Berita » Rakernas Pembangunan Pertanian 2013

Sektor pertanian tetap berperan penting dalam pembangunan suatu negara. Sebagai upaya untuk mempercepat pembangunan pertanian nasional, dilakukan Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian, 16–17 Januari 2013 di Auditorium Kementerian Pertanian. Rakernas bertema “Jadikan Tahun 2013 sebagai Tahun Kerja Keras, Kerja Cerdas dan Kerja Tuntas dalam Rangka Pencapaian Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pembangunan Pertanian”, diikuti oleh 650 peserta berasal dari jajaran pusat dan daerah, termasuk Kepala Balitkabi. Rakernas membahas isu aktual nasional terkait pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan; melakukan review program dan kegiatan pembangunan pertanian tahun 2012; melakukan percepatan program dan kegiatan pembangunan pertanian 2013; serta melakukan persiapan perencanaan program dan kegiatan pembangunan pertanian tahun 2014. Penyampaian materi Rakernas oleh seluruh jajaran Eselon I, termasuk Badan Litbang Pertanian dengan topik Percepatan pelaksanaan program penciptaan teknologi dan varietas unggul berdaya saing tahun 2013.

Menteri Pertanian menyampaikan bahwa Rakernas selalu dilakukan pada awal tahun, yang selalu difokuskan kepada evaluasi kinerja 2012 serta langkah perbaikan serta percepatan 2013 yang agar sasaran yang telah ditargetkan lebih terjamin. Berbagai indikator capaian, membuktikan bahwa kinerja Kementan 2012 lebih baik dibandingkan dengan 2011, diantaranya PDB menjadi 14,20% (meningkat dibandingkan 2011 sebesar 2,95%), NTP (nilai tukar petani) meningkat dari 104,58 tahun 2011 menjadi 105,76 pada tahun 2012. Produksi tanaman pangan meningkat kecuali kedelai.

Jajaran Kementan diminta tetap bekerja keras, khususnya untuk peningkatan produksi kedelai 2013 yang ditargetkan mencapai 1,50 juta ton. Penyebab tidak tercapainya target produksi kedelai adalah: (1) perluasan areal belum berjalan dan (2) budidaya kedelai secara ekonomis kalah bersaing dengan tanaman lain. Dari aspek serapan anggaran, juga terjadi peningkatan menjadi 92,86%, masih berada dalam on the right track, urai Bapak Suswono. Dimintakan kembali agar jajaran Kementan benar-benar menguasai lapangan dan memahami kesulitan petani dan segera dibantu. Apalagi tahun 2013 merupakan tahun keempat Renstra 2010 – 2014, benar-benar harus lari cepat dan perbaiki apa yang kurang dan jangan mengulang kesalahan. Khusus kedelai juga diberikan tekanan kepada tujuh kepala daerah sentra kedelai untuk memberikan prioritas tinggi kepada komoditas kedelai. Kedelai sudah dibangkitkan dari Aceh Timur, kembangkan dan bangkitkan juga di daerah lain.

Rakernas dibuka secara resmi oleh Bapak Hatta Rajasa, Menko Bidang Perekonomian, setelah memberikan arahan kepada peserta Rakernas. Diawali dengan perhargaan kepada jajaran Kemtan atas prestasinya selama tahun 2012 dan Rakernas ini dinilai sebagai agenda penting untuk memantapkan capaian dibidang pertanian, sebagai pilar penting pembangunan ekonomi Indonesia. Ditekankan diawal arahannya agar kita jangan tergoda tahun 2013 sebagai tahun politik, jajaran Kementan tetap menetapkan 2013 sebagai tahun bekerja keras.

Dokumen Pembangunan Pertanian jangka panjang melalui kerangka MP3EI menetapkan 22 sektor dan 9 sektor utama berkaitan langsung dengan pangan. Karenanya pembangunan sektor pertanian menjadi basis perekonomian. Diingatkan berkali-kali oleh Menko Perekonomian bahwa basis pembangunan adalah sektor pertanian, bangsa yang kuat adalah bangsa yang mandiri pangan. Banyak pendapat yang kurang tepat, karena harga murah disarankan impor pangan, nonsense, bangsa yang maju membuktikan mampu berdaulat pangannya. Analisis kesalahan negara dalam pembangunan bertumpu pada tiga hal yaitu: (1) lalai atau lamban membangun infrastruktur, (2) tidak membangun kemandirian pangan, dan (3) gagal memberikan social protection. Disampaikan juga tiga faktor pembentuk pertumbuhan yaitu (2) APBN 2013 lebih ekspansif dibandingkan 2012, sektor pertanian menjadi tugas berbagai kementerian, bukan hanya tanggungjawab Kementan sendirian, (2) daya beli masyarakat, kemampuan menekan inflasi karena sumbangan tidak terjadi volatile food, ini peran penting pertanian, (3) Impor-ekspor, tantangan pangan lebih beragam, contoh meningkatnya masyarakat kelas menengah mengubah pola makan, karenanya harus bijak mengelola impor, (4) investasi, jangan menggunakan penguatan hilirisasi dengan komponen impor. Pada akhir arahannya Kemenko Perekonomian, menekankan sekali lagi bahwa kemandirian pangan adalah kunci menjadi negara maju, pangan jangan tergantung pada negara lain.

Penyemangat bagi jajaran Kementan. Kerja keras, Kerja cerdas, Kerja tuntas.