Berita ยป Porang, Umbi Komersial Masa Kini dan Mendatang

Kepala Puslitbangtan Dr. Haris Syahbuddin, DEA dan Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi dalam diskusi menguak porang di Madiun (sumber foto : Dr. Yuliantoro Baliadi)

Kepala Puslitbangtan Dr. Haris Syahbuddin, DEA dan Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi dalam diskusi menguak porang di Madiun (sumber foto : Dr. Yuliantoro Baliadi)

Tanaman porang menjadi primadona dalam beberapa tahun terakhir. Umbi porang telah diekspor ke beberapa Negara seperti Korea, Vietnam, China, dan Jepang, dengan jumlah ekspor yang meningkat setiap tahunnya. Melihat peluang yang sangat menjanjikan itu, Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo (SYL) menugaskan Balitbangtan untuk mulai membidik pengembangan komoditas tersebut. Kepala Puslitbang Tanaman Pangan Dr. Haris Syahbuddin, DEA dan Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi selaku pemegang mandat komoditas tersebut langsung menuju lokasi sentra porang, di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun Jawa Timur pada Sabtu, 16 November 2019.

Bertempat di gedung Balai Desa Klangon, Dr. Harris Syahbudin dan Dr. Yuliantoro Baliadi berdiskusi dengan perangkat desa dan penyuluh pertanian Desa Klangon. Topik bahasan yang diangkat mengenai sejarah porang hingga pemasaran porang di desa klangon dan sekitarnya.

Menurut keterangan Pemangku Desa Klangon, porang sudah mulai dimanfaatkan untuk konsumsi sejak masa penjajahan Jepang. Penjajah Jepang pada saat itu sudah memanfaatkan umbi porang untuk dikonsumsi. Namun baru sekitar tahun 1970-an, umbi porang mulai dikomersialkan di Desa Klangon. Saat ini harga chips umbi porang mencapai Rp11.000,00 hingga Rp17.000,00 per kg tergantung musim dan kualitas umbi. Hasil umbi porang per hektar dapat mencapai 11 ton.

Budi daya tanaman porang sebenarnya tergolong mudah. Penanaman porang dapat dilakukan satu kali dan dipanen setelah berumur tiga tahun jika tanam dari biji katak atau bulbil. Setelah tanaman berumur tiga tahun, panen dapat dilakukan setiap tahun. Tanaman yang telah berumur satu tahun, sudah menghasilkan bulbil dan bulbil masuk ke dalam tanah kemudian mulai tumbuh menjadi umbi. Ketika bulbil pertama sudah umur 3 tahun dan dipanen, bulbil yang dihasilkan pada tahun kedua sudah menjadi umbi yang berusia 2 tahun sehingga dapat dipanen pada tahun berikutnya. Kebutuhan bibit porang bervariasi berkisar 250 – 450 kg per ha, tergantung ukuran umbi. Demikian pula halnya dengan harga bibit umbi juga bervariasi tergantung dari ukurannya.

Selain memiliki potensi pasar yang besar dan harga yang menggiurkan, budi daya porang juga menghadapi beberapa kendala. Kendala utama pada saat ini adalah terbatasnya ketersediaan pupuk bersubsidi, disamping juga keterbatasan penyediaan pupuk kandang. Keluhan lain berupa perlindungan tanaman porang di kancah perdagangan internasional, dikhawatirkan penjualan umbi porang juga diiringi dengan penjualan bulbil yang memungkinkan hilangnya bulbil lokal Indonesia berkembang di luar negeri. Untuk itu diperlukan perlindungan dan pembatasan penjualan umbi bibit porang agar komoditas ini tetap terjaga kelestarian plasma nutfahnya dan dapat menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Menanggapi informasi yang disampaikan oleh perangkat desa dan penyuluh pertanian, Dr. Haris menyampaikan bahwa pemerintah akan berusaha menyediakan alokasi khusus pupuk untuk komoditas porang. Pemerintah juga akan melakukan perlindungan terhadap keanekaragaman tanaman pangan Indonesia. Penting segera menurunkan tim peneliti dari Balitkabi untuk melakukan pemutihan varietas lokal porang dari daerah Madiun dan sekitarnya serta melakukan koordinasi dengan Badan Karantina dalam pengawasan ekspor porang. Peningkatan nilai tambah dari umbi porang juga akan diupayakan dengan cara mengembangkan industri prosesing umbi porang.

Dr. Haris memegang umbi porang yang telah bertunas (kiri) dan tanaman porang (kanan) (sumber foto : Dr. Yuliantoro Baliadi)

Dr. Haris memegang umbi porang yang telah berbunga (kiri) dan tanaman porang (kanan) (sumber foto : Dr. Yuliantoro Baliadi)

Str