kering masam perlu dilakukan olah tanah dan perlu penambahan amelioran serta pemberian pupuk kandang yang lebih banyak.

Penyampaian gagasan dan ide mendapat sambutan antusias dari para peneliti. Misalnya beberapa peneliti menanyakan mengapa pembagian agroekosistem berdasarkan ketinggian tempat hanya dibagi dua saja padahal ketinggian tempat juga sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman kedelai. Prof. Dr. Sudaryono menjelaskan bahwa masalah tersebut sudah disampaikan kepada perintis dalam hal ini BPSDLP tetapi mereka tetap konsisten hanya membagi ketinggian tempat menjadi dua saja. Peneliti lain juga menanyakan bagaimana pengendalian hama dan penyakitnya, apakah harus ada pengkajian menurut agroekosistem. Prof. Dr. Sudaryono menanggapi bahwa untuk masalah hama atau penyakit yang berhubungan dengan spesifik agroekosistem perlu ditangani, tetapi untuk yang tidak terikat agroekosistem tertentu tidak perlu dilakukan pengkajian khusus. Acara seminar ditutup dengan saran dan masukan dari Kepala Balai yang mengharapkan agar tugas ini dapat diselesaikan dengan baik serta tepat waktu sehingga dapat dimanfaatkan oleh pihak pengguna.


Sutrisno