Berita » Produksi Benih Kedelai di Kecamatan Hampang dan Batu Mandi, Kalimantan Selatan

Diskusi masalah produksi benih dengan penangkar Bapak M. Murbah (kiri) dan kegiatan sortasi benih kedelai di Desa Cantung Kanan, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru (kanan)

Sebagai tindak lanjut dari “Pelatihan calon dan penangkar benih di Balitkabi” pada bulan Mei 2015 yang diikuti oleh dua orang calon atau penangkar benih, dan 1 pendamping dari 12 propinsi, maka pada tanggal 5 − 8 Oktober 2015 dilakukan monitoring terhadap peserta yang berasal dari provinsi Kalimantan Selatan (Bapak M. Hurbah, Desa Cantung Kanan, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru) dan (Bapak Syahrudin, Desa Timbun Tulang, Kecamatan Batu Mandi, Kabupaten Balangan). Pelaksanaan monitoring dilakukan oleh Ir. Trustinah, MS dan Ir. Suhartina, MS (Balitkabi) didampingi oleh peneliti dan penyuluh dari BPTP Kalsel yaitu Ir. Sumanto dan Siti Nurwaliyah S.Pt, M.Sc. 1. Produksi Benih Kedelai di Desa Cantung Kanan, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru

Pertanaman kedelai di kabupaten Kotabaru cukup luas. Daerah ini sebagian besar merupakan lahan kering, dengan pola tanam: padi gogo-kedelai, kedelai-kedelai, atau jagung-kedelai. Musim tanam kedelai yang terbaik pada bulan April. Tanam bulan Juli-Agustus sangat berisiko akibat kekeringan. Untuk kegiatan perbenihan seluas 25 ha, sebagian besar sudah panen. Pertanaman yang masih di lapang adalah varietas Grobogan seluas 1,5 ha, dengan pertumbuhan beragam karena kekeringan. Varietas yang banyak ditanam adalah Anjasmoro dan Grobogan, kemudian Dering 1. Untuk kegiatan LL ditanam varietas Anjasmoro, Grobogan, Dering 1, Argomulyo, dan Burangrang. Jumlah anggota kelompok sebanyak 15 petani. Direncanakan awal musim hujan ini akan ditanam untuk produksi benih seluas 15 ha. Hasil benih tersebut dapat memenuhi kebutuhan 500 ha untuk kecamatan Hampang, dan sisanya didistribusikan ke kecamatan lain. Kekurangan benih untuk kabupaten Kotabaru dipenuhi dari Dinas ataupun BPTP. Kegiatan perbenihan, khususnya produksi benih bersertifikat telah dilakukan sesuai prosedur yang baik, secara administrasi maupun teknis pelaksanaanya mulai kejelasan benih, penyiapan lahan, tanam, rouging, pemeliharaan, panen, hingga pascapanen. Penjemuran brangkasan pada musim hujan menggunakan para-para. Sortasi dilakukan secara manual. Pengukuran kadar air sudah menggunakan alat pengukur, sehingga disimpan pada kadar air yang sesuai. Penyimpanan dilakukan dalam wadah plastik kedap udara, rata-rata untuk 10 kg.

Diskusi masalah produksi benih dengan penangkar Bapak M. Murbah (kiri) dan kegiatan sortasi benih kedelai di Desa Cantung Kanan, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru (kanan) Kedelai biasanya dikonsumsi untuk bahan baku tempe ataupun kecambah. Untuk tempe yang disukai adalah varietas Anjasmoro dan Grobogan, karena ukuran bijinya besar dan hasil tinggi. Sedangkan untuk kecambah, varietas Dering 1 lebih disukai karena ukuran bijinya lebih kecil, tahan kering, dan umurnya lebih pendek. 2. Produksi Benih Kedelai di Desa Timbun Tulang, Kecamatan Batu Mandi, Kabupaten Balangan

Pola tanam di daerah ini adalah padi-kedelai. Padi yang digunakan adalah varietas lokal yang berumur 8 bulan dengan karakteristik tanaman tinggi (150 cm) dan tahan genangan. Kedelai ditanam sekitar bulan Juni dan panen bulan September.Kegiatan penangkaran benih kedelai sudah dilakukan selama 2 tahun. Luas pertanaman kedelai di desa ini sekitar 25 ha, dan untuk kegiatan produksi benih seluas 4 ha. Varietas yang ditanam adalah Anjasmoro. Jumlah anggota kelompok sebanyak 10 orang. Kegiatan produksi benih dilakukan bersama-sama seluruh anggota dan keluarganya secara bergantian, mulai tanam hingga panen. Benih hasil penangkaran tersebut digunakan untuk tanam di kecamatan lain pada musim penghujan. Kendala untuk produksi benih dan peningkatan luas tanam diantaranya: (1) Keterbatasan jumlah tenaga. Untuk tanam 1 ha perlu waktu 3 hari. Keterlambatan tanam akan berdampak pada masalah kekeringan dan hama serta penyakit. (2) Belum memiliki alat pengukur kadar air, sehingga pengukuran tingkat kekeringan/kadar air benih menggunakan perkiraan, (3) Tidak memiliki fasilitas untuk prosesing dan penyimpanan khusus. Benih yang telah disortir disimpan dalam wadah plastik dan dititipkan di Kebun Percobaan milik BBI di Barabai (Hulu Sungai Tengah).

Diskusi masalah produksi benih dengan penangkar Bapak Syahrudin  di Desa Timbun Tulang, Kecamatan Batu Mandi, Kabupaten Balangan.
Trustinah/Suhartina