Berita ยป Perkembangan Kegiatan GP-PTT Kedelai di DIY

Luas pertanaman kedelai di Provinsi DI Yogyakarta tahun 2014 mencapai 16.337 hektar dengan produktivitas 1,2 t/ha. Tahun 2015, program kegiatan GP-PTT (Gerakan Pelaksanaan Pengelolaan Tanaman Terpadu) Kedelai di DI Yogyakarta dilaksanakan di tiga kabupaten, yakni Gunung Kidul, Kulonprogo, dan Bantul.

Tiga peneliti Balitkabi yaitu Prof. Dr. Astanto Kasno, Ir. Trustinah, MS., dan Kartika Noerwijati pada tanggal 26โ€“28 Juli 2015 berkesempatan untuk melihat perkembangan pelaksanaan GP-PTT dan mengetahui kendala yang ada pada pelaksanaan GP-PTT di provinsi DI Yogyakarta.

Lahan pertanian di Kab Gunung Kidul sebagian besar merupakan lahan kering, sehingga kedelai ditanam pada MK 1. Pada akhir Juli 2015, seluruh pertanaman GP-PTT kedelai sudah panen. Varietas yang ditanam sebagian besar adalah Grobogan terutama di Kecamatan Playen dan Semin.

Kegiatan GP-PTT di Kab Bantul terutama di Kecn Pandak dilakukan pada areal seluas 150 ha. Pola tanam di daerah ini adalah padi-padi-palawija, dan sebagian besar kedelai ditanam pada awal Juni 2015. Kondisi pertanaman kedelai secara umum baik, dan sebagian mulai menguning.

Varietas yang ditanam adalah Anjasmoro, Argomulyo, dan Grobogan. Pada tahun-tahun sebelumnya, potensi hasil kedelai 3 t/ha dapat dicapai di daerah Pandak, dan varietas yang paling disukai adalah Anjasmoro karena memiliki ukuran biji yang besar.

Hasil biji kedelai varietas Kaba dapat mencapai 3,3 t/ha, namun kurang diminati petani karena ukuran biji dianggap kurang besar. Di Kabupaten Kulon Progo, kegiatan GP-PTT yang dilakukan di Kecamatan Lendah dengan luasan 160 ha.

Pola tanam di daerah ini sama dengan Kecamatan Pandak, Bantul yaitu padi-padi-kedelai. Varietas yang ditanam adalah Grobogan yang benihnya berasal dari PT Pertani. Daya tumbuh benih sangat rendah yaitu hanya sekitar 40% sehingga dilakukan penyulaman oleh sebagian petani dan menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak seragam.

Selain GP-PTT kedelai, di Provinsi DIY terdapat pula kegiatan perbenihan yang dilakukan oleh BPTP DIY. Kegiatan perbenihan di Gunung Kidul di antaranya menanam varietas Anjasmoro, Argomulyo, dan Grobogan. Sedangkan di Kecamatan Pandak, Bantul ada sekitar 20 ha ditanami varietas Anjasmoro.

Saat observasi dilakukan, kondisi pertumbuhan tanaman cukup baik, namun ada di sebagian lokasi yang tanamannya tumbuh pendek karena tercekam kekeringan. Di Kabupaten Kulon Progo, ditanam varietas Argomulyo.

Kondisi pertanaman lebih jelek dibandingkan yang di Bantul karena tercekam kekeringan dan daya tumbuh benih rendah.Permasalahan utama yang dijumpai adalah petani lebih suka membeli benih dari pasar atau petani produsen benih walaupun tidak bersertifikat.

Bagi penangkar, sertifikasi agak menyulitkan karena masa berlakunya terbatas, sedangkan benih tanpa sertifikat bila disimpan dengan baik masih memiliki daya tumbuh yang tinggi (90%) meskipun disimpan selama satu tahun. Kunci penyimpanan benih cara petani adalah setelah diproses dan dengan kadar air sekitar 9% benih dikemas dengan kantong plastik tebal kemudian disimpan dalam tong/drum.

Drum hanya boleh dibuka jika akan digunakan sebagai benih. Bagi petani, benih bersertifikat tidak penting asal daya tumbuh dan ukuran biji sesuai dengan yang diinginkan. Dalam hal ini, tampaknya petani lebih percaya kepada penangkar benih tradisional daripada benih dengan label sertifikasi.

Permasalahan berikutnya adalah ketersediaan air. Air merupakan faktor pembatas usahatani kedelai di lahan sawah dengan pola tanam: padi-padi-kedelai. Di lokasi kunjungan, tidak terlihat adanya sumur Pantek untuk pengairan kedelai.

Air hanya tergantung dari saluran irigasi yang sedang diperbaiki, dan dijanjikan selesai tanggal 1 Agustus 2015 pada saat kedelai akan dipanen. Dalam kondisi tercekam kekeringan dan kedelai masih memberikan hasil dianggap baik, dan inilah urgensinya diperlukan varietas kedelai toleran kekeringan pada pola tanam padi-padi-kedelai.

Permasalahan klasik yang hingga kini masih menghantui usahatani kedelai adalah tidak adanya jaminan harga. Namun demikian di kabupaten Bantul dan Kulon Progo, harga kedelai masih cukup bagus. Harga kedelai per kilogram di tingkat petani saat ini adalah Rp7.000 hingga Rp8.000.

Kondisi pertanaman kedelai kegiatan GP-PTT di Kec Pandak, tanaman kedelai tumbuh kurang optimal karena kurang perawatan (kiri), tanaman kedelai dengan pertumbuhan optimal milik pak Wardono (tengah), dan kondisi pertanaman kedelai kegiatan GP-PTT di Kec. Lendah โ€“ Kulon Progo (kanan).

Kondisi pertanaman kedelai kegiatan GP-PTT di Kec Pandak, tanaman kedelai tumbuh kurang optimal karena kurang perawatan (kiri), tanaman kedelai dengan pertumbuhan optimal milik pak Wardono (tengah), dan kondisi pertanaman kedelai kegiatan GP-PTT di Kec. Lendah โ€“ Kulon Progo (kanan).

Kondisi pertumbuhan kedelai perbenihan BPTP DIY di Kec Pandak, Kab Bantul (kiri) dan di Kec Lendah, Kab Kulon Progo (kanan).

Kondisi pertumbuhan kedelai perbenihan BPTP DIY di Kec Pandak, Kab Bantul (kiri) dan di Kec Lendah, Kab Kulon Progo (kanan).

KN/AK/T