Berita » Program Pengembangan Agro Science Park dan Agro Techno Park

asp2

Dr. Muchlish Adie pada kesempatan rapat internal Balitkabi tanggal 12 Januari 2015 menyampaikan mengenai konsep ASP (Agro Science Park) dan ATP (Agro Techno Park). Dikemukakan bahwa arah kebijakan dan strategi peningkatan produksi bahan pangan lainnya, salah satunya adalah dengan melakukan “Pengembangan kawasan sentra produksi komoditas unggulan yang diintegrasikan dengan model pengembangan techno park dan science park, dan pasar tradisional serta terhubung dengan tol laut”.

Agro Science Park dan Agro Techno Park adalah suatu kawasan yang berfungsi untuk menerapkan berbagai jenis teknologi di bidang pertanian tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan, peternakan, perikanan, dan pengolahan hasil (pasca panen) yang telah dikaji oleh berbagai LPNK, swasta, PTN/PTS untuk diterapkan dalam skala ekonomi, serta tempat pelatihan dan pusat transfer teknologi ke masyarakat luas. Di samping itu ASP dan ATP juga bermanfaat untuk memberikan ruang aplikasi, percontohan teknologi pertanian terpadu kepada para ilmuwan serta memberikan pelatihan dan alih teknologi pertanian terpadu kepada masyarakat pada bidang: teknologi budi daya tanaman dan perbenihan (Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan), teknologi pasca panen dan pengolahan hasil, teknologi peternakan unggas dan ruminansia, serta teknologi budidaya perikanan. Lebih lanjut Dr. Muchlish Adie mengemukakan bahwa tujuan dari program ATP dan ASP ini adalah meningkatkan penerapan dan alih teknologi hasil litbang Kementerian/LPNK Ristek, swasta dan perguruan tinggi kepada masyarakat, membangun model percontohan pertanian terpadu yang mengintegrasikan: pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu siklus produksi, serta meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang terampil dan mandiri dibidang agroteknologi dan agribisnis. Dalam rangka mewujudkan ATP dan ASP yang dalam kurun waktu 2015–2019 ditargetkan terbentuk 34 ASP pada setiap provinsi dan 100 ATP pada kabupaten/kota (dimana program ini sesuai dengan Quick Wins Jokowi–JK), maka diperlukan pola koordinasi lintas pelaku ASP/ATP yaitu diawali dari wahana riset dan pengembangan, diteruskan kepada science park, techno park, dan pada akhirnya pada tingkat pertanian pedesaan. Masing-masing level diharapkan dapat memainkan peranan dan fungsinya dengan baik. Pada tahap awal yaitu tahun 2015, Kementan berencana untuk mengembangkan lima provinsi sebagai lokasi ASP yaitu propinsi Lampung, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan, dengan masing-masing provinsi dua ATP.

Dalam akhir paparannya, Dr. Muchlish Adie menyampaikan bahwa kunci dari ATP adalah memanfaatkan sumberdaya lokal, sehingga diperoleh apa yang dibutuhkan, dan dapat dikembangkan lebih lanjut.

KN