Berita » “Petani Kunci” Bertekad Kembangkan Kacang Tanah di Magetan

Dr. Yusmani Prayogo sedang memaparkan materi pada SL Kacang Tanah, Magetan, 24 April 2018

Dr. Yusmani Prayogo sedang memaparkan materi pada SL Kacang Tanah, Magetan, 24 April 2018

Petani kunci adalah petani yang memiliki peran utama dalam pengembangan kacang tanah di Magetan dengan pengawalan AIP-PRISMA (Australia-Indonesia Partnership for Promoting Rural Income Through Support for Markets In Agriculture) dan PT Syngenta Indonesia. Magetan merupakan salah satu kabupaten penghasil kacang tanah terbesar di Jawa Timur, selain Tuban.

Tahun 2018, AIP-PRISMA dan PT Syngenta mengembangkan usaha tani kacang tanah di lima kabupaten di Jawa Timur, yakni Tuban, Magetan, Pasuruan, Trenggalek, dan Bangkalan (Madura) dalam bentuk cluster/komunitas tani. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan produktivitas kacang tanah melalui perbaikan teknik budi daya, antara lain: penggunaan varietas unggul, pengelolaan lahan dan pemupukan, pengendalian hama dan penyakit utama, penanganan pascapanen dan pengolahan, serta mempertahankan mutu kacang tanah.

Pembinaan petani kacang tanah dikemas dalam bentuk sekolah lapang (SL) atau bimbingan teknis (Bimtek) yang diberikan kepada petani kunci, dengan harapan mereka dapat menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki kepada petani lainnya. Tanggal 24 April 2018 yang lalu dilaksanakan kegiatan SL di Magetan yang dihadiri oleh 20 petani. Narasumber yang diundang dari Balitkabi adalah Dr. Yusmani Prayogo (menyampaikan materi “Pengenalan Jenis OPT dan Cara Pengendaliannya) dan Ir. Sumartini, M.S. (menyampaikan materi “Pengenalan Jenis Penyakit dan Cara Pengendaliannya).

Petani peserta SL Kacang Tanah, Magetan, 24 April 2018

Petani peserta SL Kacang Tanah, Magetan, 24 April 2018

Sekolah Lapang bertujuan untuk: (1) Meningkatkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan 20 petani kunci mengenai jenis hama, penyakit, dan pengendaliannya, serta (2) Petani kunci diharapkan dapat menyebarluaskan seluruh ilmu pengetahuan dan keterampilannya selama bimbingan teknis kepada petani anggotanya.

Masalah utama yang dihadapi petani di lapangan adalah lemahnya identifikasi tentang hama dan penyakit yang menyerang tanamannya sehingga teknologi pengendalian yang diterapkan juga kurang berhasil. Dengan demikian, input yang dikeluarkan dalam budidaya kacang tanah cukup tinggi dan kurang ekonomis.

Ambisi para petani kunci yang terlibat dalam kegiatan dengan tagline Good Growth Plant ini cukup tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan kepada narasumber terkait dengan permasalahan yang dihadapi dalam budi daya kacang tanah cukup banyak dan kompleks.

Petani kacang tanah di Magetan cukup berambisi dan sangat antusias dalam budi daya kacang tanah dibandingkan komoditas kedelai. “Keuntungan budi daya kacang tanah cukup menjanjikan, tiap hektar keuntungan bisa mencapai 14 juta,” menurut Prapto, salah satu petani kacang tanah di Magetan, di akhir acara.

YP/Smrt