Berita ยป Potensi Sulawesi Selatan sebagai Pusat Benih Sumber Kedelai di Indonesia Timur

27-7-15aSistem perbenihan kedelai hingga saat ini ada dua versi yakni 1) sistem perbenihan formal dengan sistem benih bersertifikasi dan 2) non formal yang selama ini di lakukan petani yakni menggunakan benih sendiri atau tetangga yang dikenal dengan sistem Jalur Benih antar Lapang antar Musim (JABALSIM).

Produk sistem perbenihan formal seperti yang diatur dalam Permentan 55/2009 adalah untuk mengatasi kelangkaan benih kedelai yang bersertifikat, yakni dengan pemurnian pertanaman petani yang disertifikasi, hal ini dilakukan karena alur benih bersertifikat dari Breder Seed (BS), Fondation Seed (Benih Dasar), Stock Seed (Benih Pokok) dan Extention Seed (Benih Sebar) tidak dapat berjalan sebagai alur benih dari kelas ke kelas di bawahnya.

Pada tahun 2013 Permentan 55/2009 ini dihapus, dan dapat diramalkan ketersediaan benih kedelai bersertifikat menjadi masalah dan langka. Untuk mengatasi kelangkaan benih kedelai perlu di bangun model kemandirian benih di setiap provinsi penghasil kedelai melalui JABALSIM.

27-7-15bKonsep ini yang sering disebut dengan sistem perbenihan non formal sudah berjalan turun temurun. Kemandirian benih melalui JABALSIM diharapkan akan menjamin ketersediaan benih, kesesuaian varietas, kualitas benih dapat diperbaikki, karena di usahakan oleh kelompok tani sendiri.

Sebagai upaya untuk memperbaikki kualitas benih kedelai hasil dari produk JABALSIM dapat dilakukan sertifikasi. Untuk mencapai peningkatan produksi benih kedelai JABALSIM untuk mendukung terwujudnya Kedaulatan Pangan perlu kebijakan perbenihan :

  • Tingkatkan peran penangkar dan kelembagaan perbenihan,
  • Pengaturan tata niaga benih yang berpihak kepada penangkar,
  • Bantuan sarana dan prasarana untuk produksi benih,
  • Pembinaan penangkar,
  • Peningkatan peran BUMN (Pertani dan SHS) sebagai mitra penangkar.

Dukungan kebijakan untuk proses produksi benih, tataniaga benih dan kemitraan perlu di tingkatkan. Sulawesi Selatan merupakan salah satu Provinsi Penghasil kedelai terbesar di Indonesia dan mampu menyediakan benih secara mandiri dan bahkan eskpor ke provinsi lain : Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara.

Catatan khusus selama observasi dan diskusi dari pihak terkait, bahwa pengembangan benih dari varietas dan benih sumber, peran Balitbangtan sangat nyata dalam pengembangan varietas dan benih di Sulawesi Selatan. Dukungan keberhasilan lebih banyak peran dari kepedulian para petani penangkar dan kesesuaian agroekologi di Sulawesi Selatan yang mendukung.

Sulawesi Selatan mempunyai beberapa dua tipe musim dari sisi pesisir Timur dan pesisir Barat berbeda musim, sehingga secara alami Jabalsim dapat berjalan dengan baik. Pada Bulan Juli โ€“ September di daerah Timur Sopeng, Wajo, musim kedelai, panenan September/Oktober dari daerah Timur akan di tanam di Bone pada bulan Oktober โ€“ Februari dilahan kering.

Hasil panen kedelai di daerah ini akan di tanam di daerah pesisir Barat Maros, Bulukumba, Bantaeng, Pangkep pada bulan Februari โ€“ Mei/Juni hasil dari daerah ini kembali lagi di pesisir Timur pada bulan Juli. Alur Jabalsim seperti yang berlaku seperti ini sangat mendukung penyediaan benih kedelai di Sulawesi Selatan.

Produk benih kedelai dari Sulawesi Selatan selain untuk kebutuhan sendiri, juga menyebar ke provinsi lain ke Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Tengah dan Tenggara. Sistem sudah berjalan dengan baik dan yang perlu di tingkatkan adalah memantapkan jalur benih antarlapang antarmusim dilakukan melalui pembinaan dan komitmen pemerintah daerah, BBI, penangkar, stabilisasi harga yang menguntungkan petani dan jaminan pasar. Perlu ada pembagian tugas siapa yang bertanggung jawab memproduksi benih pada masing-masing kelas.

Mwt/DH