Berita » Plasma Nutfah Kacang Tanah: Keragaman dan Strategi Pengelolaannya

schwarzPemuliaan kacang tanah di Indonesia mengalami kemajuan pesat, terutama pada 20 tahun terakhir. Diantara 45 varietas unggul kacang tanah yang ada, paling sedikit 46% berasosiasi dengan varietas Schwarz 21 dan Gajah. Hal ini menunjukkan keragaman genetik yang terbatas pada VUB kacang tanah. Artinya pemanfaatan keragaman yang terdapat pada plasma nutfah masih relatif terbatas, ungkap salah satu peneliti senior Balitkabi, Dr. Novita Nugrahaeni, dalam acara seminar internal rutin di Aula Balitkabi pada tanggal 9 Maret 2017. Acara seminar internal dihadiri oleh seluruh peneliti dan teknisi di Balitkabi.

“Plasma nutfah adalah reservoir gen yang digunakan dalam pemuliaan tanaman”, kata Dr. Novita. Efektivitas pemanfaatan plasma nutfah tergantung pada pemahaman keragaman genetik yang ada dan informasi gen yang ada pada masing-masing aksesi. Informasi tersebut didapatkan dari kegiatan karakterisasi dan evaluasi.

Dari serangkaian kegiatan pengujian yang dilakukan di Balitkabi, diketahui bahwa keragaman plasma nutfah kacang tanah koleksi Balitkabi cukup besar. “Kita memiliki aksesi yang bobot biji per 100 bijinya mencapai 73 g”, ujar Dr. Novita. Dalam klasifikasi kacang tanah di Indonesia, standar ukuran biji besar yang umum dipakai adalah >55 g. Begitupun dengan ukuran polong, kategori ukuran polong besar di Indonesia umumnya >155 g per 100 biji. “Tetapi di koleksi plasma nutfah, kita memiliki ukuran polong mencapai 216 g per 100 biji”, Dr. Novita menambahkan keterangannya. Masih banyak lagi, keragaman lainnya (warna kulit ari biji, kandungan lemak, ketahanan terhadap OPT, maupun adaptasinya terhadap lingkungan tertentu) yang sangat sayang jika tidak dimanfaatkan oleh pemulia untuk perbaikan sifat tertentu.

Namun demikian, pengelolaan plasma nutfah yang jumlahnya besar membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit. Diperlukan strategi khusus untuk tetap menjaga keragaman koleksi dalam suatu kelompok yang cukup dapat mewakili keragaman di koleksi asal. Salah satunya dengan cara membuat koleksi inti (core collection). Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk membentuk koleksi inti, yang paling mudah adalah dengan mengelompokkan koleksi menjadi beberapa bagian, misalnya pengelompokkan berdasarkan galur, introduksi, varietas local, dan varietas unggul.

Peserta seminar cukup antusias dengan topik yang dipaparkan, dan sangat mendukung langkah yang ditempuh untuk membuat koleksi inti dan menggali informasi melalui kegiatan karakterisasi dan evaluasi. Di akhir acara, Dr. Novita menutup paparannya dengan kalimat “Tanpa informasi karakter yang tersimpan di dalamnya, koleksi plasma nutfah akan menjadi musium aksesi tanaman atau herbarium hidup”.

schwarz1RTH