Berita ยป Perhutani Gandeng Balitkabi Jajaki Pengembangan Porang di Nganjuk dan Madiun

Kegiatan pengambilan observasi ekosistem calon lokasi pengembangan porang

Kegiatan pengambilan observasi ekosistem calon lokasi pengembangan porang

Budidaya porang pada saat ini tidak hanya diminati oleh petani di nusantara, tetapi juga mulai banyak dilirik oleh pemain besar, seperti perusahaan swasta maupun perusahaan negara. Perusahaan negara (Perhutani) yang selama ini bergerak di bidang kehutanan agribisnis jati dan sekaligus sebagai pengayom petani porang di Jawa Timur, khususnya wilayah Madiun dan Nganjuk, berencana mengembangkan porang di wilayah kerjanya untuk meningkatkan pendapatan usahanya. Untuk mewujudkan hal tersebut, Perhutani menggandeng Balitkabi untuk melakukan studi kelayakan terhadap wilayah yang menjadi rencana pengembangan. Dalam tahap awal studi kelayakan yang dilakukan adalah mengkaji kesesuaian lahan pada kondisi tanah dan ekosistemnya.

Rencana pengembangan porang direncanakan seluas 600 ha. Untuk mencapai luasan tersebut, pada tahun pertama akan dilakukan penanaman seluas 200 ha dengan jarak tanam rapat. Pada tahun ke-2, umbi hasil panen tahun pertama ditanam dengan jarak tanam lebih lebar sehingga menjadi 400 ha, dan pada tahun ketiga ditanam dengan jarak lebih lebar lagi, sehingga menjadi 600 ha. Lokasi yang dipilih direncanakan di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Nganjuk dan KPH Saradan. Lokasi KPH Nganjuk direncanakan ada sekitar 4 lokasi, sedangkan di wilayah Saradan direncanakan ada 12 lokasi.

Lokasi rencana pengembangan mayoritas lahan hutan jati dengan variasi umur beragam antara 10 hingga 100 tahunan. Jarak pohon juga bervariasi cukup lebar, antara 3 m hingga 10 m, sesuai umur tanaman. Vegetasi rumput berbeda-beda, ada rumput ilalang, semak, bahkan tidak terdapat tanaman rumput, kecuali lahan yang ditutupi permukaan daun jati kering. Kondisi tanah mulai dari berbatu, kerikil, tanah remah hingga tanah liat, sehingga memiliki tingkat kepadatan bervariasi. Tingkat naungan antara 50% hingga 70% sesuai kondisi umur, kerapatan, dan kesuburan pohon jati.

Analisis kelayakan lahan berdasarkan kondisi tanah dikaji terhadap karakter kedalaman horizon tanah, warna tanah, pH tanah kondisi lapang, kekerasan tanah, tingkat naungan, penutupan permukaan tanah, tekstur tanah, konsistensi tanah, plastisitas tanah, pH-H2O, dan Daya Hantar Listrik (DHL) atau salinitas tanah. Berdasarkan parameter fisik tanah, serta kimia tanah yang diukur menunjukkan sebagian besar lahan sesuai hingga kurang sesuai untuk lokasi pengembangan porang. Faktor penyebab kurang sesuai terutama adalah lapisan tanah atas dangkal dan keras. Untuk meningkatkan kesesuaiannya, diperlukan pengolahan tanah hingga dicapai lapisan olah setidaknya 20 cm. Pengolahan tanah tetap perlu mempertimbangkan aspek konservasi tanah dan perakaran tanaman utama (jati).

Berdasarkan parameter fisik lahan menunjukkan sebagian besar lahan kurang sesuai untuk lokasi pengembangan porang karena tingkat naungan yang umumnya tinggi. Untuk meningkatkan kesesuaiannya perlu dilakukan pengurangan cabang/perompesan pada tanaman utama untuk mengurangi tingkat naungan terutama pada musim hujan. Kondisi permukaan lahan yang pada umumnya dipenuhi seresah daun jati, dan vegetasi lain perlu dipertimbangkan untuk dilakukan pembersihan dalam penyiapan lahan.
STR/AT/NN/AA

perhutani1 perhutani2 perhutani3
Suasana rapat dengan pihak Perhutani dalam rangka perencanaan pengembangan lahan porang, diskusi di lapang tentang situasi lahan calon pengembangan porang, dan analisis warna tanah berdasarkan buku Munsell Color Chart.