Berita » Percepatan Penyiapan Laporan Tahunan

CakWin-1

Untuk mempercepat proses penerbitan, setiap penulis mestinya mengikuti panduan penulisan yang sudah ditentukan atau disepakati bersama. Jika itu diikuti maka proses penyuntingan laporan bisa lebih mudah dan lancar, sehinggacepat diselesaikan. Demikian disampaikan oleh Achmad Winarto dan Arif Musaddad, staf dan Kepala Jaslit Balitkabi, yang menyampaikan materi “Membantu Percepatan Penyiapan Laporan Tahunan” pada Seminar Intern di Aula Serbaguna Balitkabi, Kamis (31/10). Standar yang disampaikan Pak Win, bukan substansi penelitian, namun lebih pada aspek kepublikasian, sepertirambu-rambu untuk pembuatan judul (penjudulan, termauk sub-judul), pentabelan, peletakan ilustrasi, dan satuan standar, termasuk software yang digunakan. Sedikit kebahasaan baku juga disinggung untuk mengingatkan kembali bahwa kita memiliki Bahasa Indonesia baku yang harus diikuti dan dipelihara.

Dalam publikasi perlu menyeimbangkan antara uraian/teks, tabel dan ilustrasi. Uraian harus jelas, tidak bermakna ganda, dan denotatif, bukan konotatif. Demikian juga Tabel dan Ilustrasi harus difungsikan sesuai tujuannya.Tabel dan ilustrasi digunakan cocok untuk meringkas, dan memperjelas, dan efisiensi.Tabel dan ilustrasi harus dimanfaatkan untuk memampatkan halaman menghemat halaman. “Oleh karena itu kepada peneliti/penulis mohon menyertakan foto-foto agak banyak, karena kami membutuhkan untuk harmonosasi tersebut”, tutur Pak Arif menambahkan.Namun proporsi antara teks dengan tabel dan ilustrasi harus seimbang sehingga terbitan tampak artistik, tidak sesak, dan enak dipandang.

Kolom dan baris dalam tabel hendaknya dibatasi. Tabel dengan banyak kolom dan berderet-deret baris justrumenambah tulisan menjadi tidak jelas. “Pada program aplikasi MS Words, sisipkan tabel di antara teks dengan perintah ‘Insert Tabel’, lalu tentukan kolom dan barisnya sesuai dengan kebutuhan”. Jelas Pak Win sambil memberi contoh dengan transparansi. Pak Win juga menyatakan bahwa pengunaan “di”, “ke”, “dari” masih sering kacau. “Mohon bapak dan ibu peneliti jangan enggan membuka Pedoman Ejaan, Istilah, dan Kamus Bahasa Indonesia. Semuanya ada” pinta Editor beberapa publikasi Balitkabi ini.


Pak Winarto sedang menyampaikan paparannya untuk menstandarkan format bahan Laporan, di depan Kepala Balitkabi, peneliti, dan calon penyunting/penulis di Aula Balitkabi, Kamis( 31/10/2022).

Demikian juga ilustrasi. Ilustrasi bisa berbentuk gambar, foto, artwork, diagram. Ilustrasi harus tajam, kontras, dan betul-betul diperlukan sebagai penggambaran visual. Insert-kan ilustrasi di dalam kolom/baris Tabel agar tidak mengubah tampilan. Gambar yang terlalu besar ukurannya boleh diperkecil, namun jangan dipadatkan (dikompres). “Jika terpaksa meng-compress, gunakan resolusi minimal 200 dpi, dan sertakan file aslinya sehingga penyunting bisa mengambil gambar yang masih tajam dan kontras” lanjutnya.

Pak Arif menambahkan bahwa laporan tahunan harus bersifat mandiri, bisa dibaca tuntas, dan tidak meninggalkan tandatanya para pembaca. Tabel dan ilustrasi juga harus mandiri, sehingga harus dilengkapi dengan tempat dan tahun pengambilan data. Gambar yang tidak jelas mengharuskan editor pelaksana menggambar ulang. “Ini sangat menyita waktul”.

Perlu diketahui bahwa beberapa pihak terlibat dalam pembuatan laporan, yaitu penulis, penyunting (termasuk penyunting pelaksana), dan pencetak. Sedang proses penerbitan publikasi melalui tahapan-tahapan: (1) pengumpulan laporan, (2) penyuntingan, dan (3) penataletakan (setting dan layout), lalu (4) pencetakan. Proses yang paling memakan waktu adalah pengumpulan dan penyuntingan naskah. Di samping itu ada beberapa software yang digunakan, antara lain pengolah kata, pengolah data dan grafik, dan pengolah gambar/ilustrasi seperti Correl Draw.Agar penyuntingan berjalan lebih cepat maka rambu-rambu seperti yang diseminarkan Pak Win perlu diikuti. Sebab seringkali proses penyuntingan terhenti karena Tabel dan ilustrasi yang bermasalah.

Dari presentasi ini ada beberapa usulan agar Pak Win membuat buku dari pengalamannya dan materi yang diseminarkan. “Buku tersebut akan sangat bermanfaat bagi kami”, tutur Dina, peneliti yunior yang juga mengurusi UPBS yang diamini beberapa peneliti, termasuk Prof Marwoto dan Kepala Balitkabi. “Akan sangat bagus kalu Pak Win yang kaya pengalaman dalam publikasi bisa membuat menjadi buku”, harap Pak Muchlish.

Sebelumnya, seminar intern yang dimoderatori oleh Dr Titik Sundari ini juga diisi oleh Ir Suhartina bersama Dr Muchlish Adie, yang melaporkan kunjungan ke Korea Selatan. Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka kerjasama AFACI antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Korea Selatan. Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan telah melaksanakan proyek kerjasama sejak tahun 2010. Kerjasama ini dinaungi oleh program AFACI (Asian Food and Agricultire Cooperation Iniciative).

Ir. Suhartina, M.P., menyeminarkan laporan dari kunjungan ke Korea Selatan di Aula Balitkabi, Kamis (31/10/2022).