Berita » PT Agri Makmur Pertiwi Siap Produksi dan Pasarkan Benih Vima 4 dan Vima 5

Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi dan Dirut PT. Agri Makmur Pertiwi, Bapak  Junaidi Sungkono didampingi Kepala Puslitbang. Tanaman Pangan Dr. Haris Syahbuddin, DEA, Kepala BPATP Dr. Ketut Mudiarta dan Direktur Akabi Ir. Amirudin Pohan, M.S. pada penandatanganan lisensi Vima 4 dan Vima 5.di Bogor pada 12 Februari 2020

Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi dan Dirut PT. Agri Makmur Pertiwi, Bapak Junaidi Sungkono didampingi Kepala Puslitbang. Tanaman Pangan Dr. Haris Syahbuddin, DEA, Kepala BPATP Dr. Ketut Mudiarta dan Direktur Akabi Ir. Amirudin Pohan, M.S. pada penandatanganan lisensi Vima 4 dan Vima 5.di Bogor pada 12 Februari 2020

Kacang hijau varietas Vima 4 dan Vima 5 yang merupakan hasil inovasi Balitbangtan secara resmi telah memperoleh lisensi untuk diperbanyak menjadi benih dan dipasarkan oleh perusahaan benih nasional PT. Agri Makmur Pertiwi. Penandatanganan kerjasama lisensi kedua varietas kacang hijau tersebut telah dilakukan antara Balitkabi dengan PT. Agri Makmur Pertiwi pada 12 Februari 2020 di kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. Kepala Puslitbang Tanaman Pangan Dr. Haris Syahbuddin, DEA didampingi Kepala BPATP Dr. Ketut Mudiarta dan Direktur Akabi Ir. Amirudin Pohan, M.S. ikut menyaksikan penandatangan kerjasama lisensi dua varietas kacang hijau tersebut.

PT. Agri Makmur Pertiwi (PT. AMP) merupakan perusahaan nasional yang bergerak di bidang perbenihan jagung, padi, buah dan sayuran unggul. Perusahaan yang berdiri sepuluh tahun silam ini dikatakan Junaidi Sungkono selaku Dirut. PT Agri Makmur Pertiwi, tergolong masih belia dan tetap berkomitmen pada industri perbenihan mulai dari riset, produksi hingga pemasaran benih tanaman pangan dan hortikultura. Perusahaan benih ini berminat untuk mengembangkan kacang hijau varietas Vima 4 dan Vima 5 yang dirakit oleh peneliti Balitkabi (Balitbangtan). Junaidi mengatakan akan mengembangkan varietas kacang hijau Vima 4 dan Vima 5, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Disamping kebutuhan dalam negeri yang semakin meningkat, peluang ekspor kacang hijau cukup besar, sehingga memerlukan benih yang berkualitas dan jumlah yang memadai.

Permintaan kacang hijau semakin meningkat dengan berkembangnya industri olahan pangan berbasis kacang hijau, disamping sebagai menu pelengkap hidangan seperti kecambah. Pasar ekspor mensyaratkan ukuran biji yang besar, jadi tepat pilihan PT. AMP memilih Vima 4 dan Vima 5 yang mempunyai ukuran biji besar.

Kacang hijau Vima 4 memiliki potensi hasil 2,32 t/ha dengan rata-rata 1,91 t/ha, beradaptasi sangat baik terutama pada daerah optimal. Varietas ini memiliki umur panen 56 hari, masak serempak, polong tidak mudah pecah, warna polong hitam dan biji hijau mengkilap dengan ukuran biji besar (6,62g/100 butir). Selain itu varietas ini termasuk agak tahan hama thrips dan penyakit embun tepung.

Sementara itu Vima 5 memiliki potensi hasil 2,34 t/ha dengan rata-rata 1,84 t/ha, memiliki daya adaptasi baik pada daerah suboptimal, umur panen genjah (56 hari), masak serempak dan polong tidak mudah pecah, warna biji hijau kusam, ukuran biji 6,57 g/100 butir. Selain itu juga tergolong agak tahan hama thrips dan penyakit embun tepung. Keunggulan lain dari Varietas Vima 5 adalah kesesuaian untuk dibuat kecambah, karena dari 1 kg biji mampu menghasilkan kecambah sebanyak 5,16 kg. Karakteristik pembeda dengan varietas yang lain adalah warna hipokotilnya ungu dengan warna polong coklat.

