Berita » Regional Cassava Research Symposium di Pematang Siantar

Pembukaan Simposium

Pembukaan Simposium

ACIAR untuk kedua kalinya menyelenggarakan simposium kerjasama penelitian ubi kayu yang melibatkan Indonesia, Cambodia, Laos, Vietnam, dan Myanmar. Simposium pertama diselenggarakan di Laos pada tahun 2018. Tahun 2019 ini simposium kembali digelar di Sumatera Utara, Indonesia, tepatnya di kota Pematang Siantar selama lima hari yaitu tanggal 1 – 5 Juli 2019. Simposium “ACIAR Cassava Value Chain and Livelihood Research Program” bertujuan untuk melaporkan kemajuan dan mereview kegiatan penelitian ubi kayu di masing-masing Negara. Kegiatan penelitian ubi kayu ini didanai oleh ACIAR Australia dengan menggandeng University of Queensland dan CIAT. Acara dihadiri sekitar 55 orang dari pihak ACIAR, Queensland University, Balitbangtan (Balitkabi dan BPTP Sumatera Utara), Universitas Brawijaya, swasta/industri (Indonesia, Laos, Vietnam), dan perwakilan dari masing-masing Negara yang terlibat dalam kerjasama penelitian ini yaitu Indonesia, Vietnam, Laos, Cambodia, serta Myanmar.
Saat pembukaan simposium disampaikan beberapa sambutan yaitu Project Leader Dr. Dominic Smith, Dekan Faperta Universitas Brawijaya Dr. Ir. Damanhuri, M.S., Kepala Balitbangtan yang diwakili oleh Dr. Siti Maryam dari BPTP Sumut, dan Howard Hall dari ACIAR. Selaku Project Leader, Dominic menyampaikan penghargaan atas kerja keras yang telah dilakukan selama ini hingga kegiatan penelitian berjalan lancar di semua Negara yang terlibat dan mulai dirasakan manfaatnya.
Menginjak acara inti dipaparkan “Cassava Policies and Priorities in Indonesia” yang disampaikan oleh Dr. Kartika Noerwijati mewakili Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Dikemukakan bahwa ubi kayu di Indonesia saat ini belum menjadi komoditas prioritas nasional. Perhatian pemerintah masih terfokus pada komoditas padi, jagung, kedelai, bawang putih, daging, gula, cabai merah, kopi, coklat, kelapa sawit, dan karet. Namun demikian pemerintah telah menempatkan komoditas ubi kayu sebagai bahan pangan keempat setelah padi, jagung, dan kedelai. Untuk memacu pertumbuhan produksi pangan dan meningkatkan pendapatan petani, pemerintah telah menetapkan kebijakan pengembangan kawasan pangan termasuk ubi kayu. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Pertanian menetapkan kawasan pengembangan ubi kayu di 70 kabupaten/kota di 18 provinsi. Komoditas ubi kayu memiliki potensi besar sebagai penyangga pangan di Indonesia selain beras dan jagung, apalagi Indonesia telah menargetkan menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045. Sudah pasti tanaman ubi kayu dan komoditas aneka umbi lainnya akan berperan besar.
Perwakilan masing-masing Negara menyampaikan perkembangan hasil penelitian yang telah dilakukan selama ini. Dari Indonesia disampaikan lima materi yaitu 1) Fertilization of cassava in North Sumatra oleh Ir. Yudi Widodo, M.S., 2) The result of adoption of Malang 4 variety in North Sumatra oleh Dr. Kartika Noerwijati, 3) Increasing the role of chain actor for cassava development in North Sumatra oleh Ir. Ruly Krisdiana, 4) Agronomic activity in East Nusa Tenggara oleh Erwin Ismu Wisnubroto, M.Sc., dan 5) Increasing the role of chain actor for cassava development in East Nusa Tenggara oleh Dr. Suhartini.

Presentasi perkembangan penelitian ubi kayu di Indonesia oleh Ir. Yudi Widodo, M.S. (kiri), Dr. Kartika Noerwijati (tengah), dan Ir. Ruly Krisdiana, M.S. (kanan).

Presentasi perkembangan penelitian ubi kayu di Indonesia oleh Ir. Yudi Widodo, M.S. (kiri), Dr. Kartika Noerwijati (tengah), dan Ir. Ruly Krisdiana, M.S. (kanan).

Forum diskusi berlangsung sangat menarik. Rod Lefroy dari ACIAR menyatakan bahwa ke depan rekomendasi pemupukan untuk meningkatkan hasil ubi kayu akan tetap menjadi isu penting di Negara-negara penghasil ubi kayu. Di samping itu, adanya serangan penyakit CMD (Cassava Mosaic Disease) perlu dilakukan upaya untuk mengatasi salah satunya menggunakan Marker Assisted Selection (MAS). Indonesia perlu ekstra hati-hati dengan penyakit CMD ini, karena penyakit ini belum ada di Indonesia dan perlu upaya pencegahan.
Dengan adanya simposium ini, diharapkan peran pemerintah dalam pengembangan ubi kayu akan semakin besar, mengingat ubi kayu memiliki potensi yang sangat luar biasa.

Foto bersama para peserta Regional Cassava Research Symposium.

Foto bersama para peserta Regional Cassava Research Symposium.

KN/RK/YW