Berita » Petani Iseng Haus Inovasi, Ikuti Bimtek Biopestisida

Peserta bimtek Biopestisida bersama Kepala Balitkabi dan Peneliti Proteksi Tanaman

Peserta bimtek Biopestisida bersama Kepala Balitkabi dan Peneliti Proteksi Tanaman.

Berbekal informasi dari seorang teman yang telah menggunakan produk biopestisida berupa SlNPV untuk mengendalikan serangan ulat grayak (Spodoptera litura) pada pertanaman dan berhasil dengan efektif, Iwan Pitono, S.T., anggota Komunitas Pertanian Berkelanjutan Indonesia (KPBI) menjadi tertarik dan semakin penasaran terhadap biopestisida tersebut. Meskipun berlatar belakang Sarjana Teknik, dengan berbekal pemahaman hidup sehat dan kelestarian lingkungan yang tidak lepas dari peran bahan-bahan organik dan biopestisida, Iwan berinisiatif mengajukan permohonan untuk dapat menggali ilmu lebih dalam tentang biopestisida ke Balitkabi.

Bertempat di Balitkabi pada tanggal 18–19 September 2019, sebanyak 20 pelaku langsung bidang pertanian yang tergabung dalam KPBI mengikuti kegiatan bimbingan teknis tentang “Eksplorasi dan Produksi Massal Biopestisida”. Peserta berasal dari berbagai wilayah di Jawa Timur seperti Ponorogo, Trenggalek, Tulung Agung, Nganjuk, Madiun, Blitar, Jember, dan Malang. Dalam sambutannya, Iwan Pitono selaku ketua panitia menyebut komunitasnya sebagai “Petani Iseng yang Haus Inovasi”. Iwan juga menyampaikan harapan untuk bisa terus menjalin hubungan silaturahmi dan kerjasama dengan Balitkabi dalam pemanfaatan dan pengembangan biopestisida ke depannya.

Dr. Yuliantoro Baliadi membuka secara resmi kegiatan bimtek Biopestisida (kiri), Iwan Pitono, S.T. dari KPBI berikan sambutan pada bimtek Biopestisida(kanan)

Dr. Yuliantoro Baliadi membuka secara resmi kegiatan bimtek Biopestisida (kiri), Iwan Pitono, S.T. dari KPBI berikan sambutan pada bimtek Biopestisida (kanan).

Saat membuka bimtek, Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi menyampaikan rasa senang dengan adanya respons positif dari KPBI yang antusias ingin menggunakan biopestisida dalam pengelolaan pertanian. Yuliantoro juga menyebutkan bahwa dengan adanya perubahan iklim, berpengaruh pada perubahan ekologi atau ekosistem, lahan yang awalnya dipenuhi oleh mikroorganisme berangsur-angsur populasinya mulai berkurang. Hal ini tentunya menjadi perhatian bagi para peneliti, petani, dan para pengguna lahan lainnya salah satunya yaitu KPBI.

Selanjutnya, Yuliantoro dalam paparannya menyampaikan bahwa trend lima tahun terakhir, kelompok menengah ke atas penduduk Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Dalam dua–tiga tahun terakhir kelompok menengah ke atas mengalami peningkatan pendapatan 20%–30% sehingga menyebabkan terjadinya perubahan gaya hidup. Masyarakat tersebut menginginkan produk-produk yang sehat dan ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi “Petani Iseng” KPBI ini untuk mengoptimalkan pengembangan pertanian organik melalui pemanfaatan biopestisida secara optimal. Terakhir, Kepala Balitkabi merespons positif keinginan dari KPBI untuk menjalin kemitraan dengan Balitkabi dan diharapkan segera menindaklanjuti MoU mengenai program pengembangan biopestisida yang berkelanjutan.

Kegiatan bimtek berupa penyampaian materi tentang biopestisida dan praktek pembuatan biopestisida di laboratorium dengan narasumber para peneliti proteksi tanaman. Dr. Yusmani Prayogo mengawali materi dengan membingkai biopestisida secara umum, dilanjutkan Ir. Sri Wahyuni Indiati, M.S. yang membawakan materi tentang pestisida nabati dari serbuk biji mimba dan virus entomopatogen SlNPV, kemudian Ir. Sumartini, M.S. menyampaikan materi tentang pestisida nabati untuk pengendalian penyakit tanaman, dan Eriyanto Yusnawan, Ph.D membawakan materi tentang jamur antagonis Trichoderma sp. untuk pengendalian penyakit tular tanah. Materi penutup oleh Marida Santi Yudha SP., M.Agr. menyajikan cara explorasi dan produksi massal cendawan entomopatogen. Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti materi demi materi dan sangat pro aktif dengan mengajukan banyak pertanyaan pada setiap sesi materi.

Pada hari kedua, peserta bimtek diajak berkeliling ke fasilitas pendukung penelitian, salah satunya Laboratorium Sentral. Di tempat ini, peserta dikenalkan cara mengidentifikasi bahan aktif biopestisida baik yang bersifat volatil maupun non volatil dengan alat GC-MS dan UHPLC dengan melihat secara langsung. Selanjutnya peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk bergiliran mengikuti praktek produksi massal biopestisida di laboratorium proteksi tanaman Balitkabi. Mereka sangat bersemangat mengikuti tahap demi tahap proses pembuatan biopestisida ekstrak lengkuas, pestisida nabati dari serbuk biji mimba, SlNPV, perbanyakan Trichoderma sp. dan cendawan entomopatogen Beauveria bassiana serta Lecanicillium lecanii mulai dari penyiapan bahan, penyiapan media, sterilisasi media, dan inokulasi agen hayati.

Saya pikir, Saya rasa, Saya bisa.. Saya bisa..Saya bisa..Kita bisa.. adalah salam kompeten yang diteriakkan oleh anggota KPBI dalam kegiatan penutupan bimtek. Yel-yel tersebut adalah bukti semangat yang ditunjukkan oleh anggota KPBI dalam mewujudkan pertanian Indonesia yang lebih baik dan berkelanjutan. Kepala Balitkabi menutup kegiatan bimtek dengan menyampaikan rasa terima kasih kepada KPBI atas sharing ilmu dan pengetahuan yang telah dilakukan bersama Balitkabi. Kegiatan bimtek ini diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang “Budi Daya dan Motivator Pertanian” antara Balitkabi dengan KPBI. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi KPBI pada khususnya dan petani Indonesia pada umumnya, serta memberikan outcome dan impact bagi Balitkabi tentunya.

Penyerahan sertifikat kepada peserta bimtek (kiri), Penandatangan nota kesepahaman(kanan)

Penyerahan sertifikat kepada peserta bimtek (kiri), Penandatangan nota kesepahaman (kanan).

MS/SWI/YP/EY