Berita » Pertemukan Hulu-Hilir dengan FFD Kacang Tanah di Pacitan

katana

Kegiatan ekstensifikasi dan diversifikasi tanaman aneka kacang dan umbi merupakan program yang diselenggarakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas nasional tanaman akabi salah satunya adalah kacang tanah. Pada tahun 2019 ini program pengembangan kacang tanah berada di Dusun Sabrang, Desa Sedayu, Kecamatan Pacitan wilayah Kelompok Tani “Makmur Rukun V” dengan lahan percontohan seluas 2 ha.

Paket teknologi pengembangan kacang tanah berupa benih varietas Kidang, pupuk organik dengan dosis 1,0 t/ha, dan NPK dosis 250 kg/ha. Untuk mengevaluasi pelaksanaan program tersebut diselenggarakan Hari Temu Lapang Petani (Farm Field Day) di Kelompok Tani “Makmur Rukun V”, Dusun Sabrang, Desa Sedayu, Kabupaten Pacitan, pada 3 September 2019 diikuti oleh 25 orang petani kooperator. Menurut Kasi Akabi dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Kusworo, FFD akabi tahun ini mencoba mempertemukan petani sebagai komponen hulu serta mendekatkan bagian hilir yaitu pengusaha olahan kacang tanah. Kegiatan FFD menghadirkan tiga narasumber yaitu Kabid. Tanaman Pangan dan Hortikutura Dinas Pertanian Kabupaten Pacitan (Gatut Suwarno), Peneliti Balitkabi (Herdina Pratiwi), dan Pengusaha Sambel Pecel di wilayah Kecamatan Arjosari (Budi Siswanto). Kegiatan FFD diawali dengan peninjauan demfarm untuk melihat pertanaman kacang tanah dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi.

Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kab.Pacitan mengemukakan bahwa kendala utama pengembangan kacang tanah di Pacitan adalah kesuburan tanah dan ketersediaan air yang sangat terbatas, topografi yang miring, keterbatasan biofisik dan penguasaan lahan, serta penerapan teknologi yang masih terbatas sehingga produktivitas belum optimal hanya sekitar 1,3 t/ha. Kecamatan Arjosari khususnya Desa Sedayu sebenarnya bukan sentra utama kacang tanah di Kabupaten Pacitan namun secara turun-temurun kacang tanah merupakan tanaman pengisi lahan pada musim kemarau setelah padi. Sistem budi daya masih dilaksanakan secara sederhana dengan mengandalkan benih yang didapat dari pasar dengan asal-usul benih yang tidak jelas. Pola budi daya yang juga menjadi tradisi petani setempat adalah cara tanam tumpang sari kacang tanah dengan beberapa komoditas lain yang diinginkan seperti kacang panjang, ubi kayu dan cabai, tetapi tanpa memperhatikan penataan tata letak atau jarak tanam antar komoditas.

Demfarm percontohan kacang tanah (kiri) dan peninjauan di lapang (kanan)

Demfarm percontohan kacang tanah (kiri) dan peninjauan di lapang (kanan)

Narasumber dari Balitkabi memberikan masukan dari segi teknologi budidaya untuk pertanaman kacang tanah. Menurut Herdina, secara umum pertanaman kacang tanah di demfarm tersebut cukup baik serta serangan hama penyakit relatif rendah. Jarak tanam sesuai rekomendasi dari Dinas Pertanian Jawa Timur yaitu 40 cm x 20 cm, lebih lebar daripada jarak tanam anjuran Balitkabi yaitu 40 x 10-15 cm. Di sekeliling bedengan, petani menanam kacang panjang, juga ada beberapa petani yang menanam ubi kayu, akibatnya kacang tanah menjadi ternaung.

Keragaan tanaman demfarm telah berumur 70 hari, dengan jumlah polong sekitar 20 polong per tanaman. Untuk memperbaiki sistem tumpangsari yang ada, narasumber Balitkabi memberikan contoh pengaturan pola tumpang sari kacang tanah dengan ubi kayu dengan jarak tanam baris ganda untuk ubi kayu (60 cm x 70 cm) x 260 cm dan jarak tanam kacang tanah 40 cm x 15 cm satu biji per lubang. Diperkenalkan pula varietas-varietas terbaru yang telah dirakit oleh Balitkabi, terutama varietas yang sesuai dengan agroekosistem Desa Sedayu seperti Takar 2 dan Hypoma 2. Proses penanganan pasca panen kacang tanah baik untuk pangan maupun benih juga disampaikan sehingga diharapkan ke depan petani dapat menyediakan benih secara mandiri.

Penyampaian materi dan evaluasi dari Balitkabi

Penyampaian materi dan evaluasi dari Balitkabi

Narasumber dari pabrik pengolahan kacang tanah, Budi Siswanto menginformasikan peluang pasar baru untuk petani kacang tanah di Dusun Sabrang. Menurut perajin sambal pecel “Karunia” itu, “ sampai sekarang masih kekurangan bahan baku kacang tanah ose sehingga harus mendatangkan dari luar Pacitan”. Selain itu rantai yang panjang dari petani, tengkulak, dan pabrik mengakibatkan harga di tingkat petani rendah dan sebaliknya harga bahan baku menjadi mahal. Peluang tersebut dapat mendekatkan hulu-hilir dengan harga yang sama-sama menguntungkan antara petani dan pengusaha. Jika selama ini dengan sistem tebas harga yang dinikmati petani antara Rp. 8.000-10.000/kg polong basah, maka harga dapat ditingkatkan menjadi Rp. 16.000-18.000/kg dalam bentuk polong kering atau Rp. 28.000/kg dalam bentuk biji. Menurut Budi, bahan baku sambal pecel miliknya membutuhkan kacang tanah berbiji dua dengan warna kulit ari putih atau merah muda sehingga rasa lebih manis dan penampilan produk akhir lebih bersih. Informasi tersebut memberikan peluang masuknya varietas-varietas baru dari Balitkabi dengan jumah biji dua dan warna kulit ari merah muda. Dengan FFD kacang tanah diharapkan membuka wacana baru bagi anggota kelompok tani tentang sistem produksi kacang tanah yang lebih baik dan memberikan angin segar dalam pemasaran hasil.
HP