Berita ยป Produksi Benih Kedelai Melalui Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu

Benih memiliki peran strategis sebagai sarana pembawa teknologi baru berupa keunggulan yang dimiliki varietas dengan berbagai spesifikasi keunggulan yakni: 1) daya hasil tinggi, 2) ketahanan terhadap hama dan penyakit yang mendukung sistem pola tanam dan program pengendalian hama terpadu, 3) umur genjah untuk meningkatkan indeks pertanaman dan, 4) keunggulan hasil panen sehingga sesuai dengan selera konsumen. Keunggulan tersebut ditemui pada benih sumbernya yakni Benih Penjenis (BS), Benih Dasar (FS), Benih Pokok (SS) dan Benih Sebar (ES) sebagai kelas benih bermutu. Oleh karenanya Benih Sumber harus mampu mencerminkan sekaligus menjamin tersedianya benih bermutu, yakni secara genetik murni, secara fisiologik bervigor, dan secara fisik bersih, seragam serta sehat. Percepatan penyediaan benih sumber seyogyanya tidak dilakukan dengan mengorbankan mutu yang akhirnya merusak sistem perbenihan. Badan Litbang Pertanian diberi mandat oleh Menteri Pertanian untuk memproduksi benih sumber dari BS (Breeder Seed), FS (Benih Dasar), hingga SS (Benih Pokok). Benih Dasar dan Benih Pokok yang diproduksi Badan Litbang Pertanian melalui BPTP merupakan benih sumber untuk memproduksi Benih Sebar oleh penangkar. Sasaran luas tanam untuk produksi kedelai tahun 2014 seluas 26.772 ha, produktivitas 1,489 t/ha dan produksi 37.864 ton. Untuk memenuhi target luas tanam kedelai seluas 26.772 ha diperlukan benih sebar sebanyak 1.338,6 ton dan diperlukan 67 ton benih pokok. Berkaitan dengan kebutuhan benih tersebut BPTP Yogyakarta telah memproduksi benih dasar dan benih pokok untuk memenuhi kebutuhan benih sebar tersebut.Produksi benih kedelai dilakukan melalui pendekatan teknik produksi Pengelolaan Tanaman Terpadu. Pada tanggal 13 Mei 2014 BPTP DI Yogyakarta menyelenggarakan Temu Lapang PTT dan Produksi Benih Kedelai di Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul. Temu Lapang diikuti oleh petani penangkar, ketua kelompok tani, petani, penyuluh, Dinas Pertanian DI Yogyakarta, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Gunung Kidul, BPSB, penyuluh dan peneliti BPTP Yogyakarta dengan jumlah peserta sebanyak 170 orang. Peneliti Balitkabi sebagai pendamping SLPTT Kedelai hadir Prof. Dr. Marwoto dan Dr. Yusmani Prayogo. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Gunung Kidul mengucapakan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini, lebih khusus Bantuan Badan Litbang Pertanian untuk membantu pengadaan benih sumber kedelai. Kepala BPTP Yogyakarta yang diwakili Kasi Pelayanan Teknis mengatakan bahwa tujuan panen benih sumber dan temu lapang ini adalah menginformasikan: 1) inovasi teknologi produksi kedelai melalui PTT, 2) Teknologi produksi benih sumber kedelai dan 3) mempercepat proses adopsi inovasi teknologi. Prof. Dr. Marwoto mengatakan bahwa kondisi Gunung Kidul di tinjau dari segi agroekologi lahan sangat sesui untuk memproduksi benih kedelai, karena di akhir musim hujan benih kedelai dipanen, dan hasil benih kedelai siap untuk di tanam di lahan sawah. Kondisi agroekologi yang seperti ini sangat sesuai untuk memproduksi benih kedelai melalui sistem Jalur Benih antar Lapang antar Musim. Hasil panen benih kedelai di Kabupaten Gunung Kidul akan di tanam di lahan sawah pada musim ini di Kabupaten Bantul.

Pendamping SLPTT Kedelai Balitkabi Prof. Dr. Marwoto, Dr. Yusmani Prayogo dan peneliti BPTP DI Yogyakarta Ir. Sri Wahyuni. Panen Benih Sumber kedelai FS varietas Anjasmoro.

Prof. Dr. Marwoto dan Peserta Temu Lapang PTT dan Produksi Benih Kedelai di Kabupaten Gunung Kidul. DI. Yogyakarta.
Prof. Marwoto