Berita ยป Peran Ubikayu dalam Program Kedaulatan Pangan

uk1

Peningkatan jumlah konsumsi beras secara nasional dari tahun ke tahun menjadi ancaman besar bagi bangsa Indonesia. Hal ini karena jumlah produksi berada jauh dibawah tingkat konsumsi sehingga pemenuhan kebutuhan beras sangat tergantung kepada impor. Membangun kembali kesadaran masyarakat akan sumber bahan pangan nonberas menjadi salah satu solusi dalam memenuhi kebutuhan pangan. Berdasarkan hal tersebut, Prof. Dr. Subandi menyampaikan ajakan untuk meningkatkan konsumsi pangan nonberas pada kesempatan seminar intern Balitkabi. Seminar diadakan di Aula Balitkabi tanggal 23 Februari 2016 dan dihadiri oleh seluruh peneliti serta pejabat teras Balitkabi. Selain beliau, seminar juga diisi dengan penyampaian hasil penelitian tentang teknologi budidaya ubikayu yang disampaikan oleh Ir. Abdullah Taufiq, M.P.

Dalam presentasinya, Prof. Subandi menyampaikan bahwa ubikayu merupakan komoditas tanaman yang luar biasa. Pertama, tanaman ubikayu memiliki kemampuan memberikan hasil panen jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman pangan lain. Menurut pengamatan di lapangan, hasil ubikayu berkisar antara 40 hingga 100 ton per hektar sedangkan pada tanaman pangan lain seperti jagung dan padi hanya sekitar 7 hingga 10 ton per hektar. Pemanfaatan ubikayu sebagai sumber karbohidrat tentu akan sangat membantu mewujudkan ketersediaan bahan pangan masyarakat Indonesia. Selain itu tingginya unsur Ca dan beberapa nutrisi penting lain juga menjadi daya tarik tersendiri pentingnya mengkonsumsi ubikayu. Alasan kedua adalah ubikayu memiliki adaptabilitas yang luas. Tanaman ubikayu dapat ditanam pada berbagai kondisi lapang suboptimal, misalnya toleran terhadap kekeringan, lahan masam, toleran terhadap perawatan minimal, serta responsif terhadap pemupukan dan pemeliharaan. Artinya tanaman ubikayu dapat hidup pada berbagai kondisi lahan dari yang subur hingga yang kurus, dari dataran tinggi hingga dataran rendah. Penanaman ubikayu secara luas pada lahan suboptimal akan memberikan dampak positif bagi petani karena penanaman dan pemeliharan relatif mudah dibandingkan tanaman lain. Dengan kedua kelebihan tersebut maka menanam dan mengkonsumsi ubikayu menjadi alternatif termudah dalam memenuhi kebutuhan pangan dan meringankan beban petani dalam memenuhi biaya produksi tanaman. Pada presentasi kedua, Ir. Abdullah Taufiq, M.P. menyampaikan hasil penelitian tentang aplikasi pupuk Kalium pada ubikayu. Dalam presentasinya beliau menyampaikan bahwa aplikasi pupuk Kalium secara terus-menerus pada tanaman ubikayu dapat menyebabkan penurunan hasil ubikayu. Untuk menjaga agar produktivitas selalu stabil, aplikasi pupuk organik menjadi alternatif terbaik dalam pengembangan budidaya ubikayu secara kontinyu. Pemaparan kedua presenter sangat menarik karena mampu memberikan pencerahan yang mendalam tentang pentingnya menggunakan ubikayu sebagai substitusi pangan dan bagaimana upaya yang harus dilakukan agar produktivitas ubikayu tetap stabil sehingga petani tidak merasa rugi.

Sutrisno