Disampaikan juga oleh Junaidi pemilihan kedua varietas tersebut agar dapat saling melengkapi sesuai preferensi pasar yang menginginkan kacang hijau dengan warna kulit yang kusam maupun yang mengkilat. Perusahaan yang memiliki pabrik benih dan lahan penelitian di Kediri dan Malang pada berbagai ketinggian tempat (dataran rendah, sedang hingga tinggi) ini optimis dapat memproduksi dan memasarkan benih kacang hijau. Di tahap awal, kami akan belajar bagaimana memproduksi benih yang baik, mempelajari musim juga mempelajari kapasitas penyerapan pasar” kata Junaidi dalam sambutannya. Dengan didukung oleh sekitar 200 tim pemasaran di seluruh Indonesia pihaknya yakin dapat mengembangkan kacang hijau di kawasan Indonesia.

Sementara itu, Direktur Aneka Kacang dan Umbi Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Ir Amirudin Pohan, M.S. menyambut baik perjanjian lisensi ini. Pihaknya merupakan Dirjen teknis yang bertugas menyiapkan produksi tanaman aneka kacang dan umbi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Semakin tahun kebutuhan tanaman pangan termasuk aneka kacang dan umbi semakin meningkat. Kebutuhan kacang hijau semakin meningkat disamping kacang tanah. “Kami menyiapkan produksi baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor. Untuk memenuhi kebutuhan kacang hijau di tahun 2020, kita membutuhkan luas tanam 167.000 ha. Karena kebutuhannya terus meningkat hingga lima tahun, maka pada tahun 2024 diperkirakan kebutuhan luas tanam mencapai 200 ribu ha. Amirudin menyampaikan kekhwatirannya terkait ketersediaan benih, sehingga kerjasama ini diharapkan dapat memberikan solusi untuk menyediakan benih tepat mutu maupun jumlah kepada petani.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbang Tanaman Pangan), Dr Haris Syahbuddin, DEA sangat mengapresiasi kerjasama dengan perusahaan swasta ini. Inilah model kerjasama triple helix, kerjasama antara lembaga penelitian, pemerintah yang memiliki wewenang mengembangkan program, dan swasta yang bersedia memproduksi benih. Menurut Haris, dengan model ini inovasi dan teknologi pertanian dapat berkembang lebih cepat. Kepala Puslitbang Tanaman Pangan itu berharap pengembangan tanaman kacang hijau tidak hanya mengandalkan program kementerian pertanian saja, tetapi dibuka seluas-luasnya bagi lembaga, perusahaan, koperasi baik kecil, sedang, menengah, maupun besar untuk mengambil lisensi produk litbang pertanian. Contohnya dalam pengembangan varietas tanaman pangan menjadi tugas bersama, sehingga model lisensi oleh swasta menjadikan adopsi inovasi dan teknologi pertanian bisa lebih cepat dan luas cakupannya.

Kacang hijau varietas Vima 4 dan Vima 5 yang rakit oleh peneliti Balitkabi, bukan varietas hibrida sehingga terbuka luas bagi swasta pemegang lisensi untuk mengembangkan benihnya. Balitkabi juga tetap bertanggung jawab dalam quality control dan pengembangan varietas-varietas unggul baru maupun perbaikan-perbaikan karakter varietas, demikian disampaikan Haris. Lebih lanjut dikatakan semoga nanti para penelitipun akan mendapatkan royalti dari pengembangan varietas-varietas tanaman pangan. Karena di dalam pengembangan varietas tersebut tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan layanan publik terutama para pelaku usaha tani, tetapi terdapat unsur bisnis di sana. Bahkan lanjut Haris, pengembangan komoditas tanaman pangan tidak hanya melibatkan pengusaha-pengusaha di dalam negeri, namun mulai diminati oleh investor-investor dari luar negeri. Para investor asing tidak hanya membidik pasar dalam negeri mereka, namun juga untuk pasar ekspor. Ke depan permintaan terhadap varietas unggul tanaman pangan akan semakin besar. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para peneliti. Kita semua harus menyambutnya,” pungkasnya mengakhiri sambutan.

Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi berjabat tangan dengan Dirut PT. Agri Makmur Pertiwi bapak  Junaidi Sungkono setelah penandatanganan lisensi Vima 4 dan Vima 5.

Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi berjabat tangan dengan Dirut PT. Agri Makmur Pertiwi bapak Junaidi Sungkono setelah penandatanganan lisensi Vima 4 dan Vima 5.

RDP/YB